je t'aimeMalam itu adalah malam laknat bagiku, hidupku, dan mungkin masa depanku. Dua lilin yang romantis dengan remang cahaya romansa di relung hati mengiringi makan malamku berdua, sekembali Henri bertugas dari Paris. Aku mengenakan gelang bertuliskan “Paris, Je t’aime” di tangan kananku sebagai oleh-oleh darinya. Mungkin aku terlalu bodoh untuk tak memahami tulisan dengan ornamentasi menara Eifel itu. Henri terlihat makin segar sekembali dari tugasnya di luar negeri ini, dan kehadirannya setelah tiga bulan dipisahkan jarak geografis yang jauh luar biasa dan hanya sesekali berbumbu pesan singkat SMS atau wall-to-wall communication Facebook membuat malam ini semestinya tak mungkin menjadi malam jahanam bagi hidupku. Pertemuan setelah sekian lama berpisah dengan suamiku tercinta, adalah anugerah kebahagiaan yang luar biasa bagiku.

Usai hidangan malam di rumah makan yang sama ketika setahun lalu ia untuk pertama menatap mataku lekat-lekat dan akhirnya membuat kami sadar bahwa sudah saatnya untuk mengakhiri masa berpacaran, ia memegang jemari tangan kananku. Goncangan itu semua dimulai dengan sebuah perkataan maaf yang pada awalnya agak mengherankanku dan tak jua aku tersadar bahwa dunia akan berbalik seratus delapan puluh derajat dalam beberapa menit.

“Maaf, Rin, …aku tak bisa tak memohon maaf darimu…”
Aku memandangnya, aku masih sempat tersipu bodoh dengan berkata, “…iya, Sayang, nggak apa-apa, kita baru menikah setahun dan kamu sudah mesti bertugas jauh dariku…. yang penting sekarang ‘kan kita sudah bersama lagi…”

Matanya menerawang ke atas, seolah kejantanannya hilang dengan titik air mata yang ingin membanjir.

“…bukan…,” ia terbata-bata.
“…maaf kalau aku harus mengatakan bahwa…” Sulit benar sepertinya Henri ingin mengungkapkan sesuatu yang tak terjelaskan. Kegusaranku terungkap dengan bertanya dengan suara paling lembut yang mungkin terucap dari mulutku, “….apa, Sayang?”

Ia masih terbata-bata, hingga dengan tanpa melihat ke arahku sedikitpun berkata, “…aku mencintai seseorang yang lain di masa lalu….”

Hening.

“…aku tak mengira akan pernah bertemu dengannya lagi….”
Nafasku mulai menderu.
“…dan entah bagaimana kami bertemu di hotel tempat aku menginap…”
Ia terdiam.

“…terus?” aku sendiri sudah mendengar getaran dalam pertanyaanku.

“…terus…Rini…. aku… masih mencintainya….”

marriageAdegan dalam episode itu diakhiri dengan berbagai lontaran makian dengan bumbu air mata penyesalan yang luar biasa, yang akhirnya meresmikan kelaknatan malam itu dalam perjalanan hidupku. Habis sudah. Aku tak bisa paham bagaimana kami bisa bermesraan dan membangun romantisme selama dua tahun berpacaran, naik ke level yang melibatkan altar pernikahan, hingga kandas seperti sekarang ini. Aku tak tahu apa yang mesti kuperbuat. Ini bukan pacaran di mana persoalan cinta dan tidak cinta dapat diakhiri dengan perkataan “putus”. Ini pernikahan!

Dunia mungkin tak melihat bagaimana jurang antara aku dan Henri makin lebar tiap hari. Malam-malamku selalu dipenuhi do’a. Aku tak tahu mesti bicara ke siapa. Sulit sekali untuk mengungkapkan ini ke ayah dan ibuku. Aku sering dihantui mimpi buruk. Sementara Henri semakin jarang pulang, menurut temannya ia menginap di kantor. Aku masih berusaha mengirim pesan singkat padanya. Aku seolah menjadi seorang pengemis cinta yang luar biasa hina. Aku tak mau bahtera pernikahan ini kandas. Bagiku cinta atau tidak cinta telah berganti menjadi sebuah komitmen ketika layar pernikahan telah dikibarkan. Namun Henri tak bisa goyah. Bagiku dia adalah orang yang benar-benar telah dirasuki setan. Janji pernikahan yang diikrarkannya di hadapan Tuhan telah dirusaknya dengan perselingkuhan. Tuhan pun tak akan memaafkannya, apalagi aku. Melihat fotonya seperti melihat iblis yang menjadi bala dan cobaan dalam perjalanan hidupku yang kelam. Aku mohon ampun pada Yang Maha Kuasa, aku berulang kali datang ke bilik pengakuan dosa untuk memohon ampun. Ucapan dan do’a pastor tak cukup sekali untuk mengobati luka hatiku yang telah disayat-sayat oleh setan nafsu suamiku yang sayangnya, masih berusaha untuk kumaafkan dan kucintai.

Tapi tak mungkin sepertinya memaafkan dosa Henri. Aku pindah. Aku tinggal di rumah orang tuaku kini. Sudah setahun aku tak mendengar kabar dari Henri. SMS, e-mail, surat, dan apapun upaya komunikasi dariku tak pernah berbalas. Ia seolah tenggelam dalam lautan neraka oleh setan yang menguasai dirinya.

Di tanganku saat ini kugenggam akta perceraian yang telah ditandatangani olehnya. Hidupku terasa kelam. Aku keluyuran ke sana kemari bersama keluarga yang berusaha memberi penghiburan buatku, dan ketika saat sendiri tiba, air mataku tak kunjung berhenti…

****

Aku tergopoh-gopoh pagi itu karena terlambat bangun. Betapa tidak, semalam suntuk aku chat di internet dengan Rini, isteriku yang seminggu sudah kutinggal di Indonesia, dalam tugas training perusahaanku yang memaksaku tinggal di negeri orang. Sorenya Indonesia adalah larut di Paris. Meski terkadang terasa kurang nyambung ngobrol dengan Rini, aku menyayanginya, dan aku tahu kepergianku ini bisa melahirkan beribu kangen baginya.

Sekeluar dari lift, aku berjalan menuju lobby hotel, menunggu jemputan ke kantor perwakilan perusahaanku di Perancis. Kuletakkan tasku, dan duduk di sofa itu. Saat itulah sebuah degup jantung yang telah sangat lama tak kurasakan, sekonyong-konyong muncul. Sumber degup irasional itu adalah seorang wanita yang duduk tak jauh dariku, dan sedari tadi sepertinya memang memperhatikanku, mungkin karena aku satu-satunya manusia non-kaukasoid di lobby hotel yang besar itu.

Pertemuan dengan Lisa, setelah hampir sepuluh tahun tak pernah bertemu dengannya semenjak kami dinyatakan sudah tak berstatus mahasiswa lagi terjadi, memberi degup jantung yang pernah ada satu dekade sebelumnya. Tak sampai lima menit aku duduk di sofa itu, sebuah kekuatan magis memaksaku kembali berdiri, dan mendekati Lisa, teman kuliahku ketika mahasiswa dulu, dan sebuah episode perkenalan kembali pun terjadi.

Pertemuan ini adalah pertemuan yang akhirnya berlanjut dengan pertemuan sebelum dan seusai training selama aku di kota cinta, Paris ini. Dari pertemuan-pertemuan itu, aku ketahui ia baru menyelesaikan studinya di negeri orang ini, dan sedang mempertimbangkan niat untuk bekerja di sini atau kembali ke tanah air. Dari pertemuan-pertemuan itu pula aku sadar bahwa aku tak pernah berhenti mencintai perempuan yang belum pernah mengetahui perasaan cintaku pada dirinya bahkan sejak dulu. Ia bercerita tentang dirinya yang sering dikhianati oleh cinta dan terkadang sudah sangat apatis akan perasaan purba antar dua sejoli manusia itu.

“…duh, Lisa…. kamu itu layak mendapat cinta dari orang yang benar-benar tulus mencintai dirimu!”, kataku di sela-sela ngobrol kami sambil minum kopi di kafe Yves, tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Sambil tertawa dia merespon, “….bagaimana memang lelaki yang benar-benar mencintai aku itu?”.

“…Ya, seseorang yang sangat menyayangimu, sehingga bahkan tiap hari ia akan sangat bersyukur bahwa ia bersama denganmu,” kataku sekenanya, “….seseorang yang tak pernah bosan melihat wajahmu, seseorang yang bisa melupakan kegetiran dan kerasnya hidup ini, hanya dengan menghabiskan kebersamaan dengamu, ….seseorang yang merasa dirimu adalah anugerah terindah dari Tuhan bagi hidupnya….” Lisa tertawa-tawa, “….aduh kamu ini, memang ada yang jatuh cinta seperti itu banget?”.

Aku juga jadi tertawa, sebuah respon dariku, “….ya, Lisa, ….dan sialnya buatku, aku pernah dan celakanya mungkin masih punya perasaan serupa itu padamu….,” tiba-tiba membuat kami berdua sontak hening. Sebuah pengakuan spontan dari mulutku yang tulus dan tak akan pernah kusesali karena bagiku itu adalah kejujuran yang sejujurnya. Kalimatku itulah yang tiba-tiba menguak banyak memori lama di benakku dan juga bagi Lisa tentang kebersamaan sepuluh tahun lalu yang singkat namun sangat berkesan. Aku sadar bahwa saat itu, sebenarnya perasaanku pada Lisa tidak bertepuk sebelah tangan. Sepuluh tahun yang lalu, ia menantiku sementara aku menunggu saat yang tepat untuk mengungkap perasaanku padanya.

Memori hanya bisa membesar ketika korelasi meningkat. Kehangatan-kehangatan ketika masa mahasiswa dulu menghangatkan hari-hari kami berdua selama di Paris setelah itu. Waktu berjalan menjadi terasa begitu cepat dan tak terasa aku telah menyelesaikan training-ku di kota yang indah itu.

Saat itu Lisa juga memutuskan untuk ikut kembali ke Indonesia, kami satu pesawat dan duduk bersebelahan bak pasangan remaja yang dimabuk asmara. Kami tahu bahwa cinta kami berdua sejati, namun tahu pula status pernikahanku dengan Rini membuat perasaan kami ini merupakan hal yang terlarang. Sesampai di Jakarta, aku tak langsung pulang. Aku masih ingin menghabiskan satu malam lagi bersama Lisa.

Semenjak itulah mungkin aku menjadi agak merasa dingin dengan Rini. Banyak gejolak dan debur ombak di dalam pikiranku semenjak pertemuan dan ungkapan perasaan cintaku yang berterima pada Lisa. Aku tahu bahwa cintaku pada Lisa adalah cinta yang tulus dan sejati, yang tak bisa lekang oleh waktu, tempat, dan apapun yang bersifat fisis. Namun fakta bahwa aku telah mengucap janji di altar untuk sehidup-semati dengan Rini benar-benar menempatkan diriku berada pada posisi melawan seluruh dunia. Beberapa kali aku mendiskusikan hal ini dengan Lisa, dan ia tak pernah sekalipun memberi jawaban verbal. Ia menggenggam tanganku dengan keras, dan keheningan pun diiringi tetesan air matanya, yang membuatku tak tahu harus berkata apa lagi.

Hasrat cintaku pada Lisa adalah sebuah resonan di dalam diriku sehingga air matanya merupakan sakit yang mendalam dan memberi sesak di dadaku; sebuah perasaan yang tak pernah aku rasakan semenjak kelahiranku ke muka bumi, bahkan dengan Rini sekalipun. Aku tak pernah bisa lagi mengungkap problematika yang kuhadapi itu pada Lisa. Ketakpastian hubunganku dengan Lisa akhirnya menjadi sebuah kenyataan, dan kami berdua seperti dua orang yang seolah menjadi manusia yang hanya hidup untuk hari ini, karena esok kemungkinan dunia melarang kita untuk menjalin kasih.

Hingga suatu sore, wangi bunga cinta yang kusimpan rapat-rapat itu tercium juga oleh Rini. Pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi. Ya, sebenarnya mungkin bukan pertengkaran, karena komunikasi verbal didominasi oleh Rini, mulai dari amarah, teriakan, isak tangis, hingga ungkapan menyumpahi diri sendiri dan memohon diriku untuk mencoba mencintai dirinya. Tapi bagiku dusta adalah hal terburuk yang bisa dilakukan oleh manusia. Aku tak mau hidup dalam dusta, dan hanya dengan mengucapkan hal yang sejujurnyalah manusia itu dapat tetap menjadi bebas.

“….apakah kau benar-benar mencintainya, Henri?”
“….ya, Rini…”
“….tidakkah kau punya perasaan sedikit saja cinta untukku yang bisa dipupuk demi mempertahankan cita cinta kita dalam membangun hidup bersama sebagaimana yang pernah kita ikrarkan?”
“….maaf, Rini, ….tidak!”

Tak bisa aku berbohong. Dan bagiku hidup manusia itu terlalu singkat jika mesti dikotori oleh satu hal kecil saja yang bernilai kebohongan. Jika kata-kata saja dari seorang lelaki tak lagi bisa dipegang kebenarannya, maka apa lagi hal lain yang bisa dipercaya dari diri lelaki tersebut?

Dan apalagi hal ini terkait cinta. Rini bisa memintaku untuk mempertahankan ikrar hidup keluarga antara aku dan dirinya, tapi siapapun tak bisa memintaku untuk membuatku menyangkal perasaan cintaku pada Lisa dan berpura-pura mencintai Rini. Aku tahu, bahkan Tuhan pun tak ingin hal itu, karena Tuhan adalah absolutisme dalam hal kejujuran dan kebenaran.

twosKami tahu bahwa hubungan kami telah mengkhianati sebuah ikrar yang kuungkap di hadapan-Nya. Tetapi aku juga tahu pasti, ini adalah sebuah tantangan bagi diriku untuk berdiri tegak mengungkap kesejatian cinta.

Hingga sore ini. Aku akhirnya menandatangani surat gugatan cerai dengan Rini untuk segera diproses di pengadilan. Bagiku, pernikahanku dengan Rini mungkin adalah sebuah kesalahan dalam hidup yang tak mungkin dapat diubah karena panah waktu berjalan ke satu arah saja dalam realitas hidup. Tetapi tanda tanganku pada surat itu bagiku merupakan isyarat bahwa aku berjalan dengan kepala tegak dan kukuh. Bagiku, apapun layak dikorbankan demi guratan kebenaran. kejujuran, keikhlasan, dan kesejatian. Tak ada norma, aturan, hukum, atau apapun dalam relief kehidupan manusia yang boleh menyangkal hal itu, termasuk kegagalan pernikahanku dengan Rini.

Apalah arti hidup, tanpa beberapa kesalahan kecil…

Bandung, 7 Maret 2009

Comments are closed.