
Malam itu malam biasa. Aku bersepeda hendak pulang. Benar-benar tak ada yang istimewa malam itu. Jantungku pelan-pelan berdetak makin kencang mengiringi metabolisme yang menumpukkan asam laktat di sela-sela ototku mengayuh sepeda. Semilir angin menerpa. Hampir dini hari malam ini. Semua biasa saja, hingga punggungku diterpa sebuah lampu sorot jauh sebuah mobil di belakangku. Entah insting apa yang ditinggalkan nenek moyang spesies manusia, secara ritmik aku mengayuh sepeda lebih cepat, padahal sudah jelas mobil jenis apapun akan segera mendahului kayuhan sepedaku.
Ada sedikit rasa takut hinggap. Tapi aku tak bisa paham, apa dan darimana datangnya rasa takut itu. Rasa takut yang makin lama makin kuat ketika sudah lebih dari lima menit, mobil di belakangku itu tak juga mendahului. Lampunya terus saja menerangi jalan yang kulalui. Insting peninggalan evolusi itu terus saja menjadi sinyal-sinyal isyarat bagi kedua kakiku untuk mengayuh lebih cepat. Rasa takut makin kuat. Aku mengingat-ingat dan berfikir keras, siapa dan apa yang paling mungkin mengikutiku dari belakang ini.
Kayuhan makin cepat, sementara sudah lebih dari lima belas menit mobil itu terus saja dengan kecepatan lambat ada di belakangku. Aku membelok, dan ia ikut membelok. Terus saja. Dari beberapa kelokan kemudian, sudah bisa kupastikan, orang di belakangku ini adalah orang yang memang mengikutiku.
Aku makin menggila mengayuh. Tujuanku masih dua kilometer lagi. Aku mengingat-ingat di tengah peluh yang sudah membasahi wajah, bukan karena lelah mengayuh, tapi lebih karena hinggapan rasa takut yang makin lama makin kuat. Aku ketakutan luar biasa. Seingatku, aku tak punya konflik apapun dengan siapapun belakangan ini. Ini benar-benar absurd!
Tiba-tiba mobil itu menderu, makin lama makin keras dan sudah tentu sudah akan sangat dekat. Aku tak berani berpaling untuk melihat ke belakang. Aku terus saja mengayuh lebih dekat. Rasa pegal mulai hinggap di kakiku.
Beberapa skenario yang menjurus ke arah pembunuhan terencana pun bermunculan di kepalaku. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan hubunganku dengan Susi? Ia adalah perempuan penjaga loket bioskop yang sering kugoda beberapa kali. Entah mengapa memang aku suka sekali menggodanya karena tampangnya yang lucu dan imut. Tapi Susi sudah pula menceritakan padaku bahwa ia sudah bertunangan dengan seseorang. Aku tak pernah tahu ia sudah bertunangan dengan siapa. Tapi aku bisa saja pengemudi mobil itu adalah tunangan Susi yang marah karena aku sering menggoda pasangannya. Apalagi interaksiku terakhir dengan Susi adalah dengan mengajakkan nonton midnight karena hanya aku penonton bioskop malam itu. Di bioskop beberapa adegan antara aku dan Susi pun terjadi paralel dengan sandiwara yang memang bagian dari plot film yang diputar. Aku tak pernah menyangka akan berakhir karena kekonyolan dan nafsu bodohku ini. Duh, ini membuatku makin takut…
Sepeda masih saja terus melaju. Aku makin takut. Jantungku terus saja. Tetapi aku juga teringat dengan seorang yang juga pernah kubuat kesal karena perilaku menjengkelkan dan keisenganku. Ramlan, praktikan yang ada dalam kelas asistensiku di laboratorium. Entah mengapa memang sejak melihat wajahnya aku tak suka dengannya. Selama praktikum berlangsung ia seolah sangat tidak memperhatikan banyak detail yang semestinya diperhatikan seorang praktikan. Sore itu ia kuberi banyak tugas setelah serangkaian bentakan bak sidang di ruang asistensi. Aku sangat marah padanya karena setiap kali aku tanyai ia selalu menjawab singkat dan ketus. Hampir saja ia kutampar waktu ia berkata, “…ah… terserah Mas deh…! mau lulus kek, mau apa kek…”. Saat itu juga aku goreskan huruf “E” di lembar penilaiannya, tapi tidak memberitahukan bahwa aku sudah tak meluluskannya. Aku suruh ia datang beberapa hari kemudian untuk tetap menyerahkan tugas, padahal nilai sudah kumasukkan ke administrasi, dan ia tidak lulus. Mungkinkah ini adalah Ramlan? Aku banyak mendengar memang mahasiswa angkatan di bawahku kebanyakan berasal dari keluarga dengan ekonomi berada. Mungkin Ramlan ingin membalas dendam setelah tahu bahwa aku sudah mengecohnya. Sepedaku makin ngebut saja, dan mobil itu terus saja mengikuti dari belakang.
Melewati lapangan ini, aku akan segera sampai ke rumah. Ini sudah dini hari, dan bisa juga pengemudi mobil ini bermotif perampokan. Aku banyak mendengar cerita-cerita orang yang dirampok ketika pulang sendirian malam hari. Aku tak tahu. Ekonomi memang memburuk. Krisis sepertinya tak henti-henti menekan masyarakat yang makin individualistik. Aku ketakutan. Aku tak pernah bisa menyangka akan menjadi satu korban perampokan. Tapi bagiku ini sungguh aneh. Mengapa ia tak segera saja menghentikanku. Mobil itu sudah belasan menit ada di belakangku. Aduh…
Aku tiba di dekat lapangan yang tinggal satu belokan ke tempat aku mengontrak. Aku mengayuh lebih cepat, dan mungkin perasaan aman membuat ada sedikit keberanian yang memunculkan rasa ingin tahu dan keinginan untuk berpaling ke belakang. Sekonyong-konyong, aku tiba-tiba menolehkan kepalaku ke belakang. Dan mobil itu secara simultan tiba-tiba pula mempercepat lajunya, dan tanpa tedeng aling-aling, langsung menabrakkan mobilnya ke sepedaku dari belakang. Aku terlempar hingga ke belakang, dan mobil itu melaju terus.
Sulit aku bernafas. Dadaku sakit, kakiku tak bergeming. Sudah dini hari dan tak ada yang akan dapat menolongku. Aku sudah tidak tahu apa-apa lagi setelah itu…
***
Subuh ini, sirene polisi meraung-raung lebih dulu dari adzan subuh. Garis kuning dihempangkan menandai Tempat Kejadian Perkara. Seorang lelaki terkulai beberapa meter dari sepedanya yang ringsek. Jelas ia ditabrak oleh sebuah mobil yang berhenti sekitar dua puluh meter dari mayat terbujur kaku itu. Lelaki itu masih sangat muda. Pengemudi itu pun masih juga muda. Perempuan yang sesenggukan dan kepalanya terbenam di tangannya yang memeluk roda setir mobil.
Tapi polisi tak bisa memenjara wanita itu dan menyeretnya ke pengadilan. Perempuan itu seorang delusional yang mengaku melihat muka tak berwajah bersepeda tatkala ia mengemudi mobil malam hari. Ia adalah seorang pasien rumah sakit jiwa yang lari dari perawatan dan sudah lama dicari-cari oleh pihak rumah sakit. Ia mencari ayahnya yang mungkin menjadi sumber ketergantungannya pada obat dan menjadi sumber ketakbecusan aliran sinyal-sinyal elektrik di sistem syarafnya.
Ayah perempuan tersebut, duda muda yang bergelimang harta dan membutuhkan penyaluran dan likuiditas uang dan libido sekaligus, malam ini tengah berada di luar kota. Ia sedang berada di dalam hotel bersama sekretarisnya. Sekretarisnya adalah ibu dari mahasiswa muda yang ditabrak oleh putrinya yang sedang terganggu kejiwaannya.
Dunia mungkin makin sempit dengan interkoneksi antar manusia yang makin tinggi. Tapi pengembangan alam semesta yang ditandai entropi yang senantiasa mengembang juga disertai dengan pertambahan jumlah penduduk manusia yang memiliki realm dalam fragmen hidup masing-masing.
Dunia yang kecil, namun jutaan informasi menghujani setiap saat oleh orang-orang yang memiliki tendensi. Informasi yang melahirkan rasa tak aman, rasa ini itu yang mungkin secara biologis hanya terkait kadar zat hormonal tertentu dalam darah. Beberapa menjadi gila karenanya, dan beberapa tewas karenanya.
Bandung, 27 Maret 2009
Entries (RSS)