Aku kriminal? So What? Aku penjahat? Trus kenapa? Aku maling? Lantas? Aku tak bermoral? Cukup bicara moral! Aku sadar aku mungkin jadi salah satu penghuni neraka. Aku tahu aku ini orang yang tak mungkin menikmati surga. Aku adalah binatang yang paling biadab. Aku tak peduli. Aku hidup toh untuk hari ini. Besok, aku tak tahu. Kau tak bisa bilang aku tak beriman. Meski pekerjaanku tak akan pernah ada yang memuji. Aku memang tak berharap dipuji, sama seperti aku juga tak pernah peduli jika siapapun memaki diriku, mendo’akanku agar mendapat celaka. Aku tak peduli.
Hari ini tanggal delapan belas, hari ketujuh pekerjaanku setelah setahun luntang-lantung tidak karuan dan menjadi pekerja bengkel yang selalu disemprot oleh bosku. Dan sejam lagi, korban kesepuluhku akan merasakan dahsyatnya kemampuan elektronik-ku. Aku tak perlu menjadi seorang filsuf untuk dapat memahami hidup. Aku juga tak perlu menjadi insinyur untuk menjadi seorang mekanik. Aku tak perlu menjadi dokter untuk dapat menyembuhkan demamku. Aku tak perlu menjadi seorang barela untuk meracik kopi ter-enak yang pernah bisa kuminum. Sama seperti aku tak perlu menjadi seorang psikolog untuk dapat memahami cinta dan sayang, aku tak perlu menjadi politikus untuk menjadi pemimpin. Aku bahkan tak perlu menjadi ekonom untuk memahami apa yang bisa kubeli dan kujual. Dunia ini sudah seperti lumpur kotoran kerbau. Dunia bahkan mendefinisikan surga, bahkan Sang Penciptanya. Jangan bicara surga jika kita masih bergulat di sini.
Dan ini adalah misi hanya dua orang, aku dan Yogi. Sebuah sepeda motor sebagai alat transportasi. Jaket kulit dan helm di kepala untuk menghangatkan udara malam yang dingin di kota kembang ini. Terakhir tentunya hanya diperlukan nyali yang dahsyat kemampuan teknis mekanik yang juga maju. Dalam pekerjaan ini, keberanian, kesetiakawanan, dan kecerdasan mesti berpadu jika tak mau celaka. Kutenteng ransel hijau berisi perlengkapan pembobolan kunci L-R, satu alat ukur listrik, kabel, martil, tang, beberapa obeng kecil, dan sebuah pisau kecil yang dapat berfungsi banyak mulai dari pemotong hingga pembela diri. Deru sepeda motor Yogi mulai meraung, kami ke daerah misi sekarang: Sarijadi, perumahan di kawasan utara Bandung!
Di sepanjang jalan, aku banyak memotivasi Yogi yang memboncengku. Ia terlihat mulai jenuh memang dengan pekerjaan ini. Risikonya besar tapi hasilnya sangat kecil, katanya. Tiba-tiba, ponselku ber-vibra dan kubaca pesannya. Ada alamat di sana. Kubacakan alamat itu pada Yogi, dan kami melaju lebih cepat lagi.
Sepeda motor adalah target kami. Kriminal curanmor adalah sebutan buat kami. Dan ketika jam tanganku menunjuk sejam sebelum subuh, kami sudah masuk ke sebuah gang kecil. Rumah bercat kuning dan bergerbang hijau pendek itu adalah sasarannya. Yup, sebuah sepeda motor Yamaha Mio berplat “D 2778 FR” memang sedang bertengger di sana. Sebagaimana operasi standar, kami lewat dulu sekali. Berputar-putar di sekelilin
g kompleks perumahan yang lumayan padat itu untuk melihat-lihat. Ada beberapa orang di sana. Tak jauh dari rumah yang jadi sasaran kami pagi ini ada pasar pagi sepertinya. Beberapa pedagang sibuk dengan sayuran di gerobaknya. Langit masih gelap. Aku tersenyum kecut melihat seorang pedagang yang sepertinya sudah sangat tua dan keletihan mendorong gerobaknya. Dalam hatiku, aku berkata, “sabar, pak, bentar siang juga gerobaknya kosong kok…”
Tepat setengah jam, kami sudah berada di gang itu lagi. Ada orang agak jauh dari rumah itu, mungkin mau persiapan sholat subuh. Aku melompat kecil turun dan menepuk punggung Yogi. Ia jalan terus, dan aku turun mulai melangkahkan kaki ke beranda rumah yang gelap itu. Penghuninya mungkin masih tidur. Tapi kalaupun bangun, dengan pintu gerbang tak bergembok seperti ini, semuanya hanya perkara menit bagiku. Sebuah surat kabar pagi sepertinya baru dilemparkan oleh pengantarnya. Kucuekin. Aku mendekati sepeda motor ber-perseneling otomatis itu. Kulihat roda depan dan belakang. Aneh! Nekat sekali pemilik sepeda motor ini: tak ada kunci ganda! Ranselku kulepas, satu obeng dan satu kunci standar kugenggam. Sebentar saja, lampu berwarna hijau pertanda sudah ada sambungan listrik dari akumulator dan mesin sudah muncul. Kunaiki sepeda motor itu. Kudorong pelan keluar dari beranda rumah. Tombol starter kunyalakan, tak ada suara. Ada perasaan aneh mulai menjalariku. Untuk menenangkan diri, aku mendehem pelan. Kutekan lagi, dan suara mesin yang khas dan menandai rezeki kami mulai terdengar membisik. Dengan kecepatan rendah, sepeda motor kubawa pergi. Tapi aneh, beberapa detik setelah sepeda motor ini kubawa, ada perasaan bergidik lagi di tengkuk-ku. Tapi aku cuek saja.
Yogi sudah menunggu dengan senyuman di depan warung Alfa Mart itu. Kami mulai bersepeda motor dengan gembira. Mungkin sama gembiranya dengan beberapa orang yang sudah tua bercelana pendek sedang jalan pagi. Ia menikmati udara pagi, setelah sedemikian kaya, sementara kami menikmati udara pagi, setelah mendepat rezeki sepeda motor yang mungkin masih tepat setahun umurnya ini. Karena dari plat nomornya jelas hal itu terlihat. Dan karena cukong penadah motor ini bekerja sama dengan perusahaan asuransi kenderaan bermotor. Asuransi biasanya berakhir setahun, dan cenderung pemilik kenderaan malas memperpanjang. Perusahaan asuransi mendapat untung karena tak lagi mendapat klaim, sementara cukongku senang mendapat stok baru untuk dijual. Kami pun senang, karena tentu Yogi dan aku akan mendapat masing-masing sekitar satu juta rupiah kontan. Namun, di tengah berkendara, perasaan aneh itu muncul lagi. Ini sudah korban kesepuluh, tapi kok aku merasa tak enak, berbeda dengan kemarin-kemarin. Sesampai di kawasan terminal, tak jauh dari rumah pak cukong, aku melihat langit mulai memerah. Aku klakson Yogi, dan menunjuk ke arah masjid yang tak jauh di depan kami. Yogi seperti biasa cemberut.
Kami parkir di depan. “Kau sajalah yang sholat!”, katanya. Ia duduk dan mulai menyalakan rokoknya. Aku hanya diam saja. Kubersihkan diriku dengan segarnya air wudhu, kupanjatkan do’a dan agak perlahan perasaan aneh yang dari tadi muncul itu lenyap. Selesai sembahyang. Kuhampiri Yogi, kutepuk pundaknya. Aku ajak dia ke warung kopi di dekat situ. Ia menurut. Pak cukong paling juga belum bangun. Secangkir kopi, semangkuk bubur kacang hijau, dan dua pisang goreng tentu tak meminta banyak waktu. Tempat ini toh sudah sangat jauh dari tempat tinggal pemilik sepeda motor yang kami curi.
“Kau itu penjahat, kriminal, ngapain sih sok ibadah?!”, Yogi berujar setelah si penjaga warung lenyap dari pandangan. “Lho, emang kenapa?”, balasku sambil menyeruput kopi hangatku. Ia merengut, diam saja sambil mengunyah pisang gorengnya.
“Kalau aku penjahat, memangnya aku tak percaya pada Tuhan?”.
“Iya, tapi ngapain juga ibadah, toh nanti kau masuk neraka jahanam! Memangnya Tuhan mengampuni dosa yang baru kau lakukan ini? Saban hari, tiap habis nyuri pasti do’a, …aneh!!!”.
Suasana hening sejenak. Hanya ada decak kunyah di sana dan di sini. Ingin rasanya, aku bercerita pada Yogi, tapi aku tahu apa yang ingin kukatakan padanya pasti membuatnya bingung.
Ingin aku berkata pada Yogi dan seluruh dunia, bahwa aku beribadah memang bukan memohon ampun akan dosaku. Aku juga tak beribadah agar aku tak masuk neraka. Setiap kali aku berdo’a aku memohon pada Tuhan agar jangan menjadikan uang hasil perbuatan kriminalku ini berlepotan dosa juga. Aku memohon pada Tuhan agar biar aku saja yang dihukum atas perbuatan jahatku ini. Janganlah perbuatan dosaku ini merembet pada biaya berobat isteriku yang sedang hamil tua. Agar jangan makanan yang dihidangkan isteriku dari hasil jarahanku ini memberi keburukan bagiku. Aku berdo’a agar anakku kelak tak perlu menjadi pencuri seperti ayahnya. Aku berdo’a bukan agar si pemilik kendaraan bermotor itu meng-iklash-kan barangnya kucuri. Aku berdo’a agar biar aku saja yang dihukum kelak di akhirat. Aku juga tak berdo’a agar aku tak tertangkap. Aku melakukan kejahatan di dunia, dan hukuman yang ada di dunia jelas adalah resiko buatku. Aku berdo’a agar aku dihukum, karena aku tahu jika orang dengan alasan seperti aku dan latar belakang seperti aku dilaknat, maka keadilan akan ditegakkan. Hukum manusia itu sifatnya resiko, tapi hukum Allah adalah yang seadil-adilnya.
Kami bergegas pergi setelah membayar. Sepanjang perjalanan ke cukong, hingga akhirnya kami berpisah pulang setelah matahari pagi mulai terbit. Yogi dan aku tak bercakap apapun. Siang itu, kami duduk-duduk menunggu uang hasil tadahan dari pak cukong di Warung Padang dekat berbagai sepeda motor mulai dari hasil tunggakan kredit hingga hasil curanmor seperti karya kami di pajang untuk dipamerkan untuk dijual. Untuk satu sepeda motor tentunya kami sebagai operator lapangan yang mendapat persen paling besar, karena cukong perlu membayar banyak hal. Mulai dari sogok kiri-kanan agar administrasi sepeda motor itu beres hingga biaya bengkel untuk mempermak sepeda motor itu sehingga tampak sangat berbeda dengan ketika statusnya masih menjadi barang bukti.
Warung Padang itu sepi. Cuma ada aku dan Yogi di situ, merokok, menunggu panggilan sms dari pak cukong. Tak jauh, di dekat makanan dipajang, si empunya warung duduk terkantuk-kantuk oleh udara siang yang memang panas dan meletihkan. Sekonyong-konyong seorang perempuan muda masuk ke dalam warung. Parasnya putih dan cantik, rambutnya lurus terikat rapih. Kakinya melangkah pelan masuk ke dalam warung dan matanya melirik ke sana-kemari ke arah dalam warung, dan ketika mata itu beradu dengan mataku, sesimpul senyum tersungging di bibir tipis perempuan itu. Ia menghampiri si tukang warung yang langsung terjaga, dan mereka pun bercakap soal lauk, kuah, rendang, sayuran dan sambal. Perempuan cantik itu membawa piring berisi makan siangnya melewati kami sambil tersenyum dan duduk di meja seberang. Ia makan dengan lumayan lahap. Aku yang dari tadi meliriknya, diganggu oleh Yogi. “Hoi! Ingat bini di rumah!”, katanya sambil tertawa. Aku juga tertawa pelan.
Ada perasaan aneh ketika aku melihat perempuan itu. Tapi bukan perasaan seperti seorang laki-laki pada perempuan. Ada sesuatu pada perempuan itu yang membuatku merasa tak tenang. Tapi aku cuek saja. Akhirnya aku melarutkan diri berbicara tentang sepak bola dengan Yogi. Setengah jam kemudian, perempuan cantik itu melewati kami melangkah ke arah si pedagang warung, membayar dan berlalu. Mestinya jika wanita itu adalah sumber kegelisahanku yang tak jelas penyebabnya, aku harusnya lega ia pergi. Tapi ini tidak. Aku tak lagi bisa mencerna omongan Yogi. Kepalaku tiba-tiba sangat pusing dan jantungku berdebar. Sementara Yogi terus bercerita, tiba-tiba si pemilik warung berteriak, “waah… ketinggalan nih!!!”. Ia menunjuk ke arah meja tempat perempuan itu
duduk. Ada sebuah buku tipis bersampul gelap di sana. Entah angin apa yang mendorongku, aku berdiri dan menghampiri meja itu. Kuambil buku itu. Dan aku merasa sangat kaget bagaikan disambar petir. Buku itu adalah Buku Pemilik Kenderaan Bermotor atas sepeda motor dengan nomor polisi “D 2778 FR”, motor yang kucuri tadi pagi!
Berarti perempuan itu adalah pemilik sepeda motor otomatik yang tadi pagi subuh kucuri?! Ya ampun, gila, apa-apaan ini? Darimana dia tahu kami ada di sini? Tapi mengapa ia meninggalkan buku BPKB yang di dalamnya ada STNK bahkan kuitansi pembelian sepeda motor itu? Apa ini???
Aku terjatuh, tapi tidak pingsan. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Siapa perempuan itu? Kulihat selintas nama di STNK itu adalah nama seorang laki-laki, mungkin entah siapa. Siapakah perempuan itu? Apakah ia hantu? Atau ia malaikat yang menunjukkan kemarahan Tuhan padaku? Aku ingin bangkit dan berlari mengejar perempuan itu. Tapi aku tak kuasa berdiri. Aku tergeletak saja seperti itu. Si pemilik warung dan Yogi tampak panik dan agak heran melihatku. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku… Aku seperti melayang….
Bandung, 18 Desember 2008
Entries (RSS)