Pelan-pelan kubuka surat itu. Pelan-pelan kubaca isinya. Air asin mengandung garam dari mataku menitik di atasnya. Aku tahu aku tak akan bisa bertemu dengannya. Aku tahu bahwa saat ini dia adalah orang yang tepat. Aku tahu, dan pengetahuan sepertinya sering datang terlambat. Pengetahuan erat terkait dengan penyesalan, karena ketidaktahuan dan kebodohan adalah sumber dari segala sumber penyesalan. Pengetahuan itu suci, karena kebenaran itu abadi; biarpun hanya sebuah kebenaran kecil dalam rintik kehidupan sehari-hari yang tersepele sekalipun. Satu lembar panjang surat itu. Kubaca lamat-lamat. Aku ingin menikmati semua titik tinta yang memunculkan huruf, kata, dan kalimat di dalamnya. Aku tahu kini ketersiksaanmu dengan hanya melihat goyahnya pena ketika huruf-huruf yang kau tulis jauh dari teratur. Kubaca surat itu…

Untuk Cacay…
Muncul dari lidah dan pikiran yang sangat terbiasa akan kesederhanaan dan kenaifan, yang akhirnya terkebiri dan terkerdilkan oleh dunia yang rumit dan kejam kepada kejujuran. Suratku ini mestinya mudah kau pahami…

Pusat massa bolpen itu dikepit antara jari tengah dan jempolku, dan bergoyang-goyanglah ia ke kiri dan ke kanan. Aku ingin menulis untukmu, Luna, tapi aku tak kuasa, karena di dalam realitas yang kuhadapi, meski dirimu adalah manusia lain yang sangat dekat denganku, aku ingin memberi pesan buat orang-orang lain yang kutahu juga mencintaiku. Ketika aku berada di belakang panggung, kau dan aku bagiku satu. Aku punya keyakinan itu karena seringkali apa yang terucap dari mulutmu seolah adalah lintasan pikiranku sendiri yang tadinya ingin kuucapkan. Semenjak kita pertama kali bertemu, aku tahu kau bukan orang biasa, dan adalah keajaiban jika kita bisa bersama. Tapi keajaiban itu terjadi, kau adalah diriku, sumber inspirasiku, manajerku, mitraku, sumber inspirasi atas semua vitalitasku, isteriku. Aku tahu semua ini karena berulang kali kau mengatakan, meski sendiri itu memberi derita, tetapi jauh lebih menderita bersama orang yang sebenarnya tak kita inginkan. Aku akan tulis surat ini untuk mereka yang menyatakan diri sebagai pendengar, tapi aku tahu surat ini kusampaikan untuk terucap dari mulutmu bagi dunia. Surat ini tertuliskan sebagai sebuah tanda momen bahwa akhirnya aku dan kau bagaimanapun bukanlah satu pribadi…

Semua tanda-tanda peringatan dari pelajaran rock punk 101 selama bertahun-tahun ini, semenjak perkenalanku dengan, katakanlah etika yang terlibat dalam kebebasan dan penerimaan masyarakatmu telah terbukti menjadi kenyataan. Aku tak pernah merasa kegirangan dalam mendengarkan seperti halnya mencipta musik, juga membaca dan menulis untuk tahun-tahun sekarang ini. Aku merasa melakukan kesalahan yang jauh melebihi kata-kata tentang hal ini.

Aku hanya bisa mendekatimu dalam abstraksi, tak bisa fisik karena itu adalah sesuatu yang kuanggap keajaiban. Sore itu dirangkulnya bahuku, dan aku tahu semenjak itu, Luna adalah isteri yang dipilihkan oleh alam semesta buatku. Bagiku Luna adalah orang yang membuat keajaiban itu menjadi kenyataan.  Kegembiraan hingga kita mencetak nama grup band kita di papan atas tangga musik. Sungguh aku ingin sekali mengakui bahwa aku sulit terkadang menikmati hingar-bingar musik rock ini, dibanding dari momen-momen di malam hari duduk sepi menikmati Coca Cola di teras rumah saat malam telah sangat larut. Musik adalah sebuah keajaiban bagiku, dan sosok Luna berada dalam posisi yang membuat keajaiban itu menjadi kenyataan. Beberapa perempuan pernah singgah dan ingin menjadikan keajaiban itu kenyataan, namun mereka tak sekuat dan semahligai Luna. Aku sebut keajaiban, karena tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan situasi ini. Nikmatnya proses grup band kita dalam berkarya dan mendapatkan apresiasi publik saat kita menjadi populer, dan nikmatnya siomay hangat dalam momen romansa saat bersama Luna, adalah keajaiban yang hadir bagiku. Bagi beberapa musisi pop rock lain, dua hal ini jarang bertemu. Bagi kebanyakan mereka, musik, wanita, dan obat adalah segitiga dinamika rock ‘n roll. Bagiku ini terlalu biasa dan bukan keajaiban!

Sebagai contoh, ketika kita sedang di belakang panggung dan lampu-lampu dimatikan dan teriakan penggemar mulai menderu-deru, hal itu sama sekali tak sama dengan bagaimana Freddy Mercury mengalaminya; sepertinya ia sangat mencintai dan tergila-gila akan hiruk-pikuk pendengarnya, sesuatu yang sungguh kukagumi dan membuatku iri. Namun sudah jelas, aku tak bisa membodohimu, semua kamu. Kurang adil rasanya buatmu dan juga buatku. Kejahatan terburuk yang bisa kupikirkan adalah merampok orang lain dengan kepalsuan dan berpura-pura seolah aku mengalami kesenangan 100%. Terkadang aku merasa mestinya ada bel yang berbunyi dulu baru aku boleh turun dan keluar dari panggung. Aku sudah coba semua yang bisa kulakukan untuk coba mengatasi hal ini (dan percayalah, aku sudah coba, tapi tak pernah bisa). Aku senang kita bisa bisa memberikan pengaruh dan menghibur banyak orang. Tapi hanya mereka yang narsislah yang menghargai apa-apa yang sudah tidak ada lagi. Aku terlalu sensitif. Aku harus cuek dan tak peduli untuk bisa merasakan antusiasme seperti yang pernah kualami ketika aku masih kecil.

Aku rasa hanya Luna yang tahu betapa aku sangat tersiksa ketika berada di atas panggung dan bahwa aku senantiasa berusaha untuk bisa menikmati itu semua, yang tak kunjung bisa. Begitu banyak gosip yang menyertai diriku di media massa. Tapi aku sungguh merasa aneh karena Luna tak pernah ber-ekspresi emosional, seolah ia tahu bahwa hanya ada dia di hatiku. Tanganku sering digenggamnya tatkala matanya menumbuk mataku. Seolah ia ingin memberi kesadaran buatku bahwa mengkespresikan musik, apapun dampaknya, bukanlah tindakan yang jahat.

Ketiga tur kita terakhir, aku rasa kita mendapat apresiasi yang lebih baik dari mereka-mereka yang kukenal secara personal, dan sebagai penggemar musik-musik kita, aku masih tak bisa mengatasi rasa frustasi, rasa bersalah dan empati untuk semua orang. Mungkin aku terlalu mencintai orang lain, terlalu mencintai sampai-sampai rasa itu membuatku selalu bersedih, Kesedihan, kepekaan, ketakberhargaan, ya Allah, entah mengapa aku tak bisa menikmati semua itu! Aku tak tahu!

Ketika Sofia hadir sebagai buah cintaku dan Luna, semua bahkan menjadi semakin kacau. Luna selalu mengatakan padaku bahwa yang kubutuhkan hanya arus glukosa untuk otak dan sedikit kafein berkombinasi dengan sedikit nikotin untuk mempertahankan irama agar aku tetap bisa berkarya. Dalam beberapa hal itu benar, tapi kehadiran Sofia membuat banyak hal berubah. Sofia kecil mengingatkan diriku ketika masih seusianya. Seorang yang diam, melihat, dan merasakan.

…dan seorang bidadari yang menjadi isteriku, yang ambisius namun selalu penuh empati, dan puteri sematawayangku yang selalu mengingatkanku akan cinta dan kebahagiaan, ia selalu mencium tangan semua orang yang ditemuinya karena baginya semua orang itu baik dan tak akan menyakitinya. Dan semua itu membuatku ketakutan hingga pada satu titik di mana otakku tak bisa bekerja. Aku tak tahan dengan mimpi buruk Sofia yang menderita, sakit, bahkan mengikuti jejakku sebagai musisi rocker seperti aku.

Kebencianku pada dunia mungkin merupakan harmoni rasa cintaku pada manusia. Aku ingat sore itu kala berjalan-jalan di tengah kota dan tiba-tiba Luna menciumku di tengah banyak orang. Aku kaget dan aku yakin orang-orang di yang lalu-lalang di sana juga demikian. Tapi kehangatan sore itu sungguh membuatku melayang jauh.

Semua baik-baik saja bagiku, dan aku sangat mensyukuri hal ini, tetapi semenjak usiaku baru tujuh tahun, aku sudah dirundung rasa benci pada semua orang. Aku membenci karena mungkin aku terlalu mudah merasa empati pada orang lain, aku terlalu menyayangi orang lain, mungkin…

Aku tak tahu mengapa sebelum semua ini kulakukan aku merasa perlu menulis surat ini. Ini pastilah pengaruh Luna yang senantiasa menyadarkanku bahwa aku tak sendirian. Aku yakin surat ini akan dilihat sebagai surat seorang musisi yang putus asa pada dunia bagi para fans-nya. Surat ini tak perlu kutujukan untuk Luna, karena aku yakin bahwa ia tahu bahwa surat ini juga berasal dari dirinya yang merupakan bagian dari diriku. Tanpa Luna yang setiap hari mencandai kegilaan-kegilaanku, surat  ini tentu tak pernah perlu ada.

Terima kasih dari lubuk hatiku yang paling dalam untuk semua surat yang kuterima dari kalian selama ini. Aku merasa tak menentu, sayangku! Aku tak punya keinginan apa-apa lagi, dan ingatlah, lebih baik terbakar dan habis daripada hilang  lenyap perlahan-lahan.

Cinta dan empati selamanya untukmu…
Iwan

Bunyi terakhir yang ber-resonansi dengan gendang telingaku adalah: “klik!”. Setelah itu semua hilang. Aku telah tak punya darah yang mengalir menderu lagi, aku telah tak punya saraf yang membawa informasi elektrik lagi, aku tak punya apa-apa selain ketiadaan yang abadi. Sebuah rasa sepi ketika rasa terlalu panas adalah sama dengan rasa terlalu dingin, dan cahaya yang terlalu terang memberi efek yang sama dengan yang terlalu gelap…

Luna dan Sofia, aku akan selalu berada di sana…
Tetap maju terus, Luna… demi Sofia!
Demi hidupnya yang akan jauh lebih menyenangka
n tanpa kehadiranku.

Aku menyayangimu! Selalu!

Pelan-pelan kubuka surat itu. Pelan-pelan kubaca isinya. Air asin mengandung garam dari mataku menitik di atasnya. Aku tahu aku tak akan bisa bertemu dengannya lagi. Aku tahu bahwa saat ini dia adalah orang yang tepat. Aku tahu, dan pengetahuan sepertinya sering datang terlambat. Pengetahuan erat terkait dengan penyesalan, karena ketidaktahuan dan kebodohan adalah sumber dari segala sumber penyesalan. Pengetahuan itu suci, karena kebenaran itu abadi; biarpun hanya sebuah kebenaran kecil dalam rintik kehidupan sehari-hari yang tersepele sekalipun. Satu lembar panjang surat itu. Kubaca lamat-lamat. Aku ingin menikmati semua titik tinta yang memunculkan huruf, kata, dan kalimat di dalamnya. Aku tahu kini ketersiksaanmu dengan hanya melihat goyahnya pena ketika huruf-huruf yang kau tulis jauh dari teratur. Kubaca surat itu…

Comments are closed.