Ini sore yang biasa, dan ada tiga foto di genggamanku saat ini. Aku tersenyum memandangi foto paling atas. Sesosok tubuh ringkih yang dari tatapan matanya aku tahu dia seorang pemalu. Roni namanya. Lelaki pertama yang masuk ke dalam hidupku. Ia adalah bintang di kelasku. Tapi bukan bintang-bintang seperti yang ada di benak gadis-gadis saat ini tentunya. Ia bukan bintang yang lolos masuk ke acara idol-idol-an. Ia adalah bintang karena ia paling cepat menghitung akar-akar sebuah persamaan kuadrat,
menyelesaikan persoalan tumbukan benda, tapi juga paling fasih menuturkan kisah-kisah yang mengitari ditemukannya efek fotolistrik, bagaimana menghitung usia matahari, bahkan dengan lentik jemarimu memainkan lagu-lagu di piano sekolah. Ia adalah seseorang yang menjadi sahabatku, dan sungguh malang bagi diriku ketika lambat laun aku mulai jatuh hati padanya. Aku masih ingat kekonyolan ketika itu aku berlari-lari masuk ke dalam kelas, dan teman sekelas yang tengah berdiri di dekat pintu, Rudi, dengan sengaja menyorongkan kakinya, sehingga aku tersandung jatuh, dan rok abu-abuku tersibak. Kau yang sangat pemalu, tak suka berkelahi, anak kesayangan guru, tiba-tiba berdiri dan mendorong tubuh Rudi yang jauh lebih tinggi besar darimu. Saat itu aku sadari bahwa meski kita masih remaja, Roni menjadi pembela kehormatanku. Aku tahu dan kuungkapkan perasaan itu bukan dengan kata-kata, tapi dengan kelembutan yang amat hati-hati aku torehkan obat merah ke luka memar di keningmu setelah berkelahi dan harus menghadapi sidang guru hari itu untuk membelaku.
Aku juga masih ingat sore itu kita duduk di vila tempat perpisahan kelas. Hanya ada aku dan kau di sana, dan kau petik gitar itu sambil menyanyikan lagu tentang cinta tak sampai. Aku jatuh cinta pada Roni, namun aku merasa tak mungkin untuk mengungkapkannya secara verbal, karena aku perempuan dan ia laki-laki. Aku hanya bisa memeluknya di dekat api unggun itu, karena aku akhirnya tahu bahwa ia akan melanjutkan kuliah di kota lain, di pulau lain. Aku tak bisa menahan air mata. Tapi aku tak pernah bisa mengucapkan satu kata cinta pun dari mulut dan lidahku yang kelu. Aku tahu Roni pun pasti memiliki perasaan yang sama, namun aku yang selalu menunggu, tak pernah juga mendengar kata cinta dan sayang darimu untukku. Aku tahu Roni juga mencintaiku, tapi kami tak pernah bisa berkomitmen. Tak pernah ada janji apapun dengan Roni.
Kemudian hari aku mendengar kau telah berangkat ke kota tempat kau melanjutkan kuliah, dan sesudahnya kita tak pernah lagi bertemu. Aku masygul dan tak mungkin bisa menyesal kala itu. Ingin rasanya aku mengulang malam itu di malam perpisahan kelas kita, ketika keningku kau kecup dan aku balas dengan mencium pipimu. Hingga kini aku tak lagi mendengar kabar darimu. Mungkin sekarang kau sudah berkeluarga. Mungkin sekarang kau sedang meniti karir sebagai seorang insinyur sebagaimana yang pernah kau cita-citakan dulu sewaktu mengisi berkas-berkas UMPTN, meski di dalam hatimu ada rahasia bahwa kau ingin sekali menjadi guru. Sebuah rahasia yang hanya kau bisikkan padaku. Katamu waktu itu, hanya aku yang tak tertawa mendengar cita-cita rahasiamu itu. Ya, karena aku tahu bahwa kau memang akan menjadi seorang guru yang luar biasa. Kau akan melebihi pak Anton mengajarkan persamaan trigonometri, dan akan membuka cakrawala magnet elementer lebih dari pak Herman, dan sudah pasti siswamu akan sangat menikmati ketika kau bercerita tentang pembentukan pati dan zat asam arang pada tumbuhan berklorofil. Kau adalah bintang, dan bukan seperti bintang-bintang zaman sekarang yang bersinar karena berdandan, fitness ke gym atau nge-basket, dan meniru-niru lenggak-lenggok para artis dan selebritis di atas panggung.
Tapi itu kejadian lima belas tahun lalu, dan kita tak pernah saling bersua lagi. Aku masih mencintaimu, namun aku tak pernah bisa mengutarakan isi hati ini padamu. Karena waktu itu aku selalu menunggumu untuk mengutarakannya padaku. Kita tak berjodoh. Waktu telah menunjukkan bahwa memang kau bukan orang yang tepat buatku. Aku tak kuasa menahan senyum mengingat-ingat kekonyolan masa lalu yang sudah sangat jadul itu.
Ada foto lain di balik itu. Foto seorang lelaki bertubuh tegap dan berambut cepak. Mungkin ini foto lelaki yang pernah paling dekat dalam hidupku. Deni, seorang lelaki yang kebetulan adalah tetanggaku. Lelaki yang memiliki kehidupan yang sangat keras namun luar biasa lemah lembut ketika berada di dekatku. Ia seorang taruna waktu itu. Mungkin sekali ia adalah cinta pada pandangan pertamaku. Entah karena aku memang telah lama larut dalam kerinduan yang tak pernah tuntas akan Roni setelah bertahun-tahun tak mendengar kabar. Namun kala itu hujan, dan aku berteduh di pinggiran sebuah rumah yang atapnya cukup menjorok untuk tubuhku. Kau lewat di sana dengan langkah tegap berpayung hitam. Aku mengamatimu dari kejauhan, dan tiba-tiba hatiku menjerit ketika kau berhenti dan menawarkan payung itu padaku. Tak kuasa aku terheran-heran ketika sore itu kau sebut namaku, dan bahwa kau telah mengenalku sebagai tetangga sementara aku seolah buta memiliki tetangga segagah dan serupawan dirimu.
Payung itu kuambil, dan hingga kini aku masih geli mengingat kejadian itu. Kau pinjamkan payung itu agar tubuhku terlindung dari curahan hujan yang dingin, namun kau sendiri berjalan beberapa depa di belakangku. Katamu waktu itu, agar aku leluasa berjalan dengan tas kuliahku yang memang cukup penuh berisi buku perpustakaan yang baru kupinjam. Aku yang masih terkaget-kaget pada kenyataan bahwa kau mengetahui namaku dan tempat tinggalku mau saja waktu itu berjalan di bawah payung pinjaman sementara pemiliknya berjalan kuyup oleh hujan di belakangku. Sikapmu sungguh membuatku geli sekaligus menyadarkanku akan sikapmu yang satria dan aku tak dapat menyangkal bahwa tautan hati kita adalah sesuatu yang sangat berharga buatku.
Tapi alangkah sulitnya untuk berpikir untuk berlama-lama bersamamu, Deni. Sedekat apapun hati kita bertaut, perbedaan kita yang begitu jauh berbeda tak pernah bisa menghalalkan kemesraan ini. Tak lama hatiku begitu berbunga tatkala kau utarakan kasihmu padaku, karena mamaku langsung marah-marah melihat boneka yang kau berikan sebagai hadiah cintamu yang kuterima malam akhir pekan itu. Kau putera dari seberang, yang lahir dari keharusan menyembah Tuhan yang berbeda dengan diriku. Sementara aku puteri semata wayang dari ortodoksi keluarga Jawa yang tak mungkin bisa menerima keluargamu yang berbeda agama denganku. Kita begitu dekat, dan di saat yang bersamaan begitu berjauhan. Jika Roni menjadi tak tepat karena aku terlalu lama menanti oleh cinta yang perlahan mekar dan tumbuh, dirimu menjadi tak mungkin oleh perbedaan di mana tubuh ini dilahirkan. Senyumku kecut tatkala kuusap fotomu kini, oleh sebuah kesadaran bahwa kenyataan psikis tak selamanya sejalan dengan kenyataan fisik. Kau mendapat semprotan dari ayahmu yang kebetulan menjadi klien ayahku di kantor, sementara ibu tak henti-hentinya membuat makan malamku menjadi pahit, hambar, dan membuatku mual oleh ledekan yang sungguh membuatku tak lagi kenal dengan kasih, sayang, cinta, dan kejujuran pengertian.
Dunia ini kejam, tak seperti surga di mana jiwa dapat bersemayam dalam mega cinta di mana kejujuran sebagai satu-satunya bahasa. Entah di mana kini kau berada, Deni. Sangat mungkin kau telah berkeluarga sebagaimana kudengar dari ibuku yang beberapa waktu lalu tak sengaja bertemu ibumu. Ibumu sangat bangga menceritakan betapa lengkapnya keluarga setelah mendapat dua orang cucu darimu dan dari dia yang kau sayang. Sementara aku masih saja dirundung rasa kehilangan dirimu bahkan kini setelah tujuh tahun berselang. Perasaan letih dan sepi yang tak mampu kujelaskan berganti-ganti antara impianku akan Roni dan senyuman lembut seorang Deni. Mereka berdua bukanlah orang yang tepat.
Buru-buru kutaruh fotomu di bagian paling bawah dari tiga foto yang ada dalam genggamanku. Tapi mega mendung itu belum mau pergi. Mataku tertuju pada senyum lebar Arman. Seorang pemuda yang darinya aku belajar paling banyak tentang hidup dan arti pentingnya impian untuk menggapai maslahat terbesar bagi manusia dan kemanusiaan tempatnya berada. Seorang yang pernah menjadi mahasiswa di kelas yang sama ketika aku juga sebagai mahasiswi. Seorang yang cuek, namun ketulusan kurasakan ketika kau kecup tanganku seraya getar gemetar bibirmu mengucapkan kata cinta untukkku. Cuek dan kasar adalah kesan yang didapat dari ibuku, tapi aku tahu pasti, itu adalah sisi mata koin yang sama dengan kejujuran, ketulusan, dan upaya yang kukuh untuk berjaga di garis batas impian dan harapan. Arman adalah seorang lelaki yang darinya aku belajar banyak bagaimana menghargai diri sendiri dengan memberi penghargaan setinggi-tingginya bagi orang lain. Ia adalah lelaki yang darinya aku tahu bahwa filsafat itu bukan teori, namun sebuah ungkapan nyata perilaku sebagai cerminan dari harapan.
Aku masih ingat kala itu di sebuah hari di mana aku genap berusia dua puluh dua tahun. Ketika itu sebuah buku kau berikan padaku, bukan boneka, bukan keremeh-temeh-an yang biasanya jadi simbol cinta mahasiswa dan mahasiswi. Kau seolah tahu bahwa mataku yang sulit terpejam di malam hari sering menari-nari dari satu halaman ke halaman lain dari berbagai prosa, fakta, hingga poetika. Hatiku gemetar jika mengingat ucapanmu kala itu bagai resonansi dari getar cinta di hatiku. “Kamu akan lama namun sangat menikmati membaca ini”. Saat itu aku mulai mengenal Jose Rizal, sastrawan yang kau kagumi, yang karya-karyanya menjadi semangat perlawanan rakyat Filipina melawan penindasan pemerintahan kolonial yang bercokol di balik tangan besi dan doktrin kaku gereja.
Kau merupakan inspirasiku dalam lima tahun ini. Suatu kali, tiba-tiba kau mengenakan earphone sore itu. Ketika kutanya mengapa kau tak seperti biasanya dengan earphone menggantung di lehermu, kau berkata sangat terganggu dengan keciap seekor anak kucing yang kehilangan induknya dan kau bawa ke rumah di musim hujan yang rentan baginya, yang mungkin baru berusia beberapa hari. Kau terganggu, dan kau temukan cara untuk bisa menikmati gangguan itu. Rasa cintamu pada banyak hal, sedikitpun tak membuatku cemburu, Arman, karena senantiasa kau selalu ungkapkan rasa cinta itu padaku sebagai inspirasi melalui ekspresi yang tak sama.
Tiga tahun pertama bersamamu merupakan waktu paling bahagia buatku, karena tak sedetikpun dalam tiga tahun itu aku teringat akan rona luka akan kepergian Roni dan kandasnya harapan bersama Deni. Betapa nikmat berdua bersamamu memaki dunia yang penuh kekonyolan ini. Tiga tahun itu pula aku banyak belajar bahwa apa yang kupelajari ternyata telah membutakanku akan hidup dan bagaimana semestinya menjalani tantangan hidup. Selama itu pula aku tersadarkan akan pemberian penghargaan tertinggi bagi diri sendiri sebagai tercermin dalam rasa empati yang dalam bagi orang lain, makhluk lain, bahkan apapun termasuk buku-buku yang menemani malamku yang rindu akan mentari pagi agar aku bisa bertemu dan bersua dengan cinta dan ceritamu. Tapi itu menjadi tiga tahun yang singkat karena tiga tahun itu terlalu baik dan terlalu indah.
Semenjak tahun lalu kau seolah berubah. Kau lamat-lamat berubah menjadi lelaki yang tak lagi bisa menemukan keringanan menjalani tantangan hidup. Kau mulai mengeluh akan berbagai praktik korup dan berbagai politik kantor di tempat kau baru bekerja enam bulan. Kemandirian berfikir, kematangan bersikap, dan kekokohan pendirianmu seolah hanya ada ketika kau belum mesti menanggung beban sebagai seorang pekerja kantoran. Ketika kutinggalkan pekerjaanku yang mapan sebagai seorang pengacara menjadi salah seorang pengajar di sebuah sekolah dasar sisa instruksi presiden Orde Baru, kau memuji idealisme yang kuperjuangkan, namun sungguh, lama sekali aku tersiksa karena entah mengapa pujian itu seperti cabikan di telingaku. Aku tak tahu bagaimana menjelaskan ini, tapi aku perempuan, yang mungkin lebih sensitif daripada seorang lelaki.
Kau seolah berubah. Kecuekanmu yang tadinya sudah hampir biasa bagi keluargaku, telah berubah menjadi konflikmu yang cukup runyam dengan ibuku. Namun aku berusaha untuk meyakinkan diriku, Arman, bahwa ini hanya akan bersifat sementara. Keketusanmu menjadi hal yang menunjukkan adanya dorongan emosional yang mendalam pada dirimu yang tak bisa kumengerti. Aku tahu bahwa meski kau tak suka dengan lingkungan kerjamu saat ini, kau memiliki beban dari keluarga yang menjadikanmu tumpuan harapan. Tapi sungguh, dari Arman yang kukenal dahulu, caramu menyikapi keadaan sungguh berlainan. Kau menjadi sering bertanya ini itu padaku, tentang apa yang mesti kau lakukan dan banyak lagi sementara keluhanmu itu selalu pula dibarengi dengan ungkapan kekesalanmu dengan lingkunganmu dan bahkan terkadang ketakmampuanmu dalam menghadapi dunia kehidupan yang memang seolah kejam dan penuh sandiwara ini. Kau menjadi gampang goyah, dan kau pikir aku tegar menghadapi semua ini? Orang jarang melihatku berurai air mata seperti gadis-gadis lain, yang entah sedih atau senang matanya selalu sembab. Tidak! Aku ini anak sematawayang yang sering disepelakan. Justru tiga tahun bersamamu mengajarkanku agar tak menjadi cengeng dan tetap tegar atas masalah apapun yang mesti dihadapi.
Tak pernah mungkin kau lihat bagaimana aku tidur dengan lampu yang dimatikan karena tak kuasa aku tidur dengan kepiluan yang membuatku tak mampu lagi membendung air mataku. Dan ketika cercah sinar di ufuk timur mulai memanggil ibadah subuh, air mataku tak jua mengering. Kau tak pernah tahu bagaimana sakitnya hati seorang yang belajar menghadapi hidup darimu harus menerima kenyataan bagaimana kau sendiri tak mampu menghadapi hidup itu. Batinku tersiksa. Aku selalu berusaha untuk memelukmu dan mengatakan bahwa segala tekanan yang kau hadapi suatu saat akan berakhir dan kebersamaan kita akan menjadi sumber kebahagiaan yang utama. Tapi tidak, Arman, aku sangat letih saat itu dan kemudian. Aku letih dan keletihan itu telah berbuah pada keributan dan perselisihan di antara kita bahkan oleh hal-hal yang bahkan sangat sepele. Aku letih, dan aku seolah kehilangan Arman yang mestinya mampu memberikan bahu untuk meredakan tekanan yang kuhadapi sebagai seorang anak semata wayang yang dituntut ini itu, sebagai seorang sarjana hukum berprestasi yang akhirnya oleh orang banyak dianggap hanya sebagai seorang guru bergaji kecil di sudut kota yang kumuh dan sebagai perempuan belum juga menikah di usia yang seperti ini di dunia yang sangat lelaki ini, ditambah lagi saat ini sebagai seorang kekasih seseorang yang selalu terlihat goyah bahkan cengeng di hadapanku. Ingin aku meronta, menjerit, tapi aku tak mampu. Kemarahanku pada kebodohanku dengan impian cinderella atas Roni dan Deni, kemurkaanku pada getir dan kepura-puraan sandiwara dunia ini, dan kini kemarahanku pada diriku karena kau bersamaku, dan kau bukan Arman yang dulu.
Dua tahun terakhir dari lima tahun bersamamu sungguh malah membuatku terbiasa dengan segala kegalauan ini. Dua tahun itu aku malah merasa makin kuat dan tiap saat kau semakin lemah di mataku. Jangan pernah pikir bahwa aku bisa terima dengan kondisi ini. Aku hanya terlalu letih, Arman. Aku capek sekali. Aku masih mencintaimu dan menyayangimu, tapi dirimu yang dulu. Dirimu yang masih memiliki ketulusan dan yang mampu melihat hal yang kebanyakan orang tak mampu melihatnya. Kau tak tahu derita psikologis yang kuhadapi, bahkan aku mulai mencipta ilusi tentang seorang lain bernama Arman, seorang yang selalu bisa bercakap-cakap ringan denganku ketika malam telah menidurkan seluruh dunia, dan ketika hanya aku yang terjaga dan buku-buku itu tak sanggup lagi mengukir kegembiraan di kegalauan hati ini. Aku ini pada dasarnya lemah, dan tiap malam aku dipeluk hangat oleh Arman yang lain, sebuah dunia imaji yang menghiburku tatkala aku mesti memendam keletihan yang terkadang telah berubah menjadi benci akan Arman yang kutemui di siang hari. Aku letih, dan aku pikir sudah pantas saat ini Arman cemburu pada Arman yang kutemui saban malam.

Entah bagaimana awalnya, tapi aku akhirnya mulai berani melupakan Arman. Aku mulai sering menghabiskan waktu di kamarku seperti yang saat ini kulakukan. Ada tiga foto dalam genggamanku. Ketiganya kucinta dan kusayang, tapi ternyata bukan orang yang tepat buatku. Arman justru memberiku kesadaran bahwa semestinya aku yang sekaranglah yang dulu bertemu dengan Roni, karena tak perlu aku menunggu ungkapan cintaku padanya. Arman justru membangunkan tidurku bahwa semestinya ketautan jiwa bersama Deni jauh lebih penting daripada sebuah insiden yang akhirnya membuatku merasa tak mungkin bersamanya. Arman pula yang akhirnya saat ini membuatku sadar bahwa lebih menderita bersama orang yang tidak tepat daripada menjalani hidup ini sendiri.
Ketiganya tidak tepat buatku. Aku tak perlu merasa berpura-pura bahwa Roni mungkin tepat buatku, atau Deni, atau Arman, atau siapapun. Aku tak mau berkompromi untuk menganggap yang sejati dari sesuatu yang bersifat keseolah-olahan atau yang aku sendiri tak yakin. Aku masih berharap dan yakin ada seseorang di sana buatku. Seseorang yang sekarang aku tak tahu siapa dia, namun aku mengenalnya di dalam hatiku. Seseorang yang tepat buatku dari segala dimensi waktu, ruang, budaya, apapun. Seseorang yang tetap akan kutunggu sampai kapanpun. Karena meskipun sendiri itu sakit dan sepi, itu masih lebih baik daripada mesti bersama dia yang bukan kekasih hati sejatiku…
Entries (RSS)