Mestinya kota ini adalah kota yang cukup panas, tapi entah mengapa, ketika aku berdiri di sini semilir angin terasa begitu dingin dan sejuk. Di depanku tegak berdiri nisanmu, setegak namamu yang membebaskan, Liberty. Kau adalah kekokohan dan kekukuhan sikap. Kau mungkin merasa bahwa waktu yang tak memperbolehkan kita berdua menjalani hidup bersama, adalah semata-mata kesalahanmu sebagaimana kau tulis dalam surat yang baru bisa kubaca setelah kita menjadi renta dan tua. Bahkan setelah ajal menjemputmu, aku baru sadar bahwa justru kerinduan akan kebebasan dan kekukuhan sikap yang terbungkus dan terlihat oleh orang lain sebagai bentuk yang terlalu pemalu, merupakan tanda bagiku, bahwa kau adalah orang yang benar-benar layak untuk dicintai, disayangi, dan terlalu mulia untuk dimiliki…

Waktu itu masa revolusi fisik. Tubuhmu yang kecil dan senyumanmu yang eksentrik menarik perhatianku waktu itu. Tapi tentu, perhatian yang tercurah dariku untukmu pagi itu tak boleh lebih dari perhatianku pada penumpang lain. Sebagai pramugari, aku hanya boleh menuangkan beberapa mili lebih tinggi jus jeruk yang kutuang ke dalam gelas yang kau genggam daripada gelas di tangan penumpang lain. Tak lebih dari dua detik kita berpandangan, dan senyuman kita bertaut. “Saya musisi,” katamu dengan kebanggaan, “saya akan berlayar ke negeri Belanda besok untuk memberi ceramah di sekolah musik terbaik di sana!”. Sepintas kita memahami akan kebanggaan si intelektual musik yang dari bangsa terjajah namun memiliki kualitas intelektual yang kuat untuk menjadi guru justru di kalangan bangsa kolonial.

Pesawat pun melaju dari melintasi Selat Melaka, Laut Cina Selatan, hingga akhirnya Selat Sunda, mendarat di Batavia. Kita sempat bercakap-cakap waktu itu. Darimu berkeluaran komposer-komposer musik hebat yang kau kagumi, tapi tak satupun kuingat hingga saat ini, kecuali beberapa potongan senandung, yang kemudian waktu lama berselang, kuketahui sebagai bentuk Musik Air (Water Music), Musik Kembang Api (Fireworks Music), Musik Empat Musim (Four Seasons), Aria-aria Kidung Kematian (Requiem), hingga Musik Suara Alam (Pastorale) dan kepahlawanan yang tragis (Eroica). Aku tahu, hatimu selembut musik-musik itu. Pertemuan pertama yang tak terlupakan di tangah ingar-bingar republik yang tengah bergembira ketika baru terlahir sebagai bangsa yang merdeka.

Waktu itu aku adalah seorang perempuan karir. Kebanyakan waktuku adalah bersama pembesar-pembesar dan borjuis seantero negeri di dalam pesawat yang membawa melintasi samudra dan benua, tak hanya pulau dan selat. Ketika teman-teman seusiaku telah memomong anak kedua atau ketiga, aku masih mengenakan rok selutut dan berjalan dengan kepala tegak dan senyum yang, bukan sombong, merupakan cerminan keangkuhan akan kecantikan yang memang wajar. Cantik, cerdas, dan secara ekonomi tergolong mapan dalam status perawan adalah cerminan diriku waktu itu. Hingga lama aku baru tersadar bahwa aku merasa sangat kering dan memang membutuhkan cinta, bahwa jam biologisku terus berdetak, bahwa jiwaku membutuhkan ruang yang diisi dengan kasih dan sayang, dan bahwa aku bagaimanapun aku adalah wanita yang rindu membelai dan menimang seorang anak. Kehadiran seorang anak bagaimanapun membuat takjub, akan betapa hebat dan besarnya potensi cinta yang bisa kita curahkan pada seseorang di luar kita, namun memiliki pertalian ketulusan dengan kita. Kasih yang tulus yang kita berikan tanpa ada harapan apapun, mungkin membuat kita takjub akan kekuatan cinta yang dimiliki oleh makhluk bernama manusia.

Dengan karakter yang melekat pada diriku, pria memang sering singgah dalam hidupku. Kebanyakan hanya singgah dalam deretan waktu dalam realitas hidupku, sedikit di antaranya ada yang berhasil menembus hatiku. Mereka ada dari berbagai latar belakang karir, advokat, politisi, tentara, guru, bankir. Mereka bisa dari suku bangsaku, namun ada dua atau tiga termasuk kaukasoid. Yang singgah dalam realitas hidup paling jauh hanya menjadi teman ketika berjalan-jalan di kota-kota Eropa, Amerika, atau Jepang, Hongkong, atau Jakarta. Mereka terkadang membuatku tertawa, karena mereka memang lucu ha-ha-ha, meski terkadang juga membuatku malu, karena memang lucu hu-hu-hu.

Beberapa berhasil menembus hati dan menggelitik sanubariku yang kulamunkan ketika kepalaku terbenam di atas bantal pada malam hari, dan berharap lelaki ini adalah cinta sejatiku. Namun mereka juga lewat begitu saja. Beberapa ternyata mencari isteri untuk dimadu, beberapa lain ternyata dipenuhi rasa minder yang tak bisa kupahami dari kebanyakan makhluk dari Mars ini. Lelaki memang misterius! Aku mencari lelaki yang lucu, bukan lucu ha-ha-ha bukan pula lucu hu-hu-hu, tapi lucu yang membuat hidupku menjadi lucu dan menyenyenangkan…

Ada pula satu yang sepertinya sangat cocok denganku, ketika aku merasa sangat berbahagia tatkala dirinya dengan cepat akrab dengan ayah dan ibuku, bahkan dengan adik-adikku. Dengannya berpacaran mungkin paling lama, tapi aku akhirnya sadar, kebahagiaanku tak semata kebahagiaan keluargaku. Aku banyak bercerita tentang dirinya padamu. Dan kau waktu itu tertawa-tawa mengatakan bahwa cinta sejati itu bisa direduksi oleh kebanyakan orang sebagai tiga hal: pertama, ketika kau membayangkan kau memiliki putra-putri yang cerdas dan sehat bersamanya, kedua, ketika kau membayangkan duduk berdua dengannya di tengah dinginnya malam saling bercerita dengan kebosanan yang tak kunjung datang atas siapa yang kau temui, apa yang kau lihat, tentang film, musik, bahkan buku yang tengah dibaca. Yang ketiga adalah yang membuatku geli, bahkan hingga saat ini. Kau mengatakan bahwa yang ketiga adalah bayangan ketika seorang perempuan membenarkan dasi yang memang sudah benar, memeluk dan mengecup bibirnya seolah tak mungkin lagi dilepas bagaikan direkatkan dengan lem super. Lucu sekali ekspresi air mukamu malam itu, ketika menceritakan teori itu. Ini adalah kelucuan yang kau tunjukkan yang membuatku tersadar, bahwa toh aku yang menikah, bukan keluargaku, dan hidupku terlalu sayang mengorbankan cinta yang dibuat seolah ada hanya demi menyenang-nyenangkan orang lain yang seolah senang ketika aku berpura-pura seolah-olah senang.

Waktu itu kau seolah adalah sahabatku. Aku selalu menyempatkan menyapamu ketika pesawatku singgah di Amsterdam, atau ketika aku sedang cuti di Jakarta. Mungkin kau adalah sahabat terbaikku, tempat aku bisa merasa bebas menceritakan banyak hal bahkan kegelisahan pribadiku, sekaligus mendapat respon yang berbagai macam jenisnya, mulai dari komentar yang cerdas bahkan dalam bentuk banyolan dan celetukan yang diwarnai tawa bahkan hingga pagi menjelang. Entah di bandara udara, entah di taman ria, halte bus atau trem, entah di Sarinah, entah di manapun. Tentang lelaki yang menyentuh hatiku dan hati keluargaku itu, kau mendorongku untuk segera menerima lamaran nikah darinya.

Aku masih ingat, waktu itu kau membuatku terhenyak dengan komentarmu, namun saat ini aku tertawa mengingatnya. Kau menegurku ketika menimang-nimang lelaki yang pantas kucintai dan ketika aku mengeluh seolah aku mencintai sebuah kualitas yang tak ada lelaki di dunia ini memilikinya. “Perempuan itu butuh seorang lelaki untuk dibentuk”, katamu, “…kalian perempuan akan berusaha mengubah segala perilakunya, kegemarannya, mulai dari kebiasaan, makannya, minumnya, cara berpakaiannya, semir sepatunya, caranya menyikat gigi, hingga merek parfumnya dan caranya berinteraksi dengan anak-anak di dalam keluarga. Itu kalian lakukan sepanjang kehidupan pernikahan, dan itu yang kalian anggap sebagai cinta sejati, ketika lelaki itu menurut dan mau saja”. “Namun setelah lima tahun menikah, kau lihat lelaki yang jadi suamimu itu duduk di sana. Ia telah berubah total, dan semua yang melekat di dirinya telah sesuai dengan apa yang kau dambakan dari seorang pria, dan kau berkata ‘…astaga, ini bukan lelaki lima tahun lalu yang kucintai dan kunikahi!’”.

Aku tak kuat menahan tawa mengingat ungkapanmu, yang mungkin sangat menjelaskan cinta yang hilang setelah pernikahan dan hidup suami isteri berjalan sekian tahun. Yang membuatku lebih geli lagi adalah, ketika kau menyebutkan bahwa itu adalah kesimpulan yang kau tarik tentang ketertarikan wanita memandang suami atau lelaki dari berbagai novel romantis yang banyak beredar. Tentu saja aku membantah hal itu, bagiku cinta sejati bukan perkara menaklukkan atau ditaklukkan dan lebih terkait hal abstrak, meski aku juga tak bisa menyangkal bahwa banyak hal-hal superfisial alias dangkal juga kupertimbangkan ketika berkaitan dengan dia yang kucintai secara seutuhnya…

Realitas kita beradu dalam serangkaian pertemuan demi pertemuan pada saat aku menginjak usia dua puluh empat, ketika itu kau telah menjadi lelaki berusia tiga puluh, namun dengan kematangan intelektual yang menuruku lebih lagi. Praktisnya kita hanya bertemu empat kali, namun aku baru sadar betapa berkesannya pertemuan-pertemuan itu hingga aku akrab betul dengan segala detail pertemuan kita itu. Pertemuan yang sangat pendek, singkat, di masa yang sangat lampau, namun masih terasa hingga sekarang. Ini jelas bukan Tiga Reduksi Cinta yang jadi bahan canda dan tawa kita itu. Namun aku tak kuasa tersenyum sambil memandangi nisanmu ini ketika sekarang kusadari sebenarnya ketiganya ada pada dirimu, dan tak dimiliki mereka yang pernah singgah baik dalam hidup maupun di hatiku.

Lima hari lalu, Risang, cucu saudara perempuanmu datang sore itu ke rumahku. Di tangannya ada sepucuk surat. Kita sudah tak bersua  lebih dari limapuluh tahun. Aku telah beranak dan bercucu. Suamiku telah berpulang empat tahun lalu, seseorang yang kucinta, namun entah bagaimana berbeda dengan perasaan yang kurasa dan kukenang bersamamu. Aku, anakku, dan cucuku mengenangkanmu sebagai seorang komposer kesohor di negeri kita tercinta ini. Namamu selalu tertulis di dekat berbagai judul lagu bertema perjuangan yang tertoreh dari pena dan refleksi cintamu pada negeri ini. Kau terkenal, namun aku tak yakin kau masih ingat padaku - dan aku juga tak pernah tahu bagaimana nasibmu. Malam itu tiga puluh tahun lalu, kita bertemu terakhir kali. Kita berjanji untuk bertemu lagi dan saling menghubungi, namun kau bagaikan raib dan lenyap, sementara namamu terus membubung.

Aku tak tahu tentangmu hingga kubaca surat yang dibawa Risang. Sebuah surat yang menunjukkan padaku kenyataan bahwa kau tak pernah menikah, bahwa sebuah lagu yang sering dinyanyikan di televisi sebagai sebuah lagu tentang keindahan hamparan sawah dan cantiknya gadis nusantara sebenarnya ditulis dengan kenangan akan keberadaan diriku dan indahnya persahabatan kita yang hanya tercermin dalam empat pertemuan yang entah bagaimana sangat intim bagi kita berdua namun mungkin membosankan bagi kebanyakan orang. Semua bagiku mengharukan dan menggelorakan serta memberi energi yang entah bagaimana membuatku seolah tiba-tiba jadi gadis berusia dua puluh empat tahun lagi ketika bertemu denganmu. Semua mengharukan, hingga sebuah paragraf dalam suratmu itu kau menyebut…

…dan kesalahanku terbesar yang tak mungkin bisa kuubah adalah bahwa aku terlalu pengecut untuk menyatakan perasaanku padamu, Rini. Aku selalu tak punya keberanian untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu, bukan sebagai sahabat semata, tetapi juga sebagai kekasih, sebagai temanku hidup menikmati kemerdekaan negeri kita. Bahkan belakangan aku tak menghubungi kau dan rumahmu di Jakarta karena aku terlalu takut, oleh sebuah perasaan yang aku tak mengerti. Entah itu karena penindasan kolonial yang menyiksa secara psikologis sehingga aku mesti meredam perasaan tak hanya secara intelektual dan kepercayaan diri tapi juga rasa cinta yang paling dalam dan paling pribadi. Aku tak kuasa berbicara hal di luar apa yang umum dan publik dan abstrak meski harus mengorbankan rasa cintaku yang terdalam buatmu...

Ada beberapa kalimat lagi, dan air mataku tak bisa berhenti mengucur bahkan hingga sore ini aku berdiri di sini, di depan nisanmu. Ada fotomu di sana. Mungkin hanya satu dari sejuta wanita yang pernah merasakan rundungan perasaan semacam ini. Aku tak tahu harus bagaimana. Kugenggam tangan cucuku paling kecil yang menemaniku dan sedari tadi terkaget-kaget ketika kubilang makam ini adalah makam kakeknya yang seorang komponis pejuang nasional. Aku berdiri di sana terpaku, entah berapa lama. Kalimat-kalimat dalam surat yang ditulisnya setahun sebelum meninggal dunia itu seolah terngiang-ngiang di telingaku. Sebuah kalimat terakhirnya…

…tapi sekarang kita sudah merdeka, kita sudah percaya diri, bangsa kita berdiri sama tegak. Apalagi bagi sekadar seorang pria yang berdiri tegak menyatakan cintanya pada seorang wanita yang dikasihinya. Aku menyayangimu, dan yakin ke depan, tak perlu ada lagi lelaki yang hidupnya tak selesai dari sisi cinta dan sayang seperti aku di masa depan yang terang-benderang…

Sangat mungkin kita justru paling bisa mencintai orang yang paling kita kurang kenal. Cinta datang secara misterius. Cintaku dan cintamu telah pupus oleh hidup yang berakhir dengan habisnya usia. Tapi aku tahu aku mencintainya dengan cara yang lain, meski aku berharap pernah berharap sadar mencintainya sebagaimana aku seharusnya mencintainya dan ia mencintaiku…

Kau merasakan penyesalan, dan aku merasakan cinta yang tak akan pernah bisa kurasakan dan hanya mungkin hadir dalam impian yang penuh kata “seandainya” ….dalam hidup yang kusadari tinggal beberapa tahun lagi di depanku.

Bandung, Oktober 2008

Comments are closed.