Bis yang kami tumpangi akhirnya berhenti di kawasan paling utara negeri ini. Semenjak kepergian ibu dari anakku satu-satunya, aku hanya memiliki satu alasan untuk hidup, Maria. Bis meninggalkan kami di pinggiran jalan, dan kami harus menempuh perjalanan kaki melintasi padang yang menguning ditambah efek petang yang mulai mereda. Angin menderu kencang. Sekonyong-konyong, putri semata wayangku ini bergumam…

“Ayah tidak takut dengan hantu?”
“…hantu hanya ada di pikiranmu!”
“…berarti ayah tidak punya perasaan takut?”, kami terus berjalan.

ha..ha..ha.., tentu ada, Sayang! Mana ada manusia yang tak punya perasaan takut!”
“…tapi kalaupun kamu bertemu dengan hantu, ia hanya jadi halusinasi dan menggambarkan apa yang mendorong rasa takutmu saja”
Aku melanjutkan sambil mulai mengambil langkah-langkah panjang karena kami sudah mulai memasuki hutan, “…sudah seratus lima puluh ribu tahun manusia hidup, hantu-hantu selalu menyertainya dalam cerita, gambar, bahkan lagu. Tetapi hingga hari ini kita tak pernah menemukan teori tentang hantu…”

Kami berjalan tanpa bicara, hingga Maria yang mungkin asyik dengan pikirannya dengan ucapanku sebelumnya, bertanya lagi,
“Lantas mengapa kita harus sembahyang?”
“Memangnya kenapa?”
“Kalau hantu hanya ada dalam pikiran, maka Tuhan juga hanya ada dalam pikiran ‘kan?”
“Maria, tidak ada hal yang kau lihat, pegang, sentuh, cium, dan rasakan yang bukan merupakan bagian dari pikiran…”
“…senyata-nyata kau pegang tanganku saat ini, sedemikian pula nyata-nyatanya adanya Kekuatan Pencipta tanganku ini…”
“…berarti hantu juga nyata, dong?!!”, mukanya cemberut entah karena bingung atau protes.
“…Ya, ia nyata bagi mereka yang dirundung rasa takut dan dipenuhi rasa berdosa.”
“Apa yang nyata adalah apa yang kita petakan dari pikiran dan apa yang kita anggap sebagai kenyataan…”

Matahari mulai tenggelam. Maria duduk beristirahat, sementara aku mulai memasang tenda, mengumpulkan kayu untuk membuat api, dan mengeluarkan beberapa daging kaleng dari ransel yang kubawa.

“…Ayah, apa yang terjadi jika kita mati?”
Aku tersenyum melihat wajah Maria.
“…kita menjadi bebas! Kematian itu menarik hidup kita ke sebuah titik, mungkin sama seperti gravitasi yang menarik batu untuk kembali ke tanah sekuat apapun kita lempar…” Aku lempar sebuah batu ke atas, dan batu itu jatuh lagi ke tanah. Maria tersenyum… tapi hanya sebentar, ia bergumam lagi…

“…tapi kenapa kita takut sekali mati?”
“…ah, siapa yang takut mati, Maria?”
“…memang ayah tak takut mati? …eee…kita selalu berbelasungkawa jika ada orang yang mati…”
Lagi-lagi aku tersenyum.
“…manusia takut mati karena ia tak tahu apapun tentang kematian itu… padahal secara logis kematian itu adalah puncak dari kenikmatan ketika jiwa terbebas dari kungkungan tubuh…”

Maria protes, ia berdiri dan berkacak pinggang…
“…Bu Lusi mengatakan mati itu menyakitkan… kematian itu lebih sakit daripada apapun rasa sakit yang bisa kita rasakan!”
“…aha, Maria! Kita selalu merasa sakit, karena tubuh kita sakit. Kita merasa dingin, karena tubuh kita merasa suhu yang lebih rendah. Kita merasa lapar, karena kadar gula dalam darah di tubuh kita rendah… Kita merasa sakit atau nikmat itu karena tubuh. Sekarang bayangkan… ketika mati, jiwa kita terlepas dari semua perasaan-perasaan badani itu. Bukankah kita menjadi merasa bebas?”

Aku menyalakan api unggun, dan mulai membuka kaleng berisi daging bekal, bersiap untuk makan malam. Kulihat kening Maria mengernyit.

“…ayah, kita takut mati karena kita tak tahu apa-apa tentang kematian itu?”
“….yup! Ketidaktahuan adalah hal yang paling menyakitkan dan sumber dari segala ketakutan dalam hidup. Pengetahuan adalah api dari kehidupan dan yang memberikan kedamaian dan rasa kenyang yang abadi…”
“…itu makanya kamu tidak boleh berhenti untuk mencari tahu, belajar, bertanya…. Itu membuat hidupmu menjadi benar-benar hidup. Kebodohan adalah sumber penyakit dan rasa takut!”, aku tertawa kucolek hidungnya yang kembang-kempis kedinginan.

Makanan hampir matang, roti bagel mulai kubuka dari bungkus plastiknya. Aku melihat kernyitan di dahi Maria belum hilang…

“…itu sebabnya, Tuhan itu kita nyatakan sebagai sumber pengetahuan utama, Maria! Ia adalah puncak pengetahuan, karena dengan kematian, jiwa menjadi mungkin bertemu dengan khaliknya, dan dengan kematian kita menjadi tahu sebuah hal yang tak mungkin kita ketahui selama hidup…. yaitu kematian itu sendiri. Hanya dengan mengalami sendiri kematian itu, maka keingintahuan kita tentang kematian pun terjawab…  ”

Mata Maria membelalak… “…wow!

***

Pagi-pagi keesokannya kami mulai masuk ke salah satu gua yang paling besar yang tercatat sebagai salah satu gua tempat satu peradaban kuno pernah tinggal di sini. Maria bermain-main dengan batu-batu stalaktit tak jauh dariku. Gua ini sangat gelap, dan kami hanya dibimbing oleh sinar lampu petromaksku. Gua yang sangat berdebu ini membuat nafasku sesak juga.

“…ayah bilang dulu pernah ada orang tinggal di gua ini?”
“Ya, Maria…setidaknya itu catatan sejarah yang ada di jurnal ilmiah ini…”

“…dan ayah mencari tahu tentang kehidupan masyarakat nenek moyang ini, agar ayah menemukan ketenangan dalam hidup. Mengetahui asal-usul adalah sesuatu yang penting untuk memberi kedamaian dalam hidup!” Aku terhenyak. Aku lihat kalimat itu keluar dari mulutnya yang polos. Ia masih terpikir oleh diskusi kemarin malam, pikirku. Aku tersenyum pada malaikat yang terjebak dalam tubuh putriku yang belum lagi akil balik ini…

“…iya, Sayang! Mencari pengetahuan dan membongkar ketidaktahuan adalah tugas hakiki spesies kita, homo sapiens, oleh karena kita dibekali dengan akal budi!”

Kuasku tiba-tiba terhenti, ketika Maria yang dari tadi melompat-lompat gembira tiba-tiba dengan polosnya berujar…

“…aha… mereka berburu bison, Ayah…”
“…apa?”
“…ya… mereka memelihara bison, ini tentu mereka yang menggambar ‘kan?”, tangannya yang mungil menunjuk ke langit-langit gua.

Aku sangat kaget. Aku melompat, kupeluk Maria. Ya ampun, ia telah menemukan apa yang kucari-cari selama ini. Sebuah lukisan mahakarya yang berusia 19.000  tahun terkuak oleh kepolosan seorang gadis kecil putri kesayanganku, dan malaikatku!

Maria kaget, seolah heran mengapa aku begitu terkejut. “…memangnya ayah dari tadi tak melihat lukisan itu?”

Keesokannya pagi-pagi benar kami terburu-buru naik bus pertama ke ibukota. Di sana kutemui, Rodenita, pengajar di jurusan arkeologi yang juga sahabatku. Tak henti-hentinya aku menyebut bahwa Maria adalah orang pertama yang melihat lukisan yang luar biasa indah dan detail itu.

Beberapa kali kami akhirnya kami ke gua itu, dan luar biasa memang. Lukisan 19.000 tahun, dan gambarnya telah sangat naturalistik. Rapi besar, dan ini merupakan lukisan raksasa. Ini sebuah mahakarya. Ah, tanpa Maria aku tak akan menemukan bukti sejarah luar biasa ini!

****

Sekarang aku dan Maria berada dalam bus lagi, tapi sekarang bukan ke hutan. Aku ingin menunjukkannya bagaimana para ahli dan ilmuwan berkumpul dalam sebuah konferensi ilmiah. Gambar-gambar replika lukisan tua temuan Maria itu kupresentasikan, dan Maria duduk di sana. Terlihat matanya berbinar-binar, ketika dengan bumbu humor kusebut namanya di podium. Aku bangga sekali padanya, dan aku tahu, bahwa sekarang ia menyadari pentingnya arti pengetahuan.

Namun presentasiku di konferensi internasional itu tak berjalan mulus. Belum lagi aku selesai, beberapa profesor mulai memberikan serangan yang sangat memilukan hati.

Uraian profesor Gabriel, seorang arkeolog terkemuka dari Perancis, yang bahkan kukagumi karya-karyanya, memberikan banyak poin-poin kuat yang mematahkan argumenku bahwa ini adalah peninggalan berusia 190 abad. Uraiannya sungguh rapi karena ia sendiri memang telah lama melakukan penelitian serupa. Semua bertepuk tangan padanya. Aku sendiri hampir saja ikut berdiri dan menunjukkan rasa kagumku pada banyak argumentasinya. Sungguh, aku orang yang percaya pada sains dan kemampuan logika dalam memahami alam, dan memang dalam sains argumentasi yang satu dapat dengan mudah mematahkan argumentasi atau dugaan lain. Aku pernah menceritakan hal ini juga pada Maria.

Hingga Profesor Gabriel menutup dengan mengatakan, “…jadi… temuan ini tak mungkin adalah temuan dan lukisan purba!”, aku tak mempermasalahkannya. Yang membuatku gemetar adalah kalimat-kalimatnya berikut…

“…sungguh disayangkan kita mesti tertipu dengan mendengarkan penipuan di konferensi sekelas pertemuan kita ini. Melihat latar belakang ke-amatir-an rekan kita ini, saya justru ingin menunjukkan bahwa sangat mungkin lukisan ini adalah lukisan yang bersangkutan sendiri, untuk merebut perhatian ilmuwan seperti kita”

Tak berhenti sampai di situ, ia masih melanjutkan…

“…ini adalah pemalsuan fakta dan sungguh memalukan bukan buat yang melaporkan, tapi bagi kita ilmuwan yang merepresentasikan arkeolog dari seluruh dunia!”, dan Profesor yang tadinya kukagumi itu menutup dengan, “….dan sekarang saya mengusulkan pada forum ini, bahwa tugas untuk menyelidiki siapa pelukis sebenarnya lukisan gua ini bukanlah kita, para arkeolog, tapi menjadi tugas pihak kepolisian…. Ini adalah tindakan kriminal seorang amatir yang merusak tatanan ilmu pengetahuan!”

Aku lemas. Aku masih melihat wajah kaget Maria. Aku dipaksa turun dari panggung presentasi. Kudekati Maria, kupegang tangannya, dan kami keluar dari ruangan itu dengan gerutu caci maki yang aku tak tahu, bagaimana Maria melihat semua ini…

****

Aku masih terkenang. Itu kejadian empat belas tahun yang lalu. Semenjak itu, oleh prakarsa paman aku dimasukkan ke asrama putri. Ayah tak diizinkan mendidikku belajar di rumah dan melarang aku ikut setiap kali ayah mau meneliti ke luar kota lagi. Aku harus bersekolah seperti anak-anak normal lainnya. Ayah menjadi sangat pendiam hingga saat itu, hingga akhirnya ia menemukan kebebasan jiwanya dari tubuhnya. Ayah telah tiada dan kini aku duduk dengan menggenggam Jurnal Antropologi terbaru yang dalamnya terdapat artikel berjudul  “Mea culpa d’une sceptique“.

Ayahku adalah seorang pencinta sains. Ia adalah pendekar pengetahuan meski bukan orang yang hebat dengan retorika, sebuah kemampuan yang dimiliki oleh mereka yang mengaku dirinya akademisi. Akademisi yang pintar mengolah kata namun kebanyakan tak memiliki cita rasa pengetahuan dan kecintaan pada usaha mencari pengetahuan. Akademisi yang masih takut mati, takut hantu, takut dan takut… yang lupa bahwa sumber dari segala ketakutan adalah ketidaktahuan. Ayahku adalah penemu pertama lukisan prasejarah yang pernah dikenal di peradaban dunia. Ayahku yang kutahu sangat mencintaiku, yang mungkin berusaha membuatku mencintai pengetahuan karena cinta pada ilmu pengetahuan adalah bentuk kecintaan pada Sang Khalik.

Ayahku yang mengajari esensi dasar dari hidup. Ilmu pengetahuan mungkin bukan tempat kita menemukan kebenaran yang hakiki, namun adalah jelas bahwa sains adalah satu-satunya tempat kita bisa menemukan kejujuran yang sebenar-benarnya.

Diamnya ayah semenjak konferensi itu mungkin melunturkan keyakinannya sendiri akan masyarakat akademia dan sains. Mungkin ayah merasa gagal menunjukkan padaku yang waktu itu masih sangat muda tentang hal ini. Tapi, aku tahu jiwanya saat ini telah bebas, dan ia telah lama tahu akan kebenaran apa yang baru kubaca di jurnal ilmiah ini.

Ayahku akan selalu membuatku bangga dan paham akan hidup dan pentingnya pengetahuan. Ayahku Marcelino Sanz de Sautuola. Ilmu pengetahuan dan kejujuran itu senantiasa berbicara pada umat manusia, bukan hanya pada satu generasi saja, tapi pada umat manusia dari semua generasi. Beristirahatlah dengan tenang, Ayah…

Madrid, Juni 1902.

Bandung, Oct 18th 2008

Comments are closed.