upgp1.jpg

Aku berdiri di dekat mata air itu. Ya, aku berada di sebuah tempat yang mestinya terkenal tapi sungguh, tempat ini sangat sepi padahal petang belum juga turun. Aku berada di tempat ketika Ical dan aku sering bercengkerama di sini. Ical yang membawaku ke tempat ini. Ia menuntunku agar aku tidak memandang dunia sedangkal yang semestinya. Bahwa eksotisme kuno dan tradisional bisa jadi adalah jawaban kebuntuan akan inovasi dari ekonomi pasar yang mengglobal seperti yang terasa hari ini. Ical telah mengubah bagaimana aku mestinya memandang dunia. Aku lahir, dibesarkan, dan bersekolah di desa kecil tak jauh dari tempat aku berdiri saat ini. Desa di mana tempat paling kota adalah Sukabumi, sebuah tempat ramai di mana ibu biasa mendandani aku agar wajahku tak terlalu kampung saat menemani ayah menjualkan hasil panen teh kami. Duniaku adalah dunia yang jauh dari hiruk pikuk kota, yang bosan dengan senyapnya desa. Cara pandangku adalah dunia yang jauh dari keramaian bioksop 21 apalagi dunia maya Google, yang terkadang muak dengan suara penyiar radio yang tak bosan-bosan memutar dendang Sunda atau dangdut. Horizonku adalah dunia yang rindu dengan manisnya boneka Barbie dan lezatnya Pizza Hut, yang muak dengan kuliah ibu tentang rajutan sambil mengunyah ikan peda atau peyeum yang itu pun terkadang sudah dianggap makanan mewah. Aku tersenyum mengingat wajah lucu Ical ketika aku menceritakan semua itu.

Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang diadakan serempak seantero negeri telah membawaku ke impian-impian masa kecil itu. Aku akhirnya bisa menikmati Justin Timberlake di restoran Pizza Hut ketika ditraktir oleh mahasiswa yang menganggapku cantik, yang kukenal melalui Friendster dan selalu menghadiahiku dengan emotikon lucu nan romatis di ruang chatting. Namun Ical telah mengubah semua itu. Ketika mimpi akan hidup yang mengasyikkan menanjak terus dalam cakrawalaku akan regangan Adidas di tubuhku, denting raket Wilson di lapangan tenis kampus, dan Nokia terbaru yang berdentam-dentam dihujam SMS sobat-sobatku, Ical hadir di sana dan membuka relung kerinduan purba akan kemegahan masa lalu; bukan masa laluku, tapi masa lalu mereka yang memberi warisan terbaik buatku. Ical hadir dengan teguran, bukan dengan rayuan. Ical hadir dengan arahan, bukan dengan pujian. Ical adalah sosok yang kubenci dan kurindu sekaligus yang memberi hawa segar ketika aku berada di dekatnya dan memberi kehangatan ketika matanya menatapku. Ia datang dan membongkar impianku yang sangat dangkal tentang hidup. Ia membuatku membuang kekagumanku yang konyol akan aspek budaya yang semestinya membuatku merasa tercuri.

Siang itu Ical datang ke tempat aku kos. Aku sedang bersiap hendak pulang mudik, besok adalah libur panjang, dimulai dari Kamis, Jum’at, dan tentu saja Sabtu dan Minggu. Ayah dan ibu menanti di rumah.

“Mau mudik, Rin?”, tanya Ical.
“Iya… agak males sih, tapi mau gimana lagi, gak ada alasan nih…”

“Aku mau tunjukin tempat yang bakalan bikin kamu penasaran….”
“Apa? Dimana? Males ah sama kejutan….”

“Gak, ini bukan kejutan. Ini adalah hal biasa buat kamu selama ini tapi nanti bakalan jadi luar biasa…”
Ia melompat ke dalam kamarku. Entah bagaimana ia membantuku berkemas memasukkan barang yang mau kumasukkan ke dalam tas ranselku.

Lho, katanya mau nunjukin tempat asyik. Kok malah bantuin packing? Ngusir ya?”

Seringainya selalu lucu di mataku. Wajahnya memang tak tak tampan, tapi ada sesuatu di tatapan matanya yang membuatku selalu merasa bahwa tiap hari aku semakin mencintainya. Tak menjawab, ia langsung menarik tanganku keluar kamar kos.

Sekejap kami sudah ada di stasiun Leuwipanjang. Ia tak memberi penjelasan mengapa ia ikut mudik bersamaku. Ia begitu bersemangat ketika kami naik bus menuju kampung halamanku. Kami duduk bersebelahan. Mungkin masih beberapa waktu lagi bis baru akan berangkat, pikirku, dan aku merasakan kehangatan yang indah ketika tangannya menggenggam jemariku. Ia memandangiku dengan lucu.

“Lihat apa?”
“Kamu….”
“Kenapa? Jelek ya?”
“Iya, yang paling jelek dari semua bidadari Parahyangan, tapi paling menyenangkan, paling manis dan baik, paling setia, paling….” ia terhenti sejenak, ada orang melintasi koridor dalam bis di dekat kami duduk, “….paling aku sayang sampai kapanpun…” Kalimat setengah berbisik yang mungkin baru pertama kali keluar dari mulutnya. Aku terdiam. Aneh sekali perasaanku. Aku tak mengerti apa maunya Ical kali ini. Hmmm… apakah ia mau ikut mudik untuk melamarku? Ah, aku belum mau kawin, Ical!

Aku sempat tertidur di pundaknya dalam perjalanan. Ia membangunkanku dengan membelai rambutku dengan lembut. Kami sudah sampai di Sukabumi. Ia mengajakku turun. Tapi aku makin penasaran. Ia membawaku naik angkutan ke arah desa Campaka, bukan ke desa tujuanku. Ia tersenyum-senyum. Aku ikut saja ketika ia mengambil angkutan yang berlawanan arah dengan yang semestinya itu. Kami duduk di angkutan kota.

“Tempat ini ada jauh sebelum orang leluhurmu kenal dengan tulisan, dekorasi dan ornamen….”
“Tempat apa…?”
“Tapi teknologinya luar biasa. Mereka membangun konstruksi anti longsor tanpa pengetahuan tentang hukum Newton sama sekali!”
“Siapa?”
Wuiih… tak sabar aku menunjukkannya pada dirimu, wahai puteri Priangan!”
Matanya memandangku dengan tajam tapi sungguh lembut. Aku tersipu. Aneh, hari ini pujian berkeluaran secara lancar darinya membuatku kehilangan pertahanan diri.

Ada sekitar sejam kami mesti jalan kaki. Ia membawa ranselku dan ranselnya sekaligus. Tanganku bahkan sudah perih dengan hanya menenteng botol air mineral. Jalannya tak ber-aspal. Kaki hampir lecet hingga kami berada di sebuah gerbang yang menurutku sungguh angker dan seram di siang bolong itu. Ya, aku sudah lama mendengar tentang tempat ini, tapi baru kali ini aku berada langsung di tempatnya: kawasan megalitikum gunung padang. Tak ada siapa-siapa yang menyambut, meski di sana berbagai plakat kayu menerangkan tempat itu adalah tempat wisata yang dilindungi negara, bla.. bla… bla…

Senyap sekali dan aku tak kuasa memandang undakan tangga yang tinggi sekali. Ia mengajakku mulai menyusuri tangga. Lututku hampir copot. Siapapun yang membangun tempat ini pasti membuatnya untuk bertahan hidup, pasti tujuannya sangat penting. Tempat ini pasti dibangun bukan untuk senang-senang. Pikiran berkecamuk di kepalaku, sementara desah nafas kelelahan mulai mengeras dari hidungku. Wah, aku perlu rajin-rajin fitness

Setengah jam kami mendaki, letih, tapi ada rasa penasaran yang terus-menerus berakumulasi dalam pikiranku melihat tumpukan batu berbentuk persegi yang jadi anak-anak tangga ini. Rasa penasaran ini membunuh pelan-pelan rasa gelisah dan tak pasti serta keheranan mengapa Ical membawaku ke tempat ini. Ical sesekali memegang tanganku membantuku melawan rasa letih tubuhku melawan gravitasi. Hingga kami tiba di anak tangga terakhir dan di hadapan kami terpampang sebuah lanskap yang sungguh membuat jantungku hampir berhenti berdegup.

Kulirik ada senyum di wajah Ical melihat tumpukan batu-batu andesit yang berbentuk persegi dan berukuran sangat besar di hamparan datar di tempat yang sangat tinggi ini. Senyuman yang menurutku sangat membuat wajahnya menjadi luar biasa ganteng. Kami berpegangan tangan menyusuri batuan yang tegak di tanah. Tak ada kata, hanya semilir angin. Tak ada orang di tempat yang mestinya jadi tempat wisata namun tak bisa populer itu. Ada nuansa kuno, tapi ada ketakjuban di dalam benakku. Nenek moyangku-kah yang membangun ini semua? Tapi mengapa dari tadi aku tak melihat ornamen keagamaan sebagaimana yang terlihat di candi-candi? Kenapa bentuknya semua hanyalah batu-batuan persegi? Semua serba persegi. Guru-guru sejarah mungkin menyebut tempat ini sebagai situs punden berundak-undak karena memang banyak undakan bebatuan di sana. Tapi peradaban yang membangun tempat ini sepertinya memang belum kenal dengan tulisan, benar kata Ical ketika kami masih dalam perjalanan dari Bandung tadi.

“Kamu mesti bangga, Rini…,” lirih Ical, “…ini bukan Eropa!”
Kami berjalan melintasi puing-puing bangunan berbentuk kotak itu, yang juga dibangun dengan kotak-kotak batu. Keteraturan yang aneh ditambah semilir angin gunung mendirikan bulu kudukku. Hal ini mungkin ditambah dengan kesendirian kami berdua di tempat ini. Hanya karena aku sedang bersama Ical, aku merasa hangat dan nyaman. Ada kenyamanan ketika bersama Ical yang aku tak bisa terangkan, sebuah rasa aman yang mungkin berasal dari rasa cintaku padanya.

Ical adalah orang yang membuatku sadar bahwa para pemimpin negeriku secara sadar atau tidak sadar telah membuat masyarakatnya merasa lebih rendah dari bangsa pembuat Mercedes, Suzuki atau Yamaha. Ia pernah mengatakan bahwa orang terkadang lupa akan kecantikan mojang priangan ketika berhadapan dengan kecantikan mereka yang berakting di depan kamera Holywood. Ia marah ketika aku membanding-bandingkan dirinya dengan si ganteng Brad Pitt, suatu hal yang bagiku sangat menggelikan. Di tengah tumpukan batu ini pula aku terakhir kali menggenggam hangatnya tangan Ical. Di tumpukan-tumpukan batu di tempat di mana ketinggian gunung Gede, gunung Karuhun, dan gunung-gunung lain adalah setara dengan ketinggian hidungku, aku merasakan cinta Ical untuk terakhir kali.

Siang itu langit mendung. Kami berlarian di tumpukan batu itu dengan gembira. Sungguh romantis sore itu. Rasa letih lenyap ketika romansa hingga di tengah pelukannya di tempat yang tinggi ini. Mendung itu tiba-tiba berubah menjadi hujan rintik-rintik, dan tak ada tempat berteduh di sana. Tak ada pepohonan yang cukup untuk membuat kami tetap kering dan untuk berlari turun menyusuri ratusan anak tangga turun ke bawah berisiko jatuh karena licin. Kami biarkan air langit membasahi. Dari ransel kami keluarkan pakaian mudik yang kubawa untuk menahan terpaan gerimis di kepala.

“Ical… tempat ini aneh sekali!” kataku.
Ia tertawa-tawa. Sore itu kami duduk di tumpukan batu melepas lelah dengan sebotol air mineral. Ical berada tak jauh dariku, sibuk melihat bebatuan. Terkadang ia berkacak pinggang. Entah apa yang ada di benaknya. Aku duduk dan melihatnya kesana kemari di tengah tumpukan batu yang ratusan meter persegi itu. Hingga entah bagaimana rintik hujan dan keletihan mmebuatku merasa sangat mengantuk. Dan itulah kali terakhir aku melihat Ical. Hari telah sore. Gerimis telah berhenti. Aku seorang diri di ketinggian tumpukan batu-batu kuno itu. Tak ada Ical ketika sadar bahwa aku telah tertidur beberapa jam lamanya.

Aku mencari-cari Ical sore itu. Tumpukan batu demi tumpukan batu kulewati dengan panik sambil berteriak-teriak memanggil nama Ical. Entah bagaimana, ketika aku tertidur Ical telah ditelan bumi.

“Ical….. Ical…. kamu di mana?”
Tak ada sahutan.
“Ical…. jangan ngerjain deh…. udah sore!”
Hanya ada kebisuan.
“Icaaaaal!”
Hingga langit memerah aku sadar bahwa Ical tidak ada, dan ini bukan canda. Mungkinkah Ical meninggalkanku sendiri di tempat seperti ini? Aku mulai kuatir Ical mungkin terjatuh? Atau ada ular yang menggigitnya? Berbagai sangkaan hinggap. Tapi aku sadar bahwa aku mesti segera turun dari puncak bukit ini. Ical sudah tak ada di sini. Aku panik. Aku setengah berlari menyusuri anak tangga yang kecil dan gelapnya petang mulai hinggap. Mulutku meneriakkan nama Ical, dan mataku berisak air mata. Aku tak tahu perasaan apa yang ada di situ. Ical pasti telah mengalami sesuatu. Beberapa belas menit aku sampai di bawah setelah beberapa kali hampir terjatuh. Di bawah tidak ada orang. Ada rumah penjaga tempat arkeologis ini. Aku berlari menghambur ke pintunya dan menggedor keras-keras. Tak ada sahutan.

“Pak….pak…. tolong….”
Tak ada sahutan. Aku berteriak-teriak malam itu. Malam itu aku berjalan kaki sendirian di tengah hamparan kebun teh dan jalanan bebatuan. Dini hari aku sampai di rumah. Aku pingsan. Aku terbangun dengan jarum infus telah memasukkan cairan garam di lenganku. Aku koma tiga hari kata suster.

Sekarang aku berdiri di tempat Ical kulihat terakhir kali. Tempat ini masih sepi. Itu kejadian dua tahun yang lalu. Ical dikatakan raib. Polisi sempat menanyaiku. Ical hilang ditelan bumi. Tak ada apa-apa di sini. Tak ada jejak Ical. Ical telah hilang. Aku pandangi mata air tempat Ical mengisi botol air minum kami waktu itu. Seorang diri aku naik ke atas gunung tempat batu-batu megalitikum itu bertumpuk-tumpuk. Sesampai di atas, aku seolah merasakan Ical ada di situ. Ya, minggu lalu aku telah diwisuda, dan tak ada Ical di sana. Bebatuan persegi dan berbentuk kotak yang membentuk tempat persegi aneh itu masih sama. Semua masih sama ketika aku pertama kali berdiri di sana pertama kali. Hanya saja tadi di bawah aku masih sempat bertemu dengan kuncen penjaga tempat ini. Ada keramaian di bawah tadi, oleh petani kebun teh yang bercengkerama. Tapi di atas sini aku sendirian.

Aku duduk di sebuah tumpukan batu. Kulihat langit di dan batas cakrawala di kejauhan. Tanpa terasa ada air hangat jatuh di pipiku. Aku kehilangan orang yang kusayang di tempat ini. Entah dari mana bunyinya, aku dengar dentingan nada-nada. Seperti ada orang yang bermain kulintang. Kucari-cari dari mana sumber bunyi itu. Seperti besi dipukul-pukul dan membentuk nada-nada tradisional Sunda. Apa itu? Aku berdiri dan mencari-cari sumber melodi yang mendirikan bulu kuduk itu. Nada yang aneh.

Makin lama nyanyian dan ketukan kulintang itu makin keras. Aku menerawang dan di bagian tengah dari situs megalitik ini kulihat seorang lelaki tua berambut panjang memukul-mukul sebuah batu. Astaga, bunyi kulintang itu bukan dari kulintang, tapi dari bebatuan yang ada dipukul-pukul oleh lelaki tua itu. Aku agak mempercepat langkah mendekati lelaki itu. Namun tak sampai lima meter mendekati posisinya, aku tak melihatnya lagi. Astaga, menghilangkah dia? Apakah dia makhluk halus penunggu tempat ini sebagaimana sering dimitoskan orang? Ya ampun, aku tadi baru melihat apa?

Aku masih bingung, tapi curah hujan yang sedang tinggi membuat tanah di sini memang agak lembek. Sepasang jejak terpatri di sana. Aku tadi tidak sedang berhalusinasi atau melihat jin. Tadi memang ada orang baru berdiri di situ. Tapi aneh, jejak itu hanya sepasang. Tak ada jejak lain yang menunjukkan ia beranjak dari tempatnya berdiri di situ. Aku mendekati jejak itu. Kuingat-ingat posisi lelaki tua itu dan meraih sebuah batu yang mirip pemukul gong. Kupukul batu sebesar tubuhku yang ada di depanku yang tadi kulihat dipukul-pukul oleh lelaki tua itu. Benar saja, suara pukulan yang keluar bukanlah suara batu yang dipukul, tetapi suara dengan nada-nada tertentu. Nada dan ketika aku memukul batu yang tergeletak melintang di sebelahnya aku telah membunyikan dua nada. Ah, aneh, suara itu indah sekali. Aku seolah lupa dengan keherananku dengan orang tua tadi. Tanganku terus saja memukul-mukul batu itu, lentingannya cukup menenangkan. Aku teringat dengan lagu-lagu untuk keperluan meditasi yang kini marak dijual di toko-toko CD dan kaset. Sekonyong-konyong aku teringat dengan Ical, dan sekonyong-konyong lagi aku seperti melihat wajahnya kemana pun aku melirikkan mataku. Aku memang merindukan Ical, tapi entah mengapa aku tiba-tiba menjadi sangat merindukannya saat ini. Aku masih memukul-mukul batu-batu besar itu dan nada-nada dentingan terus saja menggema di kekosongan tempat kuno nan terlantar ini.

Dua tahun lalu aku berada di tempat ini dan Ical. Ical menghilang, raib entah kemana. Aku tak tahu apa kaitannya dengan batu-batu yang memberi nada-nada menenangkan ini. Tiba-tiba aku tersadar hari sudah sangat sore. Angin petang mulai mempermainkan rambutku. Sinar mentari menjingga mulai menyeruak. Aku merasa harus segera turun. Akhirnya kuhentikan pukulanku pada batu-batu itu. Wajah Ical yang kusayang mulai menghilang di mataku. Aku masih merindukannya. Aku berpaling dan bersiap melangkah untuk turun, pulang. Pikiranku kosong tatkala aku menuruni situs kuno yang cederung tak terawat itu.

Namun ada sesuatu yang aneh terjadi pada diriku begitu aku mulai menyusuri jalan desa ke jalur angkutan kota. Ada suatu perasaan yang aneh hinggap di diriku. Seperti sebuah perasaan lega yang tak bisa kujelaskan, apakah karena aku baru mengalami pengalaman aneh melihat orang tua itu, atau tiba-tiba rindu yang memuncak akan kekasihku, Ical, atau nada-nada dari batu yang dibunyikan itu, atau apa….

Sebuah perasaan yang tenang, apalagi ketika sebuah angkutan kota mulai memperlambat jalurnya siap untuk menghantarku ke kota Cianjur. Ada kesejukan di hati yang aneh sekali. Ada suatu perasaan aneh yang entah bagaimana membuatku sangat yakin dan makin lama makin kuat dan menenangkanku. Aku entah bagaimana merasa bahwa Ical masih ada. Ia masih hidup dan ia masih mencintaiku. Sesuatu yang berbeda, mungkin dimensi, mungkin mistik, mungkin apa, sesuatu tempat di mana Ical ada, hidup, dan ia masih merindukanku, sama seperti aku juga masih merindukannya hingga hari ini…. Cinta yang abadi dan tetap menyala meski telah mendapat kesan purba, kuno, dan dianggap aneh, bahkan ditelantarkan oleh peradaban dan kekinian.

Bandung, medio Maret 2008

One Response to “Nyanyi Gunung Padang”
  1. Hokkyyy…!
    kamu bikin aku sedih bacanya!!

Leave a Reply