Perempuan cantik itu terus berjalan, ransel ditentengnya dengan satu lengan saja. Sambil berjalan ia mendekatkan sebuah mikrofon ke mulutnya – mikrofon yang tersambung kabel ke sebuah earphone ke telinga kanannya.
“…iya, Siti lagi di mall juga nih, rame banget tau gak, Yang…”
Sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
“…wah, mau dong… itu bagus banget lagi.., nanti Siti bisa ikutan dong, ya?”
Tiba-tiba di tertawa.
“…ha..ha..ha…, kamu itu ya, nakal dan genit tahu gak…”
Dia berjalan terus, sesekali membenarkan ranselnya.
“…kamu itu mesti banyak istirahat, lho… ntar sakit siapa yang repot, coba….”
Matanya menerawang, sementara langkah kaki telah terhenti di anak tangga eskalator.
“…iya, Siti juga sering kan begadang, tapi ya, kesehatan itu penting, Yayang…”
Ia meneruskan langkahnya, matanya menerawang ke etalase di koridor tempat ia berjalan.
“ah, kamu… eh, nanti kalau kamu ultah Siti mau ngasih hadiah spesial… pasti suka!”
Matanya masih saja melihat-lihat ke etalase.
“Idiiih… sana makan ah, ntar kamu sakit lagi. Siti gak tenang kalau kamu sakit….”
Hampir saja dia tertabrak orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
“…tuh, Yang, Siti hampir nabrak orang nih….”
Cekikikan tawanya mungkin terdengar seksi di seberang sana.
“Berapa semua?,” perempuan cantik itu bertanya pada seorang pramuwisma.
“…iya, ini juga lagi beli kue, laper dan stress tau gak di kantor….”
Dari dompetnya ia keluarkan selembar uang seratus ribuan.
“aduuuh, enak banget! Mahal gak di sana?”
Sebagaian jemari di tangan kanannya menerima uluran bungkusan plastik kue, sementara jemari lainnya menerima kembalian. Tangan kirinya masih mendekatkan mikrofon kecil itu ke bibir seksinya.
“ah… kamu itu kok gitu sih, Siti mau dong….”
Seanggukan ramah dan senyum tipis ia sodorkan ke penjaga toko kue itu, ia melangkah keluar toko dan kembali di koridor mall yang sejuk itu.
“Siti kan udah bilang berapa kali, pastikan apa yang diperlukan dong sebelum berangkat ke kampus….”
Orang makin banyak saja lalu-lalang, karena makin sore.
“…ha…ha…ha… gak kebayang deh wajah kamu dibegitukan….”
Ia tertawa, orang terus juga berlalu-lalang.
“Eh, tau gak, papa kemarin marah lho, sama Siti”
Ia berjalan dan nyerocos terus. Tangannya memegang bungkusan kue yang lebih besar dari ukuran kepalanya itu.
“…masa Siti masih dianggap kayak gadis SMA, pake jam malam-lah, mesti ini-itulah, semua-semua deh, bosen….”
Bibir merah tanpa lipstiknya merengut keriting. Matanya mencari-cari sesuatu.
“eh, Siti lapar, Yang, mau cari tempat duduk dulu ah, sambil makan kuenya…”
Ia akhirnya menemukan tempat duduk di mall itu, dekat eskalator. Diletakkannya bungkusan plastik kue itu.
“Sayang, Siti mau makan kue nih, kamu juga kan di sana?”
Ia menunduk, tangan kirinya mencari-cari kue yang diinginkannya, tangan kanannya masih berusaha mendekatkan mikrofon ke mulutnya. Rambutnya terkibas-kibas di pundaknya. Akhirnya ia menemukan kue pandan berwarna kehijauan itu.
“eh.. tau gak, Yang, ini kuenya enak lho… uppssss…”
Sedikit krim di atas kue pandan itu memercik ke celana kecoklatan yang dikenakannya.
“…aduuuh, Yang, ini krim kuenya jatuh ke celana Siti…. uuuh…”
Ia mencari-cari tisu di tasnya, tangan kananya meletakkan kue itu di tempat duduknya.
“…kamu ‘kan tau, Siti gak suka banget sama noda,…ah mesti segera pulang nih, ganti…”
Ia melap krim yang menempel di celananya itu.
“…Siti senang lho pake celana ini, tau gak kenapa? Karena kamu suka kalo Siti pake celana ini…”
Ia melemparkan tisu bekas melap celananya ke tempat sampah yang tak jauh dari situ.
“…eeeh, jangan cemburuan gitu dong, Yang. Aku ingin tampil seksi hanya buat kamu, kok…”
Acara makan dilanjutkan. Matanya mendelik-delik, entah karena enaknya kue pandan, atau karena rayuan yang beresonansi dari earphone dan gendang telinganya.
“Harusnya, aku lho, yang cemburu…. Kamu ‘kan ganteng… hi hi hi…”
Kicauannya berlangsung terus, tenggelam di soundtrack orang-orang yang belanja atau sekadar memandang-mandang etalase. Kemudian ia bangkit, dan melangkah, masih tergopoh-gopoh dengan tas, mikrofon, dan bungkusannya.
“…wah, emangnya di situ gak ada gitu?”
Langkahnya pelan, seolah menikmati, namun jiwanya tak sedang berada di keramaian itu.
“ …nanti ya, Yang, Siti temanin kamu deh….”
Suasana makin ramai dengan pengunjung. Glukosa yang berasal dari kue pandan menenangkan si gadis, dan tawa riang menjadi manifestasinya, celoteh terus berlanjut.
***
Waktu telah menjadi sangat sempit ketika semikonduktor telah sedemikian merasuk hidup. Ia mempercepat segala sesuatu. Ketika digitalisasi menjadi bagian dari budaya, maka umur, usia, dan waktu menjadi susut sementara pilihan informasi menjadi malar. Anak kecil menjadi cepat mengerti, mulai dari perihal seks hingga menjadi seorang ahli komputer, waktu membaca koran menjadi pendek, detak jam untuk berkirim surat juga makin sempit, demikian juga cinta menjadi sangat volatil.
Kulit putih Siti sudah tidak putih lagi. Wajahnya sekarang pucat, ia terbaring di meja bedah seorang dokter aborsi yang tak memperhatikan lagi etika kedokteran: ketika ia lebih memilih pro choice daripada pro life.
Ketika verbalitas telah habis disedot komunikasi, maka pertemuan menjadi semakin esensial. Percintaan yang melibatkan ekspresi verbal terjadi secara simultan dengan keseharian, sementara percintaan fisis menjadi aksen ketika pertemuan geografis berlangsung. Siti harus menggugurkan kandungannya, bahkan tak ditemani oleh pacarnya tercinta.
Tak perlu memang ditemani secara geografis. Di balik berurainya rambut lurus hitam jenazah telanjang itu. Di dekat kupingnya yang putih kekuningan, terlihat earphone abu-abu itu menyembul. Sang pacar sedang sibuk dan Siti tewas di pangkuan maya sang kekasih yang entah di mana…
Bandung, 14 Februari 2008
Entries (RSS)
wah buat buku aja, udah pantes kok diterbitken….. sukses ya