Malam itu malam natal. Sepi. Karena memang daerah tersebut tak memedulikan natal atau tidak. Suasana natal tahun ini terjerembab oleh hiruk pikuk lebaran. Ya, natal di tengah mayoritas islam. Seorang perempuan tua duduk memeluk anaknya di tengah jalanan yang kumuh dan dipenuhi pengemis kota itu. Ia berdiam diri saja di sana, berusaha menyerap kalor dari tubuh anak laki-laki yang dipeluknya itu.

Wajahnya kotor, badannya bau, dan sekarang natal. Jauh dari jangkauan sinterklas, jauh dari jangkauan kemewahan kebaktian natal vatikan. Lapar, dan ia hanya menunggu saja sisa makanan di tepi luar halaman gereja yang sedang mengadakan kebaktian itu. Sekeluarnya jemaat, ia akan pasang tampang sesedih mungkin, siapa tahu ada jemaat yang tersentuh hatinya oleh kutbah pendeta yang berupaya mengetuk pintu hati jemaat untuk membantu mereka yang miskin papa seperti dirinya, di tengah kemewahan bangunan gereja, di tengah kemegahan pohon natal yang mencakar langit-langit gereja, di tengah mimbar yang mewah dan terbuat dari kayu jati pilihan, di tengah hiasan-hiasan yang membingkai foto Yesus yang masih bayi dan dipeluk Maria itu.

Seketika jalanan di luar gereja itu hiruk pikuk. Bukan demonstrasi, tapi kebaktian baru saja berakhir. Semua jemaat Xmas_tree2 kelihatan berwajah ceria, gembira, entah karena mengenakan baju baru yang cantik, entah karena Yesus telah lahir, entah karena dirinya merasa diselamatkan, entah karena ia akan menikah sebentar lagi, atau entah karena apapun. Semua tak dipedulikan oleh Fatimah, perempuan tua yang menggendong anaknya. Ia hanya butuh sedekah atau kalaupun tidak, tumpukan sisa makanan di tong sampah dekat gereja itu.

Raungan sirene di mana-mana. Karena memang natal harus diamankan oleh tentara atau polisi. Masyarakat sekarang ini mudah dipicu konflik. Kita memang dipelihara oleh hipokritnya dunia. Seolah damai padahal begitu gampang mengangkat parang. Tapi itu semua tak dipedulikan Fatimah yang sedari tadi tak menerima sesen sedekah pun. Ia heran, entah apa yang tadi dikutbahkan pendeta hingga sekarang tangan kotornya sama sekali tak ditanggapi jemaat gereja, semua cuek bagaikan bebek.

Fatimah sudah tak tahu lagi ia beragama apa sekarang. Mungkin islam kalau lebaran, tetapi sekejap kristen kalau natal. Semua tergantung mana yang bisa memberinya makan, karena memang tuhan dan malaikat itu tak pernah memberi ia makan. Orang-orang kaya yang beragama dan bermorallah yang memberi ia makan.

“Mama, lapar!”, anaknya berbisik.
“Sabar, kita sedang menunggu….”
“Mama lapar!”
“Sabar!”
“Mama lapar!”
Ia diam saja. Tangannya terus dijulurkannya ke siapapun yang mendekat.

“Mama, baju mereka bagus!”
“Ya…”
“Mama…”
“Diam!”, potong Fatimah.

Sudah dua jam ia berdiri, satupun tak ada yang memberikannya sedekah. Ia heran sekali. Baru sekali ini ia tak diberi orang beragama makan, ada apa dengan orang beragama sekarang?

Akhirnya suasana lengang di malam natal itu tiba. Semua sudah pulang. Hening. Fatimah berjalan tertatih-tatih menjauhi bangunan yang baginya seperti rumah setan itu. Seorang lelaki yang mungkin sedang mengemis juga duduk diseberang sana. Ia tertawa-tawa. “Ha ha… tak dapat sedekah, hah?!”

Fatimah hanya berlalu. Sudah buntung, masih saja bisa tertawa-tawa. Keparat, memaki orang pula. Ia tak mempedulikan ocehan lelaki itu, apa ia tak merasa sakit dengan luka kakinya yang penuh darah dan nanah itu. Ia cuek saja.

Fatimah mulai mengais-ngais sampah. Heran, apakah malam natal tahun ini adalah malam celaka? Ia tak menemukan sesuatupun untuk bisa dimakan. Isi tong sampah hanya plastik-plastik bekas bungkus baju baru orang-orang kaya itu. Heran…

Fatimah terduduk. Ia membelai rambut anaknya. Ia duduk dan merenungi nasib, berdoa kepada siapapun agar memberinya makan, kalau tidak buatnya, minimal buat putranya yang baru berusia tujuh tahun dan sedang sakit itu.
“Mama, aku lapar!”

Fatimah terdiam saja.
“Mama, kita agamanya apa?”
Fatimah hanya tersenyum kecut.

“Mama adakah surga itu? Kita takkan kelaparan di sana bukan?”
“Ya, di surga semuanya begitu enak, kita tinggal minta pada Tuhan”
“Tuhan itu baik, ya Ma! Ayo kita ke surga!”
“Ah, belum saatnya, Nak!”

Tiba-tiba puteranya keluar dari gendonganya.
“Mama, mana kakiku satu lagi?”
Bagaikan disambar kilat, ia terkejut setengah mati melihat kaki anaknya buntung satu.

Bagaikan disambar halilintar, ia terbawa ke masa silam. Bagaikan loncatan kuantum ia terkejut setengah mati, ia teringat tengah malam sebelumnya ada orang gila ngebut dan menggilas kaki anaknya yang sedang tiduran di jalan raya dan bermain-main. Ia baru sadar bahwa kemarin tatkala berteriak-teriak memanggil bantuan, si pengendara mobil keluar dari mobilnya, sambil membawa pisau dan….

Ia memegang perut bagian bawahnya. Ia merasakan sebuah lubang besar bekas tusukan. Ia bagaikan tak sadar. Sudah matikah ia? Ia merasa sangat terguncang, dan segera memeluk anaknya yang tengah berdiri di depannya. Ia peluk anaknya, ia menangis. Anaknya heran.

“Mengapa menangis?”

Fatimah hanya terisak-isak, tak percaya pada keadannya sekarang.

“Aku tak takut, Mama. Biarpun kakiku buntung, Mama tak perlu sedih, Tuhan akan segera menyembuhkan kakiku, Tuhan akan menumbuhkan kakiku lagi, nanti di surga!”

Fatimah menjerit….

Dicengkeramnya anak kesayangannya itu. Dipeluknya sekuat tenaga.

“Anakku, Sayang, aku tak tahu kita di mana sekarang. Aku bahkan tak tahu apakah surga itu ada atau tidak…..”

Malam itu malam natal. Semuanya terlihat biasa saja. Pengemis, pencopet, sopir, dan semuanya. Tuhan yang entah di mana sedang lahir atau hidup, semua tak peduli, karena sekarang malam natal, natal di restoran, natal di televisi, natal di radio, natal di tiap hati mereka yang masih hidup…

Bandung, 24 Desember 2001

Leave a Reply