Telah terjadi ledakan besar di kompleks kampus ini. Rufus Kemal, sang kepala kepolisian membuka lembar demi lembar buku tulis yang setengah terbakar ini. Untungnya kertasnya terbuat dari polimer tahan panas. Ini catatan profesor yang diduga meledakkan seisi kampus ini. Profesor genius ahli fisika-arkeologi eksperimental terkemuka di dunia, Albert Schlinder, peraih hadiah Nobel klasik untuk ilmu eksperimental interdisiplin atas keberhasilannya mengkonstruksi robot yang sangat mirip manusia yang baru diumumkan minggu lalu. Mungkin bukan sembarang manusia, manusia yang dibangkitkannya adalah manusia dari zaman yang sangat kuno. Kolonel Kemal mulai membaca…
30 Mei 2145
Mungkin hal yang paling kucintai di dunia ini setelah isteri dan anak-anakku adalah sains. Sains bagiku ibarat seks. Kenikmatan menemukan sesuatu yang baru dalam sains itu ibarat orgasme, hanya saja lebih lama. Dan kenikmatan itu berhasil kuperoleh kemarin siang. Buah kerjaku selama lima belas tahun terakhir menjadi orang paling tidak disukai di kampus ini. Err, mungkin satu-satunya yang masih percaya padaku adalah isteriku. Aku bukan orang yang percaya pada mitologi cinta seperti kakek moyangku, tapi aku benar-benar menyayanginya.
Kemarin, aku berhasil mengkonstruksi tubuh manusia dari zaman Pleistosin sebagaimana aslinya. Wow! Teknologi yang digunakan adalah teknologi yang kutemukan sepuluh tahun lalu dan sekarang sudah sering digunakan pada artificial prostitution yang marak akhir-akhir ini. Banyak ahli etika yang meributkan status kemanusiaan penjual cinta di prostitusi buatan itu, tapi aku tentu tak perlu peduli. Sepanjang karyaku disukai pria dan wanita hidung belang yang haus seks, aku hanya menikmati royalti atas paten karyaku itu.
DNA dari rambut yang berusia jutaan tahun itu ku-rekonstruksi menghasilkan tulang, otot, mulut, indera, kaki, tangan, dan semuanya sebagaimana aslinya. Dan final approach-nya adalah mencocokkan sirkuit elektronis yang kutanam ke kepalanya. Kita mesti hati-hati memasangnya, sebab hanya beberapa ratus tahun saja, proses evolusi telah lumayan banyak mengubah struktur nano-sel dan jaringan manusia. Dan kami, aku sebagai tim eksperimentasinya berhasil!
Aku baru menceritakan dampak-dampak penemuan ini pada isteriku, Helena. Beberapa kali ia memelukku. Ia ingin segera melihat hasil kerjaku. Saat ini, Okos, nama yang kuberikan pada manusia Pleistosin jadi-jadianku itu sedang istirahat mengadaptasikan tubuhnya dengan sirkuit bertenaga matahari yang tersimpan di tempat yang seharusnya tempat otaknya yang kecil itu. Besok, Okos akan kubawa pulang, dan biarkan Helena dengan bangga melihat hasil kerjaku. Ah, senangnya…
31 Mei 2145
Okos kubawa ke rumah. Okos bukanlah tipe manusia beberapa puluh tahun lalu, ia berasal dari sekitar 1,8 juta tahun lalu. Ia tidak seperti kita yang sudah bervariasi makanannya, mulai dari makanan cepat-saji, coklat, mie rebus, roti, biskuit ini itu, dan sebagainya. Ia juga bukan tipe manusia seperti kita yang selalu kedinginan ketika sedang berkemah di pinggir gua. Bukan! Okos adalah tipa Homo Sapiens yang menu makannya sungguh sempurna. Dari pengamatan medis dan studi literatur yang kami lakukan, mungkin ia terbiasa makan sekitar sembilan kilogram buah dan sayuran segar setiap hari. Sangat mungkin juga dia makan sekitar dua kilogram daging mentah. Daging mentah liar yang bebas lemak dan luar biasa kadar proteinnya. Keturunan Okos yang makan beras hasil pertanian pertama kali mungkin sepuluh ribu tahun kemudian.
Yup! Okos adalah seorang pria bertubuh tegap, sigap, terbiasa dengan fitness yang lebih dari cukup bahkan untuk atlet zaman sekarang. Bedanya dengan pada zamannya dulu, ke dalam sirkuit di kepalanya telah kutanam sirkuit keterampilan berbahasa. Ia bisa bicara, meski agak sedikit terbata-bata.
Helena takjub memandangi Okos. Ia menghidangkan sepiring mangga segar sebagaimana kupesankan padanya, langsung dari kebun hidroponik keluarga kami. Hebatnya, Okos sepertinya cukup cepat beradaptasi dengan sirkuit yang kupasang. Ia sudah bisa bercanda dengan kami. Ia memuji kelezatan mangga yang dihidangkan. Ia juga memuji Helena yang memberinya sebuah kado: sebuah baju yang pas untuk ukuran tinggi badannya yang dipenuhi oleh otot-otot. Lama kupandangi Okos, ia memang ganteng, bahkan untuk zaman sekarang, mungkin mirip bintang film Holywood. Aku senang sekali melihat ia bercanda dengan kami.
30 Juni 2145
Hari ini ada empat orang panitia Hadiah Nobel datang ke rumahku. Mereka mengatakan bahwa aku dinominasikan mendapatkan hadiah Nobel untuk bidang yang baru dibentuk sekitar lima belas tahun lalu, Nobel untuk Ilmu-ilmu Eksperimental Interdisiplin. Rekonstruksi pra-sejarahku atas tubuh Okos adalah alasan utamanya. Aku sangat gembira. Di usia yang masih terbilang muda, baru 39 tahun, aku sudah dinominasikan Nobel.
Helena kuberitahu soal ini barusan. Ia langsung memeluk dan menciumiku. Ia mulai sibuk berfikir tentang tuksedo yang akan kupakai ketika berangkat ke Norwegia Desember nanti. Agak sulit memang mencari tuksedo yang pas buat tubuhku yang kebanyakan makan makanan siap-saji ini. Tubuhku beberapa tahun ini melar ke kiri dan ke kanan, sementara kacamataku makin hari makin tebal saja. Keriput pun mulai bermunculan. Otot-ototku tak bisa dibandingkan dengan manusia yang baru ku-rekonstruksi, Okos. Ah, tapi aku tahu Helena tak mencintaiku karena bagaimana aku terlihat. Helena tentu bukan perempuan seperti zaman Pleistosin yang berotak udang. Evolusi manusia telah menciptakan simetri antara laki-laki dan perempuan.
Helena adalah seorang guru. Ia bukan profesor seperti aku. Tapi jika kita bicara soal reduksi, Helena tertarik padaku tentu bukan karena penampilanku, ia tertarik karena kemampuan intelijensiaku. Setidaknya itu kata para ahli psikologi evolusioner zaman sekarang. Padang belantara, tempat pemilihan seksual atas laki-laki oleh perempuan telah berubah saat ini menjadi banyak hal, mulai dari seni dan ilmu pengetahuan. Makhluk hidup ber-evolusi secara seleksi alam dan seleksi seksual sekaligus. Ketika burung merak belum punah dulu, para jantan mengepakkan ekornya dan menunjukkan ornamen mana yang paling indah dari mereka kepada seekor betina yang memilih pasangannya. Demikian pula manusia, pada zaman pleistosin, Okos harus bersaing dengan rekan-rekannya sesama jantan untuk menunjukkan siapa yang paling berani dan kuat. Melihat postur tubuh Okos, aku yakin ia adalah favorit para wanita zaman-nya. Namun Okos, ketahuilah, saat ini justru sosok seperti akulah yang menjadi favorit. Tak begitu tampan, namun setidaknya tidak malu kalau aku harus menekan tuts-tuts piano atau menerangkan beberapa konsep teori fisika hipermodern dalam pendekatan biologi molekuler.
Aha, Helena memanggilku. Tuksedo-ku sudah jadi sepertinya.
Kolonel Kemal masih terus membaca. Dibolak-balik lembar demi lembar halaman yang penuh curahan hati sang profesor. Hingga sejenak ia tertegun kaget membaca sebuah halaman yang penuh amarah dan kepedihan.
4 Juli 2145
Hari ini hari terkutuk dalam sejarah hidupku!!! Setan alas!!! Aku hanya berangkat mengajar ke sekolah musim panas selama sebulan, dan telah banyak hal berubah. Gila!! Tadi pagi Helena terisak-isak dan ia mengaku telah beberapa kali berhubungan seks dengan Okos selama aku pergi.
Setan! Ia bahkan tak berhenti dan menyesal. Sialan! Ia mengatakan bahwa ia bahkan tidak lagi menikmati hubungan suami-isteri yang kami lakukan kemarin setibanya aku dari Afrika! Ya ampun… bagaimana mungkin Helena tertarik pada Okos…
Batang demi batang rokok yang terlarang ini kuhisap terus dan membuat aku tersadar. Okos memang adalah tipe manusia sempurna pada zamannya, dan penampilannya saat ini memang masih up to date! Gila… Helena merelakan rasa cinta dan setianya untukku demi manusia jadi-jadian itu?
Aku tak menemukan Okos di ruang kerjaku, di taman rumah, dan di manapun. Helena juga. Mereka berdua telah pergi. Sebuah surat kubaca di kasur di atas tuksedo untuk seremoni Nobel-ku. Di situ Helena mengatakan takut menyakitiku. Di situ ia menceritakan bahwa ia telah memilih pergi dengan Okos, manusia yang tak lebih dari avionik di lokalisasi prostitusi untuk perempuan nakal.
Astaga! Apakah Helena sedangkal itu? Aku tak kuat lagi. Aku frustasi hebat! Ini gila!
7 September 2145
Sudah sebulan Helena pergi tanpa ada kabar. Sia-sia aku berharap ia kembali. Ia sudah jauh. Bagiku ia adalah setan sekarang. Dan aku tinggal akan menekan tombol ini. Tombol pelumat seluruh isi gedung kampus bertingkat seratus ini. Aku yang membangun kampus besar ini, dan buah kerya tanganku di kampus ini telah melukaiku. Biarlah semuanya hancur… Semua hampa…
Kolonel Kemal masih membaca. Seorang wanita dan seorang pria tegap yang tengah merangkulnya mendekat. Wanita itu sungguh cantik bahkan di mata sang kolonel. Ada setitik air mata terlihat di pipinya. Lelaki itu mengulurkan tangannya. Ia menyebutkan namanya, “Okos”. Sang kolonel memandanginya lama bergantian dengan si wanita yang tersedu-sedu itu. dan tak kunjung sang kepala polisi menerima uluran tangan lelaki tegap dan berparas selebritis itu.
Sang kolonel menutup buku catatan harian yang ada dipegangannya. Ia berpaling meninggalkan dua sejoli itu. Tak sadar sehelai potongan kertas kuning yang mungkin sudah berumur ratusan tahun terjatuh dari buku itu.
Perempuan yang berurai air mata itu memungut kertas tua peninggalan suaminya itu, dan ia terjatuh pingsan setelah membacanya… sebuah sobekan dari sebuah buku yang terbit pada tahun 2002… hampir seratus lima puluh tahun lalu…
…the false side of the runaway brain sexual-selection theory is that in our evolutionary process, it should have produced large-brain and hyper-intelligent males, and small-brained and ape-minded females among human population.
Bandung, Medio Februari 2005

Entries (RSS)