Angkt_1 Sopir angkot itu terus saja membanting setirnya. Jalanan macet. Bau peluh memenuhi angkutan kota kecil ini, sesak oleh nafas dan keringat orang-orang. Seorang ibu menggendong anaknya yang mulai gelisah. Bapaknya yang duduk di sebelahnya mengukir senyuman yang dibuat-buat untuk menghibur anaknya. Berdesak-desakan. Aku membenarkan letak pantatku, berusaha untuk memberikan kenyamanan buatku sendiri. Sempit, gerah, memang demikianlah dunia, pikirku. Seorang penumpang yang duduk di depan, di sebelah sopir, seolah tak peduli menyalakan rokok. Suasana makin gerah, terkadang manusia memang tak punya toleransi. Aku mulai memutar mp3-player-ku, dan suara manis Faith Hill bersenandung,

Somewhere over the rainbow
Way up high
There’s a land that I heard of
Once in a lullaby

Tiba-tiba jalanan seolah lancar. Angkot perlahan-lahan mulai melaju pelan. Meski lajunya lebih lambat daripada jika aku berjalan santai, tapi itu cukup. Laju pelan itu cukup untuk melewatkan angin sepoi ke dalam angkot dan memberi oksigen baru buat orang yang mencoba bersabar dan menghibur diri di dalamnya. Pelan sekali ia berjalan. Ibarat konvoi, lalu lintas memang luar biasa macet di tengah cuaca yang luar biasa panas ini.

Hingga tiba-tiba angkot itu berhenti lagi, cukup lama. Aku celingukan, ada apa gerangan yang menambah kemacetan ini. Belum lagi mataku tertumbuk pada ikhwal penyebab kemacetan lalu lintas, sebuah suara sirene terdengar keras. Sirene itu makin lama makin keras, meninggi diiringi suara deru suara sepeda motor dan mobil yang akrab di mata kita, bertuliskan “patwal polisi”. Tak lama kemudian, melajulah sebuah mobil hitam berkaca ray-ban tebal. Dari pelat mobilnya ketahuan, itu mobil seorang pejabat setara menteri. Jalanan macet telah menjadi macet, demi kelengangan mobil seorang pejabat.

“Ada apa, ibu?”, si anak bertanya pada ibunya.
“Ada orang penting lewat…. Itu mobilnya, bagus ‘kan?”.
“Apa itu orang penting?”, si anak bertanya lagi.
“Orang yang dihormati. Pejabat tinggi. Orang hebat itu…”, bapaknya menimpali.
“Berarti jalanan macet karena orang penting lewat?,” lagi-lagi anaknya bertanya.
“ Iya atuh, kalau orang penting lewat, orang kecil musti mengalah”.
Sejenak diam. Sirene meraung-raung, dan konvoi orang penting itu melaju cepat, tak peduli pada mata orang-orang di dalam angkot yang kutumpangi memandanginya dengan berbagai macam perasaan.

“Kenapa kita mesti mengalah kalau orang penting lewat?,” anaknya bertanya lagi.
“…karena memang begitu seharusnya. Kalau orang penting lewat, orang kecil harus mengalah…”, acuh tak acuh bapaknya menjawab. Anaknya terdiam, setengah bergumam ia menyeletuk, “…wah, enaknya jadi orang penting ya…”.
Giliran ibunya menjawab, “makanya kamu harus rajin belajar di sekolah, rajin membaca, rajin mengaji di masjid, biar jadi orang penting”. Bapak si anak ikut menimpali, “…iya, kalau kamu rajin nanti bisa jadi orang penting, dan ketika kamu udah besar nanti orang harus mengalah sama kamu…”.

Aku termenung mendengar diskusi itu. Entah apa yang kupikirkan saat itu. Aku agak terhibur saja ketika si orang penting sudah jauh melewati kami, angkotnya bisa jalan merayap lagi dan membiarkan anging sepoi panas menyapu kulit wajahku yang sudah sangat berminyak. Faith Hill masih bersenandung terus,

Somewhere over the rainbow
Skies are blue
And the dreams that you dare to dream
Really do come true

“Kalo mengaji ‘kan buat jadi orang baik, bukan orang penting?”, lagi-lagi anak itu bertanya. “Iya, kamu bisa jadi orang penting kalau terlihat baik sama orang ‘kan?”, kata bapaknya. “Kalau kamu tidak terlihat baik agamanya, nanti kamu gak akan bisa jadi orang penting….” Anaknya mengangguk. Aku sangat tidak yakin kalau dia mengerti.

Aku keluar dari angkot, dan melangkah masuk ke dalam ruangan ber-AC yang benar-benar menyejukkan sekujur tubuh. Kucari toilet. Di dalam toilet, aku mencuci mukaku, membuka tas-ku dan mengganti kemejaku dengan yang baru dicuci. Tak lupa kukenakan dasiku. Semprot parfum di ketiak kiri dan kanan, dan aku melangkah keluar. Siang ini aku ada janji bertemu dengan seorang menteri, seorang orang penting yang kebetulan satu almamater denganku. Aku tersenyum sendiri membayangkan obrolan orang tua dan anak tadi.

Sembari menunggu di lobi hotel ini, aku melirik ke luar dan kulihat mobil sedang si penambah kemacetan tadi. Aku makin merasa geli. Aku pernah bersekolah di sekolah yang hebat seperti menteri yang akan kutemui ini. Aku cukup rajin belajar ketika masih kecil hingga bisa sekolah di sekolah hebat itu. Dan karena pernah bersekolah di tempat sama pula aku bisa berdiskusi dengan sang menteri ini. Aku lagi-lagi tersenyum-senyum sendiri.

Pertemuan usai dalam sejam. Sang menteri dan aku saling berjabat tangan. Kita sudah makan enak, minum enak. Semuanya serba enak, bahkan duduknya pun enak. Semua memang jadi enak ketika jadi orang penting, atau minimal dekat-dekat dengan orang penting. Tapi benarkah semuanya jadi lebih enak?
Aku melangkah keluar hotel. Senja sudah tiba. Aku berjalan menuju halte, menunggu angkot lagi. Sempat tadi sang menteri memberikan amplop padaku, untuk uang transport, katanya. Ada beberapa lembar uang ratusan ribu di sana. Aku senang, malam ini bisa makan enak.

Tapi senja ini sepertinya aku tak ingin segera naik angkot. Aku duduk sebentar di halte itu. Kurenungkan lagi obrolanku dengan pak menteri yang kebetulan kakak kelasku itu. Idealisme yang dibicarakan. Perjuangan untuk nasib rakyat banyak yang dibicarakan, diselingi makanan enak kaya protein dan vitamin yang pasti bersisa karena kebanyakan. Mungkin inilah definisi orang penting, pikirku. Kupandangi langit yang memerah. Kupasang lagi mp3-player-ku yang buatan taiwan ini. Mungkin aku terlalu banyak berpikir sehingga apa yang seharusnya enak menjadi kurang enak. Apa yang jadi bagi kebanyakan orang bukan masalah, menjadi masalah buatku. Apa yang adil bagi orang banyak, menjadi tidak adil bagiku. Kuputar lagi suara seksi Faith Hill,

Some day I’ll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemondrops
Away above the chimney tops
That’s where you’ll find me

Ah, aku tidak ingin jadi orang penting. Aku hanya ingin jadi burung yang terbang bebas daripada jadi manusia yang sekadar menerima. Daripada jadi seorang manusia yang berakal budi tapi jarang menggunakannya. Mungkin menjadi burung yang terbang berdasarkan insting masih jauh lebih indah buatku…

Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly
Birds fly over the rainbow
Why then, oh why can’t I?
Some day I’ll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemondrops
Away above the chimney tops
That’s where you’ll find me

Bandung, 2 November 2006

One Response to “Orang penting”
  1. Aku minta ijin kopi-taruh ya.. di blog-ku

    Trims

Leave a Reply