Perempuan muda itu mendekat. Matanya mengendus kalimatku terakhir yang penuh dengan makian. Tangannya tak tenang membenarkan letak kerudung yang dikenakannya, yang sebenarnya tak salah letak. Sedikitpun aku tak terangsang dengan celananya yang ketat, dan buah dada yang membusung atau senyum genit yang dihidangkannya ke depan hidungku. Tasnya penuh dengan kaset, CD, dan tentu saja disc-man merk terbaru. Kakinya menyilang di dekat kakiku dan akhirnya tangannya yang sedari tadi liar terlipat menekan keempukan buah dadanya. Sebuah kalimat tanya meledak dari mulutnya, “kenapa sih kau benci sekali dengan budaya pop?”. Aku tertawa panjang, sekadar untuk menutupi saraf-saraf di otakku berfikir keras bagaimana harus menjawab pertanyaan perempuan di depanku ini.
Aku terus menggetar-getarkan selaput suaraku dengan tawa renyah untuk menutupi kelambanan prosesor di bawah lebatnya rambutku ini. “Budaya pop…?”. Aku mengganti variasi dengan mengukir senyum ketololan di bibirku. Aku nyalakan rokok yang sedari tadi kupegang di tangan, dan kujawab, “pop culture makes you poorer and poorer….”. Kalimat itu datang entah dari mana. “Ah, pokoknya kita ‘’kan suka….”, serunya sambil memonyongkan bibir minta kucium. Tapi sungguh, aku jijik melihatnya. Dia kudiamkan. Ia sepertinya menantikan jawaban kilahan busuknya itu, yang mungkin dia sendiri merasa tolol. Aku hanya tersenyum dan memainkan rokok di tanganku. Sesekali menghembuskan asap chaosnya ke depan hidungnya yang tak terbiasa dengan asap rokok selain Marlboro Menthol. Kuperhatikan raut wajahnya, seolah aku bernafsu sekali ingin menggagahinya. Ia tersipu-sipu malu membuang penglihatannya ke arah tas besarnya, tangannya yang sok lentik mengeluarkan tabloid gosip dan mulai membaca. Aku yakin, ia tak akan mampu membaca selagi aku masih berada di sana. Tiba-tiba aku tertawa…
Ia menatapku hendak menerkamku dengan cakaran penglihatannya, heran seolah bertanya mengapa aku tertawa. “Memangnya ketawa harus ada sebabnya….?”, seruku sambil terus saja mengepul-ngepulkan asap yang sedari tadi diganggu oleh hembusan angin sepoi dan meningkatkan birahi. “Ayo pergi”, kataku padanya seraya berdiri. Matanya bertanya, kemana. Kutinggal ia dengan langkah-langkah lambat seolah terus mengajaknya. Memang beginilah cara laki-laki mengajak perempuan, harus jual mahal. Dan permainan terus dilanjutkan. Ia berdiri mengemasi barang-barangnya seperti perajurit yang hendak berangkat perang, semua amunisi harus pada tempatnya. Ia berdiri dan mulai beranjak ragu melangkahkan kakinya mengikutiku.
Terdengar olehku keragu-raguan dari langkah kakinya yang diseret ke tanah yang mungkin juga sudah muak dengannya. Aku berjalan di depan. Ia mengikuti dari belakang. “Pop membuatmu sangat bermoral!,” kataku. “Pop membuatmu miskin namun menjadi tentara moralitas yang membuat dompetmu terkuras habis tanpa kau sadari!”. Aku tertawa dalam hati, kok bisa kalimat itu keluar dari artikulatorku yang memang nakal itu. “Ekonomi butuh garda moralitas, meski pelakunya tak harus bermoral”. Terasa olehku ia memperlambat langkahnya. Namun sekian depa jarak kami ia akhirnya malah mempercepat langkah kakinya berusaha menyeimbangkan keadaan yang membuatnya telah kalah tempo. Aku terus mengoceh, “dunia pop membuat silau, seperti morfin, ia membuatmu mabuk, tapi kelaparan sesudahnya, akhirnya kau toh jadi pengemis… Kita ini tinggal di negeri miskin… ha..ha…ha….”, tawaku mungkin menggetarkan juga rumput-rumput yang kuinjak.
Kami sekarang di jalan yang agak gelap, di luar kampus tempat kami tadi memulai semua sandiwara satu babak ini. Ia diam saja, sekarang ia sudah berjalan di sampingku. Hawa sore mulai menusuk tubuhnya, ia kedinginan. Jalanan itu gelap sekarang, sesekali mata kami disilaukan oleh kendaraan yang menghadang di depan seolah hendak menubruk ulu hatiku, aku terus berjalan. Aku di depan. Ia di sampingku.
“Mau kemana kita?”, ia bertanya. “Semua dibikin seolah mengikuti prinsip kausalitas…. Itu yang membuatmu ketakutan ‘kan?”, aku terus mengoceh. “itulah moralitas, di sanalah Tuhan, di sanalah surga, di sanalah kulminasi kenyamanan…” Dahinya mengkerut, mungkin sekarang rasa bingung dan ingin tahu sudah mengalahkan kebimbangannya, berjalan bersama dengan seseorang yang bukan pacarnya di kegelapan malam. Langkahnya sekarang agak terseok, mungkin ia teringat akan pacarnya yang sama bodohnya dengan dia. Terbukti, ia melihat ke belakang, padahal tidak ada apa-apa di belakang kami. Kami terus berjalan, aku di depan, dan ia di sampingku.
“Kita ini selalu jadi obyek, dan sesaat kita merasa nyaman. Saat kita merasa tak nyaman, kita memaksa kita dengan pikiran bahwa semuanya memang takdir dan kita tak mampu menolaknya….”. Tepat di depan sebuah saung bambu yang biasa dipakai buat siskamling, kuajak dia mengaso sebentar. Ia pertama menolak. Untuk pertama kali, kupegang tangannya, kutarik dengan lembut, ia menurut. Aku duduk di bagian dalam saung, ia kubiarkan berfikir di luar. Ia kelihatan bimbang di kegelapan malam. Aku terus saja berbicara, “padahal di manakah letak moralitas? Standardisasi itu sangat menyiksa, ia mematikan kreativitas yang tersimpan di gudang ketidaksadaran, malu-malu muncul di depan banyak orang, namun akan keluar dalam ketololan yang terekam dalam kisah asmara cinta dan kebahagiaan yang tak pernah ada. Persis kayak orang onani!”.
Entah karena apa, ia masuk duduk di sebelahku. Sekarang kami telah begitu dekat, dan suasana begitu gelap. Tanganku liar mendekapnya. Dia agak menolak, tapi kupaksakan. Mulutku kupaksakan mendarat di mulut dan pipinya. Ia meronta, tapi laki-laki memang ditakdirkan lebih perkasa dari wanita. Aku tindih dia. Tanganku liar menelanjangi tubuhnya. Ia sekarang acak-acakan, dan ini membuatku semakin terburu nafsu. Ia berteriak-teriak. Teriakannya menjadi lagu yang indah pengisi sepi malam di tengah derai tawaku yang juga berfrekuensi agak tinggi.
Ia sekarang hampir telanjang, aku sekarang seolah tak sadar. Aku sedikitpun menyadari bahwa telah ada sekelompok pemuda di dekatku, dan menarik kerah bajuku, memisahkan tubuhku yang telah begitu terangsang dari tubuh perempuan yang aku tak tahu namanya itu. Suara gaduh. Ribut. Lampu-lampu senter menyilaukan mataku. Aku tak tahu tiba-tiba sebuah pukulan mengenai wajahku, ah bukan sekali, tapi ada beberapa pukulan yang bahkan membuat gigiku rontok. Ada secercah warna merah di layar penglihatanku, dan aku yakin itu darahku. Aku tersenyum!
Aku tak tahu kini aku berada di mana. Ada bau amis di sekujur tubuhku yang basah dengan pakaian yang tak lagi benar tata busananya. Bau amis bercampur sebuah bahan yang akrab di saraf sensorikku, ah bau bensin. Aku sekarang dikerumuni banyak sekali anak muda. Teriakan dan sorak-sorai bagaikan datangnya WestLife ke kampung ini. Aku dielu-elukan sebagai pahlawan kebejatan dalam percobaan pemerkosaan. Kalau penglihatanku masih benar, maka aku melihat ratusan wajah mengelilingiku.
Terasa aura kebencian itu di sini. Aku benar-benar menjadi pusat perhatian, dan ah, seseorang mengencingi aku. Ada perasaan jijik, namun popularitas ini benar-benar membuatku merasakan hal yang sangat aneh. Hiruk-pikuk. Hingar-bingar. Makian membahana. Teriakan memenuhi ruang waktuku, hingga aku tersadarkan oleh sebuah siraman minyak tanah di wajahku. Aku memandangi tubuhku, semua basah sudah. Aku tetap berusaha tersenyum!
Puncaknya adalah sepercik api yang di lemparkan ke tubuhku. Aku terbakar. Aku merasa sangat panas. Aku berteriak. Aku menggelepar-gelepar. Aku berteriak-teriak, namun suaraku tak mampu mengalahkan kehingaran di sekitarku. Aku meronta, namun aku sadar bahwa tangan dan kakiku telah diikat. Aku terbakar. Aku kesakitan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis kesakitan. Aku berteriak-teriak kesakitan. Namun teriakanku adalah tabuh genderang yang meramaikan pesta moral di kampung ini. Aku berteriak terus, aku tak mampu lagi tersenyum. Suaraku parau. Aku kesakitan.
Semua terasa sakit. Namun lama-kelamaan rasa panas itu mereda. Yang ada malah dingin. Semua telah terbakar. Pesta telah usai. Angin yang bertiup malam itu tak lagi menggigilkan kulitku. Pesta telah usai, dan aku tak tahu aku telah berada di surga atau neraka. Yang ada hanyalah sebuah lapangan tempat anak-anak biasa bermain bola menirukan kebolehan Ronaldo atau Gabriel Batistuta. Sesekali jadi tempat pesta pernikahan. Semua hanya tinggal lapangan yang sepi.
Apakah aku telah mati? Aku merasa begitu sehat sekarang. Sesekali aku suka orgasme, namun aku merasakan orgasme yang sekarang begitu lama. Aku berada di tengah kenikmatan yang luar biasa. Aku mrasa dingin dan panas tak lagi berbeda, tua dan muda tak lagi
terpaut ruang waktu. Aku berada di sana, terselip di antara kenyataan dan kehidupan. Sayup-sayup kulihat di ujung sana, di dekat semak-semak, dua tubuh sedang saling bertindihan, diburu nafsu dan ketidaktetapan alam semesta. Sayup-sayup, di malam sepi ini rangkaian frekuensi lemah hinggap di saraf pendengaranku, sebuah lagu keroncong yang merdu, memastikan bahwa aku tak lagi berada di antara hidup yang membosankan, menekan, dan penuh kutukan ini….
Bandung, 1 Juli 2002
Entries (RSS)