Posted by: quicchote in poem
Kepala itu terdongak lagi lebih tinggi sekarang. Tak ada yang meninggalkan jejak seperih ini kecuali cinta. Cita-cita merupakan api yang tak pernah menyurutkan cinta. Dan karena yang muda yang memiliki cita-cita, maka hanya yang muda yang memiliki cinta.
Setiap generasi berkesempatan untuk mengubah dunia. Celakalah negeri yang tak mau mendengarkan anak-anak kecil itu, karena melodi terindah adalah alunan nada-nada yang belum pernah kita dengarkan. Cinta sejati menghilangkan seluruh rasa takut. Cinta itu tak pernah bisa berubah, selalu setia dalam waktu dan ruang. Ia tak pernah bisa dijangka dalam skala tertentu. Cinta merupakan kuanta yang bebas kuantifikasi.
Rambutnya yang sepundak menjadi bingkai senyumnya yang lugu dan menenangkan. Bukan obat, bukan opium, apalagi candu yang serta merta berasal dari, oleh, dan untuk molaritas hormonal maupun terkait jaring-jaring syaraf di sekujur tubuh. Wajahnya bak rupa gadis kecil, namun hati dan pikirannya adalah seorang wanita sejati. Senyumannya menggoreskan sebersit kebahagiaan di tengah congkaknya dunia dengan segala kebinalan, keliaran, dan tangis isak atas fluktuasi emosional dan ketegangan yang mau tak mau bersifat niscaya ini. Tak seperti atlit yang mesti berlatih sekeras intan, atau ilmuwan yang mesti berfikir sekeras permata dalam ruang-ruang sempit untuk menyuaran suara profetik bagi dunia, sepertinya memang ada orang yang cukup tersenyum, maka dunia akan menjadi cerah dan semakin dekat dengan keberadaan yang Suci.
Hanya ada optimisme di sinar matanya, karena ia bersumber pada keluguan akan pengabdian anonimus atas sang Kala. Kita sudah lupa bahasa-bahasa itu. Kita telah lupa dan merasa cinta bisa kita reduksi yang sering membuat konyol. Orang menjadi merasa bijak dan merasa menjadi pemimpin meski tak pernah bisa memimpin orang lain, pun diri sendiri. Celakalah mereka yang tak mendengar yang lebih muda, tetapi lebih celaka lagi mereka yang muda tapi merasa dirinya telah tua.
Tetaplah menjadi muda, karena hanya yang muda yang mampu merasakan cinta, dan hidup ini terlalu sia-sia dan hampa tanpa cinta.
Tetaplah tertawa dan berbahagialah senantiasa karena tak ada batas akan imajinasi, kreasi, dan keberanian.
Tetaplah tersenyum karena dunia akan suram tanpa senyumanmu dan semua karya akan menjadi sirna keindahannya tanpa kehadiranmu dalam abstraksi, bebas ruang, bebas waktu.
Tegakkanlah kepalamu dan melangkahlah terus. Hati gampang berubah. Dunia ini berubah. Generasi berganti. Namun hatinya tetap bertoreh untuk cinta dan keindahan. Adalah kegelian hati bagi mereka atas orang-orang yang berketetapan hati.
Tetaplah tersenyum, demi dunia ini, demi cinta!
27 April 1997
No Comments »
Posted by: quicchote in prose

Malam itu malam biasa. Aku bersepeda hendak pulang. Benar-benar tak ada yang istimewa malam itu. Jantungku pelan-pelan berdetak makin kencang mengiringi metabolisme yang menumpukkan asam laktat di sela-sela ototku mengayuh sepeda. Semilir angin menerpa. Hampir dini hari malam ini. Semua biasa saja, hingga punggungku diterpa sebuah lampu sorot jauh sebuah mobil di belakangku. Entah insting apa yang ditinggalkan nenek moyang spesies manusia, secara ritmik aku mengayuh sepeda lebih cepat, padahal sudah jelas mobil jenis apapun akan segera mendahului kayuhan sepedaku.
Ada sedikit rasa takut hinggap. Tapi aku tak bisa paham, apa dan darimana datangnya rasa takut itu. Rasa takut yang makin lama makin kuat ketika sudah lebih dari lima menit, mobil di belakangku itu tak juga mendahului. Lampunya terus saja menerangi jalan yang kulalui. Insting peninggalan evolusi itu terus saja menjadi sinyal-sinyal isyarat bagi kedua kakiku untuk mengayuh lebih cepat. Rasa takut makin kuat. Aku mengingat-ingat dan berfikir keras, siapa dan apa yang paling mungkin mengikutiku dari belakang ini.
Kayuhan makin cepat, sementara sudah lebih dari lima belas menit mobil itu terus saja dengan kecepatan lambat ada di belakangku. Aku membelok, dan ia ikut membelok. Terus saja. Dari beberapa kelokan kemudian, sudah bisa kupastikan, orang di belakangku ini adalah orang yang memang mengikutiku.
Aku makin menggila mengayuh. Tujuanku masih dua kilometer lagi. Aku mengingat-ingat di tengah peluh yang sudah membasahi wajah, bukan karena lelah mengayuh, tapi lebih karena hinggapan rasa takut yang makin lama makin kuat. Aku ketakutan luar biasa. Seingatku, aku tak punya konflik apapun dengan siapapun belakangan ini. Ini benar-benar absurd!
Tiba-tiba mobil itu menderu, makin lama makin keras dan sudah tentu sudah akan sangat dekat. Aku tak berani berpaling untuk melihat ke belakang. Aku terus saja mengayuh lebih dekat. Rasa pegal mulai hinggap di kakiku.
Beberapa skenario yang menjurus ke arah pembunuhan terencana pun bermunculan di kepalaku. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan hubunganku dengan Susi? Ia adalah perempuan penjaga loket bioskop yang sering kugoda beberapa kali. Entah mengapa memang aku suka sekali menggodanya karena tampangnya yang lucu dan imut. Tapi Susi sudah pula menceritakan padaku bahwa ia sudah bertunangan dengan seseorang. Aku tak pernah tahu ia sudah bertunangan dengan siapa. Tapi aku bisa saja pengemudi mobil itu adalah tunangan Susi yang marah karena aku sering menggoda pasangannya. Apalagi interaksiku terakhir dengan Susi adalah dengan mengajakkan nonton midnight karena hanya aku penonton bioskop malam itu. Di bioskop beberapa adegan antara aku dan Susi pun terjadi paralel dengan sandiwara yang memang bagian dari plot film yang diputar. Aku tak pernah menyangka akan berakhir karena kekonyolan dan nafsu bodohku ini. Duh, ini membuatku makin takut…
Sepeda masih saja terus melaju. Aku makin takut. Jantungku terus saja. Tetapi aku juga teringat dengan seorang yang juga pernah kubuat kesal karena perilaku menjengkelkan dan keisenganku. Ramlan, praktikan yang ada dalam kelas asistensiku di laboratorium. Entah mengapa memang sejak melihat wajahnya aku tak suka dengannya. Selama praktikum berlangsung ia seolah sangat tidak memperhatikan banyak detail yang semestinya diperhatikan seorang praktikan. Sore itu ia kuberi banyak tugas setelah serangkaian bentakan bak sidang di ruang asistensi. Aku sangat marah padanya karena setiap kali aku tanyai ia selalu menjawab singkat dan ketus. Hampir saja ia kutampar waktu ia berkata, “…ah… terserah Mas deh…! mau lulus kek, mau apa kek…”. Saat itu juga aku goreskan huruf “E” di lembar penilaiannya, tapi tidak memberitahukan bahwa aku sudah tak meluluskannya. Aku suruh ia datang beberapa hari kemudian untuk tetap menyerahkan tugas, padahal nilai sudah kumasukkan ke administrasi, dan ia tidak lulus. Mungkinkah ini adalah Ramlan? Aku banyak mendengar memang mahasiswa angkatan di bawahku kebanyakan berasal dari keluarga dengan ekonomi berada. Mungkin Ramlan ingin membalas dendam setelah tahu bahwa aku sudah mengecohnya. Sepedaku makin ngebut saja, dan mobil itu terus saja mengikuti dari belakang.
Melewati lapangan ini, aku akan segera sampai ke rumah. Ini sudah dini hari, dan bisa juga pengemudi mobil ini bermotif perampokan. Aku banyak mendengar cerita-cerita orang yang dirampok ketika pulang sendirian malam hari. Aku tak tahu. Ekonomi memang memburuk. Krisis sepertinya tak henti-henti menekan masyarakat yang makin individualistik. Aku ketakutan. Aku tak pernah bisa menyangka akan menjadi satu korban perampokan. Tapi bagiku ini sungguh aneh. Mengapa ia tak segera saja menghentikanku. Mobil itu sudah belasan menit ada di belakangku. Aduh…
Aku tiba di dekat lapangan yang tinggal satu belokan ke tempat aku mengontrak. Aku mengayuh lebih cepat, dan mungkin perasaan aman membuat ada sedikit keberanian yang memunculkan rasa ingin tahu dan keinginan untuk berpaling ke belakang. Sekonyong-konyong, aku tiba-tiba menolehkan kepalaku ke belakang. Dan mobil itu secara simultan tiba-tiba pula mempercepat lajunya, dan tanpa tedeng aling-aling, langsung menabrakkan mobilnya ke sepedaku dari belakang. Aku terlempar hingga ke belakang, dan mobil itu melaju terus.
Sulit aku bernafas. Dadaku sakit, kakiku tak bergeming. Sudah dini hari dan tak ada yang akan dapat menolongku. Aku sudah tidak tahu apa-apa lagi setelah itu…
***
Subuh ini, sirene polisi meraung-raung lebih dulu dari adzan subuh. Garis kuning dihempangkan menandai Tempat Kejadian Perkara. Seorang lelaki terkulai beberapa meter dari sepedanya yang ringsek. Jelas ia ditabrak oleh sebuah mobil yang berhenti sekitar dua puluh meter dari mayat terbujur kaku itu. Lelaki itu masih sangat muda. Pengemudi itu pun masih juga muda. Perempuan yang sesenggukan dan kepalanya terbenam di tangannya yang memeluk roda setir mobil.
Tapi polisi tak bisa memenjara wanita itu dan menyeretnya ke pengadilan. Perempuan itu seorang delusional yang mengaku melihat muka tak berwajah bersepeda tatkala ia mengemudi mobil malam hari. Ia adalah seorang pasien rumah sakit jiwa yang lari dari perawatan dan sudah lama dicari-cari oleh pihak rumah sakit. Ia mencari ayahnya yang mungkin menjadi sumber ketergantungannya pada obat dan menjadi sumber ketakbecusan aliran sinyal-sinyal elektrik di sistem syarafnya.
Ayah perempuan tersebut, duda muda yang bergelimang harta dan membutuhkan penyaluran dan likuiditas uang dan libido sekaligus, malam ini tengah berada di luar kota. Ia sedang berada di dalam hotel bersama sekretarisnya. Sekretarisnya adalah ibu dari mahasiswa muda yang ditabrak oleh putrinya yang sedang terganggu kejiwaannya.
Dunia mungkin makin sempit dengan interkoneksi antar manusia yang makin tinggi. Tapi pengembangan alam semesta yang ditandai entropi yang senantiasa mengembang juga disertai dengan pertambahan jumlah penduduk manusia yang memiliki realm dalam fragmen hidup masing-masing.
Dunia yang kecil, namun jutaan informasi menghujani setiap saat oleh orang-orang yang memiliki tendensi. Informasi yang melahirkan rasa tak aman, rasa ini itu yang mungkin secara biologis hanya terkait kadar zat hormonal tertentu dalam darah. Beberapa menjadi gila karenanya, dan beberapa tewas karenanya.
Bandung, 27 Maret 2009
No Comments »
Posted by: quicchote in prose
Malam itu adalah malam laknat bagiku, hidupku, dan mungkin masa depanku. Dua lilin yang romantis dengan remang cahaya romansa di relung hati mengiringi makan malamku berdua, sekembali Henri bertugas dari Paris. Aku mengenakan gelang bertuliskan “Paris, Je t’aime” di tangan kananku sebagai oleh-oleh darinya. Mungkin aku terlalu bodoh untuk tak memahami tulisan dengan ornamentasi menara Eifel itu. Henri terlihat makin segar sekembali dari tugasnya di luar negeri ini, dan kehadirannya setelah tiga bulan dipisahkan jarak geografis yang jauh luar biasa dan hanya sesekali berbumbu pesan singkat SMS atau wall-to-wall communication Facebook membuat malam ini semestinya tak mungkin menjadi malam jahanam bagi hidupku. Pertemuan setelah sekian lama berpisah dengan suamiku tercinta, adalah anugerah kebahagiaan yang luar biasa bagiku.
Usai hidangan malam di rumah makan yang sama ketika setahun lalu ia untuk pertama menatap mataku lekat-lekat dan akhirnya membuat kami sadar bahwa sudah saatnya untuk mengakhiri masa berpacaran, ia memegang jemari tangan kananku. Goncangan itu semua dimulai dengan sebuah perkataan maaf yang pada awalnya agak mengherankanku dan tak jua aku tersadar bahwa dunia akan berbalik seratus delapan puluh derajat dalam beberapa menit.
“Maaf, Rin, …aku tak bisa tak memohon maaf darimu…”
Aku memandangnya, aku masih sempat tersipu bodoh dengan berkata, “…iya, Sayang, nggak apa-apa, kita baru menikah setahun dan kamu sudah mesti bertugas jauh dariku…. yang penting sekarang ‘kan kita sudah bersama lagi…”
Matanya menerawang ke atas, seolah kejantanannya hilang dengan titik air mata yang ingin membanjir.
“…bukan…,” ia terbata-bata.
“…maaf kalau aku harus mengatakan bahwa…” Sulit benar sepertinya Henri ingin mengungkapkan sesuatu yang tak terjelaskan. Kegusaranku terungkap dengan bertanya dengan suara paling lembut yang mungkin terucap dari mulutku, “….apa, Sayang?”
Ia masih terbata-bata, hingga dengan tanpa melihat ke arahku sedikitpun berkata, “…aku mencintai seseorang yang lain di masa lalu….”
Hening.
“…aku tak mengira akan pernah bertemu dengannya lagi….”
Nafasku mulai menderu.
“…dan entah bagaimana kami bertemu di hotel tempat aku menginap…”
Ia terdiam.
“…terus?” aku sendiri sudah mendengar getaran dalam pertanyaanku.
“…terus…Rini…. aku… masih mencintainya….”
Adegan dalam episode itu diakhiri dengan berbagai lontaran makian dengan bumbu air mata penyesalan yang luar biasa, yang akhirnya meresmikan kelaknatan malam itu dalam perjalanan hidupku. Habis sudah. Aku tak bisa paham bagaimana kami bisa bermesraan dan membangun romantisme selama dua tahun berpacaran, naik ke level yang melibatkan altar pernikahan, hingga kandas seperti sekarang ini. Aku tak tahu apa yang mesti kuperbuat. Ini bukan pacaran di mana persoalan cinta dan tidak cinta dapat diakhiri dengan perkataan “putus”. Ini pernikahan!
Dunia mungkin tak melihat bagaimana jurang antara aku dan Henri makin lebar tiap hari. Malam-malamku selalu dipenuhi do’a. Aku tak tahu mesti bicara ke siapa. Sulit sekali untuk mengungkapkan ini ke ayah dan ibuku. Aku sering dihantui mimpi buruk. Sementara Henri semakin jarang pulang, menurut temannya ia menginap di kantor. Aku masih berusaha mengirim pesan singkat padanya. Aku seolah menjadi seorang pengemis cinta yang luar biasa hina. Aku tak mau bahtera pernikahan ini kandas. Bagiku cinta atau tidak cinta telah berganti menjadi sebuah komitmen ketika layar pernikahan telah dikibarkan. Namun Henri tak bisa goyah. Bagiku dia adalah orang yang benar-benar telah dirasuki setan. Janji pernikahan yang diikrarkannya di hadapan Tuhan telah dirusaknya dengan perselingkuhan. Tuhan pun tak akan memaafkannya, apalagi aku. Melihat fotonya seperti melihat iblis yang menjadi bala dan cobaan dalam perjalanan hidupku yang kelam. Aku mohon ampun pada Yang Maha Kuasa, aku berulang kali datang ke bilik pengakuan dosa untuk memohon ampun. Ucapan dan do’a pastor tak cukup sekali untuk mengobati luka hatiku yang telah disayat-sayat oleh setan nafsu suamiku yang sayangnya, masih berusaha untuk kumaafkan dan kucintai.
Tapi tak mungkin sepertinya memaafkan dosa Henri. Aku pindah. Aku tinggal di rumah orang tuaku kini. Sudah setahun aku tak mendengar kabar dari Henri. SMS, e-mail, surat, dan apapun upaya komunikasi dariku tak pernah berbalas. Ia seolah tenggelam dalam lautan neraka oleh setan yang menguasai dirinya.
Di tanganku saat ini kugenggam akta perceraian yang telah ditandatangani olehnya. Hidupku terasa kelam. Aku keluyuran ke sana kemari bersama keluarga yang berusaha memberi penghiburan buatku, dan ketika saat sendiri tiba, air mataku tak kunjung berhenti…
****
Aku tergopoh-gopoh pagi itu karena terlambat bangun. Betapa tidak, semalam suntuk aku chat di internet dengan Rini, isteriku yang seminggu sudah kutinggal di Indonesia, dalam tugas training perusahaanku yang memaksaku tinggal di negeri orang. Sorenya Indonesia adalah larut di Paris. Meski terkadang terasa kurang nyambung ngobrol dengan Rini, aku menyayanginya, dan aku tahu kepergianku ini bisa melahirkan beribu kangen baginya.
Sekeluar dari lift, aku berjalan menuju lobby hotel, menunggu jemputan ke kantor perwakilan perusahaanku di Perancis. Kuletakkan tasku, dan duduk di sofa itu. Saat itulah sebuah degup jantung yang telah sangat lama tak kurasakan, sekonyong-konyong muncul. Sumber degup irasional itu adalah seorang wanita yang duduk tak jauh dariku, dan sedari tadi sepertinya memang memperhatikanku, mungkin karena aku satu-satunya manusia non-kaukasoid di lobby hotel yang besar itu.
Pertemuan dengan Lisa, setelah hampir sepuluh tahun tak pernah bertemu dengannya semenjak kami dinyatakan sudah tak berstatus mahasiswa lagi terjadi, memberi degup jantung yang pernah ada satu dekade sebelumnya. Tak sampai lima menit aku duduk di sofa itu, sebuah kekuatan magis memaksaku kembali berdiri, dan mendekati Lisa, teman kuliahku ketika mahasiswa dulu, dan sebuah episode perkenalan kembali pun terjadi.
Pertemuan ini adalah pertemuan yang akhirnya berlanjut dengan pertemuan sebelum dan seusai training selama aku di kota cinta, Paris ini. Dari pertemuan-pertemuan itu, aku ketahui ia baru menyelesaikan studinya di negeri orang ini, dan sedang mempertimbangkan niat untuk bekerja di sini atau kembali ke tanah air. Dari pertemuan-pertemuan itu pula aku sadar bahwa aku tak pernah berhenti mencintai perempuan yang belum pernah mengetahui perasaan cintaku pada dirinya bahkan sejak dulu. Ia bercerita tentang dirinya yang sering dikhianati oleh cinta dan terkadang sudah sangat apatis akan perasaan purba antar dua sejoli manusia itu.
“…duh, Lisa…. kamu itu layak mendapat cinta dari orang yang benar-benar tulus mencintai dirimu!”, kataku di sela-sela ngobrol kami sambil minum kopi di kafe Yves, tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Sambil tertawa dia merespon, “….bagaimana memang lelaki yang benar-benar mencintai aku itu?”.
“…Ya, seseorang yang sangat menyayangimu, sehingga bahkan tiap hari ia akan sangat bersyukur bahwa ia bersama denganmu,” kataku sekenanya, “….seseorang yang tak pernah bosan melihat wajahmu, seseorang yang bisa melupakan kegetiran dan kerasnya hidup ini, hanya dengan menghabiskan kebersamaan dengamu, ….seseorang yang merasa dirimu adalah anugerah terindah dari Tuhan bagi hidupnya….” Lisa tertawa-tawa, “….aduh kamu ini, memang ada yang jatuh cinta seperti itu banget?”.
Aku juga jadi tertawa, sebuah respon dariku, “….ya, Lisa, ….dan sialnya buatku, aku pernah dan celakanya mungkin masih punya perasaan serupa itu padamu….,” tiba-tiba membuat kami berdua sontak hening. Sebuah pengakuan spontan dari mulutku yang tulus dan tak akan pernah kusesali karena bagiku itu adalah kejujuran yang sejujurnya. Kalimatku itulah yang tiba-tiba menguak banyak memori lama di benakku dan juga bagi Lisa tentang kebersamaan sepuluh tahun lalu yang singkat namun sangat berkesan. Aku sadar bahwa saat itu, sebenarnya perasaanku pada Lisa tidak bertepuk sebelah tangan. Sepuluh tahun yang lalu, ia menantiku sementara aku menunggu saat yang tepat untuk mengungkap perasaanku padanya.
Memori hanya bisa membesar ketika korelasi meningkat. Kehangatan-kehangatan ketika masa mahasiswa dulu menghangatkan hari-hari kami berdua selama di Paris setelah itu. Waktu berjalan menjadi terasa begitu cepat dan tak terasa aku telah menyelesaikan training-ku di kota yang indah itu.
Saat itu Lisa juga memutuskan untuk ikut kembali ke Indonesia, kami satu pesawat dan duduk bersebelahan bak pasangan remaja yang dimabuk asmara. Kami tahu bahwa cinta kami berdua sejati, namun tahu pula status pernikahanku dengan Rini membuat perasaan kami ini merupakan hal yang terlarang. Sesampai di Jakarta, aku tak langsung pulang. Aku masih ingin menghabiskan satu malam lagi bersama Lisa.
Semenjak itulah mungkin aku menjadi agak merasa dingin dengan Rini. Banyak gejolak dan debur ombak di dalam pikiranku semenjak pertemuan dan ungkapan perasaan cintaku yang berterima pada Lisa. Aku tahu bahwa cintaku pada Lisa adalah cinta yang tulus dan sejati, yang tak bisa lekang oleh waktu, tempat, dan apapun yang bersifat fisis. Namun fakta bahwa aku telah mengucap janji di altar untuk sehidup-semati dengan Rini benar-benar menempatkan diriku berada pada posisi melawan seluruh dunia. Beberapa kali aku mendiskusikan hal ini dengan Lisa, dan ia tak pernah sekalipun memberi jawaban verbal. Ia menggenggam tanganku dengan keras, dan keheningan pun diiringi tetesan air matanya, yang membuatku tak tahu harus berkata apa lagi.
Hasrat cintaku pada Lisa adalah sebuah resonan di dalam diriku sehingga air matanya merupakan sakit yang mendalam dan memberi sesak di dadaku; sebuah perasaan yang tak pernah aku rasakan semenjak kelahiranku ke muka bumi, bahkan dengan Rini sekalipun. Aku tak pernah bisa lagi mengungkap problematika yang kuhadapi itu pada Lisa. Ketakpastian hubunganku dengan Lisa akhirnya menjadi sebuah kenyataan, dan kami berdua seperti dua orang yang seolah menjadi manusia yang hanya hidup untuk hari ini, karena esok kemungkinan dunia melarang kita untuk menjalin kasih.
Hingga suatu sore, wangi bunga cinta yang kusimpan rapat-rapat itu tercium juga oleh Rini. Pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi. Ya, sebenarnya mungkin bukan pertengkaran, karena komunikasi verbal didominasi oleh Rini, mulai dari amarah, teriakan, isak tangis, hingga ungkapan menyumpahi diri sendiri dan memohon diriku untuk mencoba mencintai dirinya. Tapi bagiku dusta adalah hal terburuk yang bisa dilakukan oleh manusia. Aku tak mau hidup dalam dusta, dan hanya dengan mengucapkan hal yang sejujurnyalah manusia itu dapat tetap menjadi bebas.
“….apakah kau benar-benar mencintainya, Henri?”
“….ya, Rini…”
“….tidakkah kau punya perasaan sedikit saja cinta untukku yang bisa dipupuk demi mempertahankan cita cinta kita dalam membangun hidup bersama sebagaimana yang pernah kita ikrarkan?”
“….maaf, Rini, ….tidak!”
Tak bisa aku berbohong. Dan bagiku hidup manusia itu terlalu singkat jika mesti dikotori oleh satu hal kecil saja yang bernilai kebohongan. Jika kata-kata saja dari seorang lelaki tak lagi bisa dipegang kebenarannya, maka apa lagi hal lain yang bisa dipercaya dari diri lelaki tersebut?
Dan apalagi hal ini terkait cinta. Rini bisa memintaku untuk mempertahankan ikrar hidup keluarga antara aku dan dirinya, tapi siapapun tak bisa memintaku untuk membuatku menyangkal perasaan cintaku pada Lisa dan berpura-pura mencintai Rini. Aku tahu, bahkan Tuhan pun tak ingin hal itu, karena Tuhan adalah absolutisme dalam hal kejujuran dan kebenaran.
Kami tahu bahwa hubungan kami telah mengkhianati sebuah ikrar yang kuungkap di hadapan-Nya. Tetapi aku juga tahu pasti, ini adalah sebuah tantangan bagi diriku untuk berdiri tegak mengungkap kesejatian cinta.
Hingga sore ini. Aku akhirnya menandatangani surat gugatan cerai dengan Rini untuk segera diproses di pengadilan. Bagiku, pernikahanku dengan Rini mungkin adalah sebuah kesalahan dalam hidup yang tak mungkin dapat diubah karena panah waktu berjalan ke satu arah saja dalam realitas hidup. Tetapi tanda tanganku pada surat itu bagiku merupakan isyarat bahwa aku berjalan dengan kepala tegak dan kukuh. Bagiku, apapun layak dikorbankan demi guratan kebenaran. kejujuran, keikhlasan, dan kesejatian. Tak ada norma, aturan, hukum, atau apapun dalam relief kehidupan manusia yang boleh menyangkal hal itu, termasuk kegagalan pernikahanku dengan Rini.
Apalah arti hidup, tanpa beberapa kesalahan kecil…
Bandung, 7 Maret 2009
No Comments »
Posted by: quicchote in prose
Aku kriminal? So What? Aku penjahat? Trus kenapa? Aku maling? Lantas? Aku tak bermoral? Cukup bicara moral! Aku sadar aku mungkin jadi salah satu penghuni neraka. Aku tahu aku ini orang yang tak mungkin menikmati surga. Aku adalah binatang yang paling biadab. Aku tak peduli. Aku hidup toh untuk hari ini. Besok, aku tak tahu. Kau tak bisa bilang aku tak beriman. Meski pekerjaanku tak akan pernah ada yang memuji. Aku memang tak berharap dipuji, sama seperti aku juga tak pernah peduli jika siapapun memaki diriku, mendo’akanku agar mendapat celaka. Aku tak peduli.
Hari ini tanggal delapan belas, hari ketujuh pekerjaanku setelah setahun luntang-lantung tidak karuan dan menjadi pekerja bengkel yang selalu disemprot oleh bosku. Dan sejam lagi, korban kesepuluhku akan merasakan dahsyatnya kemampuan elektronik-ku. Aku tak perlu menjadi seorang filsuf untuk dapat memahami hidup. Aku juga tak perlu menjadi insinyur untuk menjadi seorang mekanik. Aku tak perlu menjadi dokter untuk dapat menyembuhkan demamku. Aku tak perlu menjadi seorang barela untuk meracik kopi ter-enak yang pernah bisa kuminum. Sama seperti aku tak perlu menjadi seorang psikolog untuk dapat memahami cinta dan sayang, aku tak perlu menjadi politikus untuk menjadi pemimpin. Aku bahkan tak perlu menjadi ekonom untuk memahami apa yang bisa kubeli dan kujual. Dunia ini sudah seperti lumpur kotoran kerbau. Dunia bahkan mendefinisikan surga, bahkan Sang Penciptanya. Jangan bicara surga jika kita masih bergulat di sini.
Dan ini adalah misi hanya dua orang, aku dan Yogi. Sebuah sepeda motor sebagai alat transportasi. Jaket kulit dan helm di kepala untuk menghangatkan udara malam yang dingin di kota kembang ini. Terakhir tentunya hanya diperlukan nyali yang dahsyat kemampuan teknis mekanik yang juga maju. Dalam pekerjaan ini, keberanian, kesetiakawanan, dan kecerdasan mesti berpadu jika tak mau celaka. Kutenteng ransel hijau berisi perlengkapan pembobolan kunci L-R, satu alat ukur listrik, kabel, martil, tang, beberapa obeng kecil, dan sebuah pisau kecil yang dapat berfungsi banyak mulai dari pemotong hingga pembela diri. Deru sepeda motor Yogi mulai meraung, kami ke daerah misi sekarang: Sarijadi, perumahan di kawasan utara Bandung!
Di sepanjang jalan, aku banyak memotivasi Yogi yang memboncengku. Ia terlihat mulai jenuh memang dengan pekerjaan ini. Risikonya besar tapi hasilnya sangat kecil, katanya. Tiba-tiba, ponselku ber-vibra dan kubaca pesannya. Ada alamat di sana. Kubacakan alamat itu pada Yogi, dan kami melaju lebih cepat lagi.
Sepeda motor adalah target kami. Kriminal curanmor adalah sebutan buat kami. Dan ketika jam tanganku menunjuk sejam sebelum subuh, kami sudah masuk ke sebuah gang kecil. Rumah bercat kuning dan bergerbang hijau pendek itu adalah sasarannya. Yup, sebuah sepeda motor Yamaha Mio berplat “D 2778 FR” memang sedang bertengger di sana. Sebagaimana operasi standar, kami lewat dulu sekali. Berputar-putar di sekelilin g kompleks perumahan yang lumayan padat itu untuk melihat-lihat. Ada beberapa orang di sana. Tak jauh dari rumah yang jadi sasaran kami pagi ini ada pasar pagi sepertinya. Beberapa pedagang sibuk dengan sayuran di gerobaknya. Langit masih gelap. Aku tersenyum kecut melihat seorang pedagang yang sepertinya sudah sangat tua dan keletihan mendorong gerobaknya. Dalam hatiku, aku berkata, “sabar, pak, bentar siang juga gerobaknya kosong kok…”
Tepat setengah jam, kami sudah berada di gang itu lagi. Ada orang agak jauh dari rumah itu, mungkin mau persiapan sholat subuh. Aku melompat kecil turun dan menepuk punggung Yogi. Ia jalan terus, dan aku turun mulai melangkahkan kaki ke beranda rumah yang gelap itu. Penghuninya mungkin masih tidur. Tapi kalaupun bangun, dengan pintu gerbang tak bergembok seperti ini, semuanya hanya perkara menit bagiku. Sebuah surat kabar pagi sepertinya baru dilemparkan oleh pengantarnya. Kucuekin. Aku mendekati sepeda motor ber-perseneling otomatis itu. Kulihat roda depan dan belakang. Aneh! Nekat sekali pemilik sepeda motor ini: tak ada kunci ganda! Ranselku kulepas, satu obeng dan satu kunci standar kugenggam. Sebentar saja, lampu berwarna hijau pertanda sudah ada sambungan listrik dari akumulator dan mesin sudah muncul. Kunaiki sepeda motor itu. Kudorong pelan keluar dari beranda rumah. Tombol starter kunyalakan, tak ada suara. Ada perasaan aneh mulai menjalariku. Untuk menenangkan diri, aku mendehem pelan. Kutekan lagi, dan suara mesin yang khas dan menandai rezeki kami mulai terdengar membisik. Dengan kecepatan rendah, sepeda motor kubawa pergi. Tapi aneh, beberapa detik setelah sepeda motor ini kubawa, ada perasaan bergidik lagi di tengkuk-ku. Tapi aku cuek saja.
Yogi sudah menunggu dengan senyuman di depan warung Alfa Mart itu. Kami mulai bersepeda motor dengan gembira. Mungkin sama gembiranya dengan beberapa orang yang sudah tua bercelana pendek sedang jalan pagi. Ia menikmati udara pagi, setelah sedemikian kaya, sementara kami menikmati udara pagi, setelah mendepat rezeki sepeda motor yang mungkin masih tepat setahun umurnya ini. Karena dari plat nomornya jelas hal itu terlihat. Dan karena cukong penadah motor ini bekerja sama dengan perusahaan asuransi kenderaan bermotor. Asuransi biasanya berakhir setahun, dan cenderung pemilik kenderaan malas memperpanjang. Perusahaan asuransi mendapat untung karena tak lagi mendapat klaim, sementara cukongku senang mendapat stok baru untuk dijual. Kami pun senang, karena tentu Yogi dan aku akan mendapat masing-masing sekitar satu juta rupiah kontan. Namun, di tengah berkendara, perasaan aneh itu muncul lagi. Ini sudah korban kesepuluh, tapi kok aku merasa tak enak, berbeda dengan kemarin-kemarin. Sesampai di kawasan terminal, tak jauh dari rumah pak cukong, aku melihat langit mulai memerah. Aku klakson Yogi, dan menunjuk ke arah masjid yang tak jauh di depan kami. Yogi seperti biasa cemberut.
Kami parkir di depan. “Kau sajalah yang sholat!”, katanya. Ia duduk dan mulai menyalakan rokoknya. Aku hanya diam saja. Kubersihkan diriku dengan segarnya air wudhu, kupanjatkan do’a dan agak perlahan perasaan aneh yang dari tadi muncul itu lenyap. Selesai sembahyang. Kuhampiri Yogi, kutepuk pundaknya. Aku ajak dia ke warung kopi di dekat situ. Ia menurut. Pak cukong paling juga belum bangun. Secangkir kopi, semangkuk bubur kacang hijau, dan dua pisang goreng tentu tak meminta banyak waktu. Tempat ini toh sudah sangat jauh dari tempat tinggal pemilik sepeda motor yang kami curi.
“Kau itu penjahat, kriminal, ngapain sih sok ibadah?!”, Yogi berujar setelah si penjaga warung lenyap dari pandangan. “Lho, emang kenapa?”, balasku sambil menyeruput kopi hangatku. Ia merengut, diam saja sambil mengunyah pisang gorengnya.
“Kalau aku penjahat, memangnya aku tak percaya pada Tuhan?”.
“Iya, tapi ngapain juga ibadah, toh nanti kau masuk neraka jahanam! Memangnya Tuhan mengampuni dosa yang baru kau lakukan ini? Saban hari, tiap habis nyuri pasti do’a, …aneh!!!”.
Suasana hening sejenak. Hanya ada decak kunyah di sana dan di sini. Ingin rasanya, aku bercerita pada Yogi, tapi aku tahu apa yang ingin kukatakan padanya pasti membuatnya bingung.
Ingin aku berkata pada Yogi dan seluruh dunia, bahwa aku beribadah memang bukan memohon ampun akan dosaku. Aku juga tak beribadah agar aku tak masuk neraka. Setiap kali aku berdo’a aku memohon pada Tuhan agar jangan menjadikan uang hasil perbuatan kriminalku ini berlepotan dosa juga. Aku memohon pada Tuhan agar biar aku saja yang dihukum atas perbuatan jahatku ini. Janganlah perbuatan dosaku ini merembet pada biaya berobat isteriku yang sedang hamil tua. Agar jangan makanan yang dihidangkan isteriku dari hasil jarahanku ini memberi keburukan bagiku. Aku berdo’a agar anakku kelak tak perlu menjadi pencuri seperti ayahnya. Aku berdo’a bukan agar si pemilik kendaraan bermotor itu meng-iklash-kan barangnya kucuri. Aku berdo’a agar biar aku saja yang dihukum kelak di akhirat. Aku juga tak berdo’a agar aku tak tertangkap. Aku melakukan kejahatan di dunia, dan hukuman yang ada di dunia jelas adalah resiko buatku. Aku berdo’a agar aku dihukum, karena aku tahu jika orang dengan alasan seperti aku dan latar belakang seperti aku dilaknat, maka keadilan akan ditegakkan. Hukum manusia itu sifatnya resiko, tapi hukum Allah adalah yang seadil-adilnya.
Kami bergegas pergi setelah membayar. Sepanjang perjalanan ke cukong, hingga akhirnya kami berpisah pulang setelah matahari pagi mulai terbit. Yogi dan aku tak bercakap apapun. Siang itu, kami duduk-duduk menunggu uang hasil tadahan dari pak cukong di Warung Padang dekat berbagai sepeda motor mulai dari hasil tunggakan kredit hingga hasil curanmor seperti karya kami di pajang untuk dipamerkan untuk dijual. Untuk satu sepeda motor tentunya kami sebagai operator lapangan yang mendapat persen paling besar, karena cukong perlu membayar banyak hal. Mulai dari sogok kiri-kanan agar administrasi sepeda motor itu beres hingga biaya bengkel untuk mempermak sepeda motor itu sehingga tampak sangat berbeda dengan ketika statusnya masih menjadi barang bukti.
Warung Padang itu sepi. Cuma ada aku dan Yogi di situ, merokok, menunggu panggilan sms dari pak cukong. Tak jauh, di dekat makanan dipajang, si empunya warung duduk terkantuk-kantuk oleh udara siang yang memang panas dan meletihkan. Sekonyong-konyong seorang perempuan muda masuk ke dalam warung. Parasnya putih dan cantik, rambutnya lurus terikat rapih. Kakinya melangkah pelan masuk ke dalam warung dan matanya melirik ke sana-kemari ke arah dalam warung, dan ketika mata itu beradu dengan mataku, sesimpul senyum tersungging di bibir tipis perempuan itu. Ia menghampiri si tukang warung yang langsung terjaga, dan mereka pun bercakap soal lauk, kuah, rendang, sayuran dan sambal. Perempuan cantik itu membawa piring berisi makan siangnya melewati kami sambil tersenyum dan duduk di meja seberang. Ia makan dengan lumayan lahap. Aku yang dari tadi meliriknya, diganggu oleh Yogi. “Hoi! Ingat bini di rumah!”, katanya sambil tertawa. Aku juga tertawa pelan.
Ada perasaan aneh ketika aku melihat perempuan itu. Tapi bukan perasaan seperti seorang laki-laki pada perempuan. Ada sesuatu pada perempuan itu yang membuatku merasa tak tenang. Tapi aku cuek saja. Akhirnya aku melarutkan diri berbicara tentang sepak bola dengan Yogi. Setengah jam kemudian, perempuan cantik itu melewati kami melangkah ke arah si pedagang warung, membayar dan berlalu. Mestinya jika wanita itu adalah sumber kegelisahanku yang tak jelas penyebabnya, aku harusnya lega ia pergi. Tapi ini tidak. Aku tak lagi bisa mencerna omongan Yogi. Kepalaku tiba-tiba sangat pusing dan jantungku berdebar. Sementara Yogi terus bercerita, tiba-tiba si pemilik warung berteriak, “waah… ketinggalan nih!!!”. Ia menunjuk ke arah meja tempat perempuan itu duduk. Ada sebuah buku tipis bersampul gelap di sana. Entah angin apa yang mendorongku, aku berdiri dan menghampiri meja itu. Kuambil buku itu. Dan aku merasa sangat kaget bagaikan disambar petir. Buku itu adalah Buku Pemilik Kenderaan Bermotor atas sepeda motor dengan nomor polisi “D 2778 FR”, motor yang kucuri tadi pagi!
Berarti perempuan itu adalah pemilik sepeda motor otomatik yang tadi pagi subuh kucuri?! Ya ampun, gila, apa-apaan ini? Darimana dia tahu kami ada di sini? Tapi mengapa ia meninggalkan buku BPKB yang di dalamnya ada STNK bahkan kuitansi pembelian sepeda motor itu? Apa ini???
Aku terjatuh, tapi tidak pingsan. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Siapa perempuan itu? Kulihat selintas nama di STNK itu adalah nama seorang laki-laki, mungkin entah siapa. Siapakah perempuan itu? Apakah ia hantu? Atau ia malaikat yang menunjukkan kemarahan Tuhan padaku? Aku ingin bangkit dan berlari mengejar perempuan itu. Tapi aku tak kuasa berdiri. Aku tergeletak saja seperti itu. Si pemilik warung dan Yogi tampak panik dan agak heran melihatku. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku… Aku seperti melayang….
Bandung, 18 Desember 2008
No Comments »
Posted by: quicchote in prose
Ini sore yang biasa, dan ada tiga foto di genggamanku saat ini. Aku tersenyum memandangi foto paling atas. Sesosok tubuh ringkih yang dari tatapan matanya aku tahu dia seorang pemalu. Roni namanya. Lelaki pertama yang masuk ke dalam hidupku. Ia adalah bintang di kelasku. Tapi bukan bintang-bintang seperti yang ada di benak gadis-gadis saat ini tentunya. Ia bukan bintang yang lolos masuk ke acara idol-idol-an. Ia adalah bintang karena ia paling cepat menghitung akar-akar sebuah persamaan kuadrat, menyelesaikan persoalan tumbukan benda, tapi juga paling fasih menuturkan kisah-kisah yang mengitari ditemukannya efek fotolistrik, bagaimana menghitung usia matahari, bahkan dengan lentik jemarimu memainkan lagu-lagu di piano sekolah. Ia adalah seseorang yang menjadi sahabatku, dan sungguh malang bagi diriku ketika lambat laun aku mulai jatuh hati padanya. Aku masih ingat kekonyolan ketika itu aku berlari-lari masuk ke dalam kelas, dan teman sekelas yang tengah berdiri di dekat pintu, Rudi, dengan sengaja menyorongkan kakinya, sehingga aku tersandung jatuh, dan rok abu-abuku tersibak. Kau yang sangat pemalu, tak suka berkelahi, anak kesayangan guru, tiba-tiba berdiri dan mendorong tubuh Rudi yang jauh lebih tinggi besar darimu. Saat itu aku sadari bahwa meski kita masih remaja, Roni menjadi pembela kehormatanku. Aku tahu dan kuungkapkan perasaan itu bukan dengan kata-kata, tapi dengan kelembutan yang amat hati-hati aku torehkan obat merah ke luka memar di keningmu setelah berkelahi dan harus menghadapi sidang guru hari itu untuk membelaku.
Aku juga masih ingat sore itu kita duduk di vila tempat perpisahan kelas. Hanya ada aku dan kau di sana, dan kau petik gitar itu sambil menyanyikan lagu tentang cinta tak sampai. Aku jatuh cinta pada Roni, namun aku merasa tak mungkin untuk mengungkapkannya secara verbal, karena aku perempuan dan ia laki-laki. Aku hanya bisa memeluknya di dekat api unggun itu, karena aku akhirnya tahu bahwa ia akan melanjutkan kuliah di kota lain, di pulau lain. Aku tak bisa menahan air mata. Tapi aku tak pernah bisa mengucapkan satu kata cinta pun dari mulut dan lidahku yang kelu. Aku tahu Roni pun pasti memiliki perasaan yang sama, namun aku yang selalu menunggu, tak pernah juga mendengar kata cinta dan sayang darimu untukku. Aku tahu Roni juga mencintaiku, tapi kami tak pernah bisa berkomitmen. Tak pernah ada janji apapun dengan Roni.
Kemudian hari aku mendengar kau telah berangkat ke kota tempat kau melanjutkan kuliah, dan sesudahnya kita tak pernah lagi bertemu. Aku masygul dan tak mungkin bisa menyesal kala itu. Ingin rasanya aku mengulang malam itu di malam perpisahan kelas kita, ketika keningku kau kecup dan aku balas dengan mencium pipimu. Hingga kini aku tak lagi mendengar kabar darimu. Mungkin sekarang kau sudah berkeluarga. Mungkin sekarang kau sedang meniti karir sebagai seorang insinyur sebagaimana yang pernah kau cita-citakan dulu sewaktu mengisi berkas-berkas UMPTN, meski di dalam hatimu ada rahasia bahwa kau ingin sekali menjadi guru. Sebuah rahasia yang hanya kau bisikkan padaku. Katamu waktu itu, hanya aku yang tak tertawa mendengar cita-cita rahasiamu itu. Ya, karena aku tahu bahwa kau memang akan menjadi seorang guru yang luar biasa. Kau akan melebihi pak Anton mengajarkan persamaan trigonometri, dan akan membuka cakrawala magnet elementer lebih dari pak Herman, dan sudah pasti siswamu akan sangat menikmati ketika kau bercerita tentang pembentukan pati dan zat asam arang pada tumbuhan berklorofil. Kau adalah bintang, dan bukan seperti bintang-bintang zaman sekarang yang bersinar karena berdandan, fitness ke gym atau nge-basket, dan meniru-niru lenggak-lenggok para artis dan selebritis di atas panggung.
Tapi itu kejadian lima belas tahun lalu, dan kita tak pernah saling bersua lagi. Aku masih mencintaimu, namun aku tak pernah bisa mengutarakan isi hati ini padamu. Karena waktu itu aku selalu menunggumu untuk mengutarakannya padaku. Kita tak berjodoh. Waktu telah menunjukkan bahwa memang kau bukan orang yang tepat buatku. Aku tak kuasa menahan senyum mengingat-ingat kekonyolan masa lalu yang sudah sangat jadul itu.
Ada foto lain di balik itu. Foto seorang lelaki bertubuh tegap dan berambut cepak. Mungkin ini foto lelaki yang pernah paling dekat dalam hidupku. Deni, seorang lelaki yang kebetulan adalah tetanggaku. Lelaki yang memiliki kehidupan yang sangat keras namun luar biasa lemah lembut ketika berada di dekatku. Ia seorang taruna waktu itu. Mungkin sekali ia adalah cinta pada pandangan pertamaku. Entah karena aku memang telah lama larut dalam kerinduan yang tak pernah tuntas akan Roni setelah bertahun-tahun tak mendengar kabar. Namun kala itu hujan, dan aku berteduh di pinggiran sebuah rumah yang atapnya cukup menjorok untuk tubuhku. Kau lewat di sana dengan langkah tegap berpayung hitam. Aku mengamatimu dari kejauhan, dan tiba-tiba hatiku menjerit ketika kau berhenti dan menawarkan payung itu padaku. Tak kuasa aku terheran-heran ketika sore itu kau sebut namaku, dan bahwa kau telah mengenalku sebagai tetangga sementara aku seolah buta memiliki tetangga segagah dan serupawan dirimu.
Payung itu kuambil, dan hingga kini aku masih geli mengingat kejadian itu. Kau pinjamkan payung itu agar tubuhku terlindung dari curahan hujan yang dingin, namun kau sendiri berjalan beberapa depa di belakangku. Katamu waktu itu, agar aku leluasa berjalan dengan tas kuliahku yang memang cukup penuh berisi buku perpustakaan yang baru kupinjam. Aku yang masih terkaget-kaget pada kenyataan bahwa kau mengetahui namaku dan tempat tinggalku mau saja waktu itu berjalan di bawah payung pinjaman sementara pemiliknya berjalan kuyup oleh hujan di belakangku. Sikapmu sungguh membuatku geli sekaligus menyadarkanku akan sikapmu yang satria dan aku tak dapat menyangkal bahwa tautan hati kita adalah sesuatu yang sangat berharga buatku.
Tapi alangkah sulitnya untuk berpikir untuk berlama-lama bersamamu, Deni. Sedekat apapun hati kita bertaut, perbedaan kita yang begitu jauh berbeda tak pernah bisa menghalalkan kemesraan ini. Tak lama hatiku begitu berbunga tatkala kau utarakan kasihmu padaku, karena mamaku langsung marah-marah melihat boneka yang kau berikan sebagai hadiah cintamu yang kuterima malam akhir pekan itu. Kau putera dari seberang, yang lahir dari keharusan menyembah Tuhan yang berbeda dengan diriku. Sementara aku puteri semata wayang dari ortodoksi keluarga Jawa yang tak mungkin bisa menerima keluargamu yang berbeda agama denganku. Kita begitu dekat, dan di saat yang bersamaan begitu berjauhan. Jika Roni menjadi tak tepat karena aku terlalu lama menanti oleh cinta yang perlahan mekar dan tumbuh, dirimu menjadi tak mungkin oleh perbedaan di mana tubuh ini dilahirkan. Senyumku kecut tatkala kuusap fotomu kini, oleh sebuah kesadaran bahwa kenyataan psikis tak selamanya sejalan dengan kenyataan fisik. Kau mendapat semprotan dari ayahmu yang kebetulan menjadi klien ayahku di kantor, sementara ibu tak henti-hentinya membuat makan malamku menjadi pahit, hambar, dan membuatku mual oleh ledekan yang sungguh membuatku tak lagi kenal dengan kasih, sayang, cinta, dan kejujuran pengertian.
Dunia ini kejam, tak seperti surga di mana jiwa dapat bersemayam dalam mega cinta di mana kejujuran sebagai satu-satunya bahasa. Entah di mana kini kau berada, Deni. Sangat mungkin kau telah berkeluarga sebagaimana kudengar dari ibuku yang beberapa waktu lalu tak sengaja bertemu ibumu. Ibumu sangat bangga menceritakan betapa lengkapnya keluarga setelah mendapat dua orang cucu darimu dan dari dia yang kau sayang. Sementara aku masih saja dirundung rasa kehilangan dirimu bahkan kini setelah tujuh tahun berselang. Perasaan letih dan sepi yang tak mampu kujelaskan berganti-ganti antara impianku akan Roni dan senyuman lembut seorang Deni. Mereka berdua bukanlah orang yang tepat.
Buru-buru kutaruh fotomu di bagian paling bawah dari tiga foto yang ada dalam genggamanku. Tapi mega mendung itu belum mau pergi. Mataku tertuju pada senyum lebar Arman. Seorang pemuda yang darinya aku belajar paling banyak tentang hidup dan arti pentingnya impian untuk menggapai maslahat terbesar bagi manusia dan kemanusiaan tempatnya berada. Seorang yang pernah menjadi mahasiswa di kelas yang sama ketika aku juga sebagai mahasiswi. Seorang yang cuek, namun ketulusan kurasakan ketika kau kecup tanganku seraya getar gemetar bibirmu mengucapkan kata cinta untukkku. Cuek dan kasar adalah kesan yang didapat dari ibuku, tapi aku tahu pasti, itu adalah sisi mata koin yang sama dengan kejujuran, ketulusan, dan upaya yang kukuh untuk berjaga di garis batas impian dan harapan. Arman adalah seorang lelaki yang darinya aku belajar banyak bagaimana menghargai diri sendiri dengan memberi penghargaan setinggi-tingginya bagi orang lain. Ia adalah lelaki yang darinya aku tahu bahwa filsafat itu bukan teori, namun sebuah ungkapan nyata perilaku sebagai cerminan dari harapan.
Aku masih ingat kala itu di sebuah hari di mana aku genap berusia dua puluh dua tahun. Ketika itu sebuah buku kau berikan padaku, bukan boneka, bukan keremeh-temeh-an yang biasanya jadi simbol cinta mahasiswa dan mahasiswi. Kau seolah tahu bahwa mataku yang sulit terpejam di malam hari sering menari-nari dari satu halaman ke halaman lain dari berbagai prosa, fakta, hingga poetika. Hatiku gemetar jika mengingat ucapanmu kala itu bagai resonansi dari getar cinta di hatiku. “Kamu akan lama namun sangat menikmati membaca ini”. Saat itu aku mulai mengenal Jose Rizal, sastrawan yang kau kagumi, yang karya-karyanya menjadi semangat perlawanan rakyat Filipina melawan penindasan pemerintahan kolonial yang bercokol di balik tangan besi dan doktrin kaku gereja.
Kau merupakan inspirasiku dalam lima tahun ini. Suatu kali, tiba-tiba kau mengenakan earphone sore itu. Ketika kutanya mengapa kau tak seperti biasanya dengan earphone menggantung di lehermu, kau berkata sangat terganggu dengan keciap seekor anak kucing yang kehilangan induknya dan kau bawa ke rumah di musim hujan yang rentan baginya, yang mungkin baru berusia beberapa hari. Kau terganggu, dan kau temukan cara untuk bisa menikmati gangguan itu. Rasa cintamu pada banyak hal, sedikitpun tak membuatku cemburu, Arman, karena senantiasa kau selalu ungkapkan rasa cinta itu padaku sebagai inspirasi melalui ekspresi yang tak sama.
Tiga tahun pertama bersamamu merupakan waktu paling bahagia buatku, karena tak sedetikpun dalam tiga tahun itu aku teringat akan rona luka akan kepergian Roni dan kandasnya harapan bersama Deni. Betapa nikmat berdua bersamamu memaki dunia yang penuh kekonyolan ini. Tiga tahun itu pula aku banyak belajar bahwa apa yang kupelajari ternyata telah membutakanku akan hidup dan bagaimana semestinya menjalani tantangan hidup. Selama itu pula aku tersadarkan akan pemberian penghargaan tertinggi bagi diri sendiri sebagai tercermin dalam rasa empati yang dalam bagi orang lain, makhluk lain, bahkan apapun termasuk buku-buku yang menemani malamku yang rindu akan mentari pagi agar aku bisa bertemu dan bersua dengan cinta dan ceritamu. Tapi itu menjadi tiga tahun yang singkat karena tiga tahun itu terlalu baik dan terlalu indah.
Semenjak tahun lalu kau seolah berubah. Kau lamat-lamat berubah menjadi lelaki yang tak lagi bisa menemukan keringanan menjalani tantangan hidup. Kau mulai mengeluh akan berbagai praktik korup dan berbagai politik kantor di tempat kau baru bekerja enam bulan. Kemandirian berfikir, kematangan bersikap, dan kekokohan pendirianmu seolah hanya ada ketika kau belum mesti menanggung beban sebagai seorang pekerja kantoran. Ketika kutinggalkan pekerjaanku yang mapan sebagai seorang pengacara menjadi salah seorang pengajar di sebuah sekolah dasar sisa instruksi presiden Orde Baru, kau memuji idealisme yang kuperjuangkan, namun sungguh, lama sekali aku tersiksa karena entah mengapa pujian itu seperti cabikan di telingaku. Aku tak tahu bagaimana menjelaskan ini, tapi aku perempuan, yang mungkin lebih sensitif daripada seorang lelaki.
Kau seolah berubah. Kecuekanmu yang tadinya sudah hampir biasa bagi keluargaku, telah berubah menjadi konflikmu yang cukup runyam dengan ibuku. Namun aku berusaha untuk meyakinkan diriku, Arman, bahwa ini hanya akan bersifat sementara. Keketusanmu menjadi hal yang menunjukkan adanya dorongan emosional yang mendalam pada dirimu yang tak bisa kumengerti. Aku tahu bahwa meski kau tak suka dengan lingkungan kerjamu saat ini, kau memiliki beban dari keluarga yang menjadikanmu tumpuan harapan. Tapi sungguh, dari Arman yang kukenal dahulu, caramu menyikapi keadaan sungguh berlainan. Kau menjadi sering bertanya ini itu padaku, tentang apa yang mesti kau lakukan dan banyak lagi sementara keluhanmu itu selalu pula dibarengi dengan ungkapan kekesalanmu dengan lingkunganmu dan bahkan terkadang ketakmampuanmu dalam menghadapi dunia kehidupan yang memang seolah kejam dan penuh sandiwara ini. Kau menjadi gampang goyah, dan kau pikir aku tegar menghadapi semua ini? Orang jarang melihatku berurai air mata seperti gadis-gadis lain, yang entah sedih atau senang matanya selalu sembab. Tidak! Aku ini anak sematawayang yang sering disepelakan. Justru tiga tahun bersamamu mengajarkanku agar tak menjadi cengeng dan tetap tegar atas masalah apapun yang mesti dihadapi.
Tak pernah mungkin kau lihat bagaimana aku tidur dengan lampu yang dimatikan karena tak kuasa aku tidur dengan kepiluan yang membuatku tak mampu lagi membendung air mataku. Dan ketika cercah sinar di ufuk timur mulai memanggil ibadah subuh, air mataku tak jua mengering. Kau tak pernah tahu bagaimana sakitnya hati seorang yang belajar menghadapi hidup darimu harus menerima kenyataan bagaimana kau sendiri tak mampu menghadapi hidup itu. Batinku tersiksa. Aku selalu berusaha untuk memelukmu dan mengatakan bahwa segala tekanan yang kau hadapi suatu saat akan berakhir dan kebersamaan kita akan menjadi sumber kebahagiaan yang utama. Tapi tidak, Arman, aku sangat letih saat itu dan kemudian. Aku letih dan keletihan itu telah berbuah pada keributan dan perselisihan di antara kita bahkan oleh hal-hal yang bahkan sangat sepele. Aku letih, dan aku seolah kehilangan Arman yang mestinya mampu memberikan bahu untuk meredakan tekanan yang kuhadapi sebagai seorang anak semata wayang yang dituntut ini itu, sebagai seorang sarjana hukum berprestasi yang akhirnya oleh orang banyak dianggap hanya sebagai seorang guru bergaji kecil di sudut kota yang kumuh dan sebagai perempuan belum juga menikah di usia yang seperti ini di dunia yang sangat lelaki ini, ditambah lagi saat ini sebagai seorang kekasih seseorang yang selalu terlihat goyah bahkan cengeng di hadapanku. Ingin aku meronta, menjerit, tapi aku tak mampu. Kemarahanku pada kebodohanku dengan impian cinderella atas Roni dan Deni, kemurkaanku pada getir dan kepura-puraan sandiwara dunia ini, dan kini kemarahanku pada diriku karena kau bersamaku, dan kau bukan Arman yang dulu.
Dua tahun terakhir dari lima tahun bersamamu sungguh malah membuatku terbiasa dengan segala kegalauan ini. Dua tahun itu aku malah merasa makin kuat dan tiap saat kau semakin lemah di mataku. Jangan pernah pikir bahwa aku bisa terima dengan kondisi ini. Aku hanya terlalu letih, Arman. Aku capek sekali. Aku masih mencintaimu dan menyayangimu, tapi dirimu yang dulu. Dirimu yang masih memiliki ketulusan dan yang mampu melihat hal yang kebanyakan orang tak mampu melihatnya. Kau tak tahu derita psikologis yang kuhadapi, bahkan aku mulai mencipta ilusi tentang seorang lain bernama Arman, seorang yang selalu bisa bercakap-cakap ringan denganku ketika malam telah menidurkan seluruh dunia, dan ketika hanya aku yang terjaga dan buku-buku itu tak sanggup lagi mengukir kegembiraan di kegalauan hati ini. Aku ini pada dasarnya lemah, dan tiap malam aku dipeluk hangat oleh Arman yang lain, sebuah dunia imaji yang menghiburku tatkala aku mesti memendam keletihan yang terkadang telah berubah menjadi benci akan Arman yang kutemui di siang hari. Aku letih, dan aku pikir sudah pantas saat ini Arman cemburu pada Arman yang kutemui saban malam.

Entah bagaimana awalnya, tapi aku akhirnya mulai berani melupakan Arman. Aku mulai sering menghabiskan waktu di kamarku seperti yang saat ini kulakukan. Ada tiga foto dalam genggamanku. Ketiganya kucinta dan kusayang, tapi ternyata bukan orang yang tepat buatku. Arman justru memberiku kesadaran bahwa semestinya aku yang sekaranglah yang dulu bertemu dengan Roni, karena tak perlu aku menunggu ungkapan cintaku padanya. Arman justru membangunkan tidurku bahwa semestinya ketautan jiwa bersama Deni jauh lebih penting daripada sebuah insiden yang akhirnya membuatku merasa tak mungkin bersamanya. Arman pula yang akhirnya saat ini membuatku sadar bahwa lebih menderita bersama orang yang tidak tepat daripada menjalani hidup ini sendiri.
Ketiganya tidak tepat buatku. Aku tak perlu merasa berpura-pura bahwa Roni mungkin tepat buatku, atau Deni, atau Arman, atau siapapun. Aku tak mau berkompromi untuk menganggap yang sejati dari sesuatu yang bersifat keseolah-olahan atau yang aku sendiri tak yakin. Aku masih berharap dan yakin ada seseorang di sana buatku. Seseorang yang sekarang aku tak tahu siapa dia, namun aku mengenalnya di dalam hatiku. Seseorang yang tepat buatku dari segala dimensi waktu, ruang, budaya, apapun. Seseorang yang tetap akan kutunggu sampai kapanpun. Karena meskipun sendiri itu sakit dan sepi, itu masih lebih baik daripada mesti bersama dia yang bukan kekasih hati sejatiku…
No Comments »
Posted by: quicchote in prose
Pelan-pelan kubuka surat itu. Pelan-pelan kubaca isinya. Air asin mengandung garam dari mataku menitik di atasnya. Aku tahu aku tak akan bisa bertemu dengannya. Aku tahu bahwa saat ini dia adalah orang yang tepat. Aku tahu, dan pengetahuan sepertinya sering datang terlambat. Pengetahuan erat terkait dengan penyesalan, karena ketidaktahuan dan kebodohan adalah sumber dari segala sumber penyesalan. Pengetahuan itu suci, karena kebenaran itu abadi; biarpun hanya sebuah kebenaran kecil dalam rintik kehidupan sehari-hari yang tersepele sekalipun. Satu lembar panjang surat itu. Kubaca lamat-lamat. Aku ingin menikmati semua titik tinta yang memunculkan huruf, kata, dan kalimat di dalamnya. Aku tahu kini ketersiksaanmu dengan hanya melihat goyahnya pena ketika huruf-huruf yang kau tulis jauh dari teratur. Kubaca surat itu…
Untuk Cacay…
Muncul dari lidah dan pikiran yang sangat terbiasa akan kesederhanaan dan kenaifan, yang akhirnya terkebiri dan terkerdilkan oleh dunia yang rumit dan kejam kepada kejujuran. Suratku ini mestinya mudah kau pahami…
Pusat massa bolpen itu dikepit antara jari tengah dan jempolku, dan bergoyang-goyanglah ia ke kiri dan ke kanan. Aku ingin menulis untukmu, Luna, tapi aku tak kuasa, karena di dalam realitas yang kuhadapi, meski dirimu adalah manusia lain yang sangat dekat denganku, aku ingin memberi pesan buat orang-orang lain yang kutahu juga mencintaiku. Ketika aku berada di belakang panggung, kau dan aku bagiku satu. Aku punya keyakinan itu karena seringkali apa yang terucap dari mulutmu seolah adalah lintasan pikiranku sendiri yang tadinya ingin kuucapkan. Semenjak kita pertama kali bertemu, aku tahu kau bukan orang biasa, dan adalah keajaiban jika kita bisa bersama. Tapi keajaiban itu terjadi, kau adalah diriku, sumber inspirasiku, manajerku, mitraku, sumber inspirasi atas semua vitalitasku, isteriku. Aku tahu semua ini karena berulang kali kau mengatakan, meski sendiri itu memberi derita, tetapi jauh lebih menderita bersama orang yang sebenarnya tak kita inginkan. Aku akan tulis surat ini untuk mereka yang menyatakan diri sebagai pendengar, tapi aku tahu surat ini kusampaikan untuk terucap dari mulutmu bagi dunia. Surat ini tertuliskan sebagai sebuah tanda momen bahwa akhirnya aku dan kau bagaimanapun bukanlah satu pribadi…
Semua tanda-tanda peringatan dari pelajaran rock punk 101 selama bertahun-tahun ini, semenjak perkenalanku dengan, katakanlah etika yang terlibat dalam kebebasan dan penerimaan masyarakatmu telah terbukti menjadi kenyataan. Aku tak pernah merasa kegirangan dalam mendengarkan seperti halnya mencipta musik, juga membaca dan menulis untuk tahun-tahun sekarang ini. Aku merasa melakukan kesalahan yang jauh melebihi kata-kata tentang hal ini.
Aku hanya bisa mendekatimu dalam abstraksi, tak bisa fisik karena itu adalah sesuatu yang kuanggap keajaiban. Sore itu dirangkulnya bahuku, dan aku tahu semenjak itu, Luna adalah isteri yan g dipilihkan oleh alam semesta buatku. Bagiku Luna adalah orang yang membuat keajaiban itu menjadi kenyataan. Kegembiraan hingga kita mencetak nama grup band kita di papan atas tangga musik. Sungguh aku ingin sekali mengakui bahwa aku sulit terkadang menikmati hingar-bingar musik rock ini, dibanding dari momen-momen di malam hari duduk sepi menikmati Coca Cola di teras rumah saat malam telah sangat larut. Musik adalah sebuah keajaiban bagiku, dan sosok Luna berada dalam posisi yang membuat keajaiban itu menjadi kenyataan. Beberapa perempuan pernah singgah dan ingin menjadikan keajaiban itu kenyataan, namun mereka tak sekuat dan semahligai Luna. Aku sebut keajaiban, karena tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan situasi ini. Nikmatnya proses grup band kita dalam berkarya dan mendapatkan apresiasi publik saat kita menjadi populer, dan nikmatnya siomay hangat dalam momen romansa saat bersama Luna, adalah keajaiban yang hadir bagiku. Bagi beberapa musisi pop rock lain, dua hal ini jarang bertemu. Bagi kebanyakan mereka, musik, wanita, dan obat adalah segitiga dinamika rock ‘n roll. Bagiku ini terlalu biasa dan bukan keajaiban!
Sebagai contoh, ketika kita sedang di belakang panggung dan lampu-lampu dimatikan dan teriakan penggemar mulai menderu-deru, hal itu sama sekali tak sama dengan bagaimana Freddy Mercury mengalaminya; sepertinya ia sangat mencintai dan tergila-gila akan hiruk-pikuk pendengarnya, sesuatu yang sungguh kukagumi dan membuatku iri. Namun sudah jelas, aku tak bisa membodohimu, semua kamu. Kurang adil rasanya buatmu dan juga buatku. Kejahatan terburuk yang bisa kupikirkan adalah merampok orang lain dengan kepalsuan dan berpura-pura seolah aku mengalami kesenangan 100%. Terkadang aku merasa mestinya ada bel yang berbunyi dulu baru aku boleh turun dan keluar dari panggung. Aku sudah coba semua yang bisa kulakukan untuk coba mengatasi hal ini (dan percayalah, aku sudah coba, tapi tak pernah bisa). Aku senang kita bisa bisa memberikan pengaruh dan menghibur banyak orang. Tapi hanya mereka yang narsislah yang menghargai apa-apa yang sudah tidak ada lagi. Aku terlalu sensitif. Aku harus cuek dan tak peduli untuk bisa merasakan antusiasme seperti yang pernah kualami ketika aku masih kecil.
Aku rasa hanya Luna yang tahu betapa aku sangat tersiksa ketika berada di atas panggung dan bahwa aku senantiasa berusaha untuk bisa menikmati itu semua, yang tak kunjung bisa. Begitu banyak gosip yang menyertai diriku di media massa. Tapi aku sungguh merasa aneh karena Luna tak pernah ber-ekspresi emosional, seolah ia tahu bahwa hanya ada dia di hatiku. Tanganku sering digenggamnya tatkala matanya menumbuk mataku. Seolah ia ingin memberi kesadaran buatku bahwa mengkespresikan musik, apapun dampaknya, bukanlah tindakan yang jahat.
Ketiga tur kita terakhir, aku rasa kita mendapat apresiasi yang lebih baik dari mereka-mereka yang kukenal secara personal, dan sebagai penggemar musik-musik kita, aku masih tak bisa mengatasi rasa frustasi, rasa bersalah dan empati untuk semua orang. Mungkin aku terlalu mencintai orang lain, terlalu mencintai sampai-sampai rasa itu membuatku selalu bersedih, Kesedihan, kepekaan, ketakberhargaan, ya Allah, entah mengapa aku tak bisa menikmati semua itu! Aku tak tahu!
Ketika Sofia hadir sebagai buah cintaku dan Luna, semua bahkan menjadi semakin kacau. Luna selalu mengatakan padaku bahwa yang kubutuhkan hanya arus glukosa untuk otak dan sedikit kafein berkombinasi dengan sedikit nikotin untuk mempertahankan irama agar aku tetap bisa berkarya. Dalam beberapa hal itu benar, tapi kehadiran Sofia membuat banyak hal berubah. Sofia kecil mengingatkan diriku ketika masih seusianya. Seorang yang diam, melihat, dan merasakan.
…dan seorang bidadari yang menjadi isteriku, yang ambisius namun selalu penuh empati, dan puteri sematawayangku yang selalu mengingatkanku akan cinta dan kebahagiaan, ia selalu mencium tangan semua orang yang ditemuinya karena baginya semua orang itu baik dan tak akan menyakitinya. Dan semua itu membuatku ketakutan hingga pada satu titik di mana otakku tak bisa bekerja. Aku tak tahan dengan mimpi buruk Sofia yang menderita, sakit, bahkan mengikuti jejakku sebagai musisi rocker seperti aku.
Kebencianku pada dunia mungkin merupakan harmoni rasa cintaku pada manusia. Aku ingat sore itu kala berjalan-jalan di tengah kota dan tiba-tiba Luna menciumku di tengah banyak orang. Aku kaget dan aku yakin orang-orang di yang lalu-lalang di sana juga demikian. Tapi kehangatan sore itu sungguh membuatku melayang jauh.
Semua baik-baik saja bagiku, dan aku sangat mensyukuri hal ini, tetapi semenjak usiaku baru tujuh tahun, aku sudah dirundung rasa benci pada semua orang. Aku membenci karena mungkin aku terlalu mudah merasa empati pada orang lain, aku terlalu menyayangi orang lain, mungkin…
Aku tak tahu mengapa sebelum semua ini kulakukan aku merasa perlu menulis surat ini. Ini pastilah pengaruh Luna yang senantiasa menyadarkanku bahwa aku tak sendirian. Aku yakin surat ini akan dilihat sebagai surat seorang musisi yang putus asa pada dunia bagi para fans-nya. Surat ini tak perlu kutujukan untuk Luna, karena aku yakin bahwa ia tahu bahwa surat ini juga berasal dari dirinya yang merupakan bagian dari diriku. Tanpa Luna yang setiap hari mencandai kegilaan-kegilaanku, surat ini tentu tak pernah perlu ada.
Terima kasih dari lubuk hatiku yang paling dalam untuk semua surat yang kuterima dari kalian selama ini. Aku merasa tak menentu, sayangku! Aku tak punya keinginan apa-apa lagi, dan ingatlah, lebih baik terbakar dan habis daripada hilang lenyap perlahan-lahan.
Cinta dan empati selamanya untukmu…
Iwan
Bunyi terakhir yang ber-resonansi dengan gendang telingaku adalah: “klik!”. Setelah itu semua hilang. Aku telah tak punya darah yang mengalir menderu lagi, aku telah tak punya saraf yang membawa informasi elektrik lagi, aku tak punya apa-apa selain ketiadaan yang abadi. Sebuah rasa sepi ketika rasa terlalu panas adalah sama dengan rasa terlalu dingin, dan cahaya yang terlalu terang memberi efek yang sama dengan yang terlalu gelap…
Luna dan Sofia, aku akan selalu berada di sana…
Tetap maju terus, Luna… demi Sofia!
Demi hidupnya yang akan jauh lebih menyenangkan tanpa kehadiranku.
Aku menyayangimu! Selalu!
Pelan-pelan kubuka surat itu. Pelan-pelan kubaca isinya. Air asin mengandung garam dari mataku menitik di atasnya. Aku tahu aku tak akan bisa bertemu dengannya lagi. Aku tahu bahwa saat ini dia adalah orang yang tepat. Aku tahu, dan pengetahuan sepertinya sering datang terlambat. Pengetahuan erat terkait dengan penyesalan, karena ketidaktahuan dan kebodohan adalah sumber dari segala sumber penyesalan. Pengetahuan itu suci, karena kebenaran itu abadi; biarpun hanya sebuah kebenaran kecil dalam rintik kehidupan sehari-hari yang tersepele sekalipun. Satu lembar panjang surat itu. Kubaca lamat-lamat. Aku ingin menikmati semua titik tinta yang memunculkan huruf, kata, dan kalimat di dalamnya. Aku tahu kini ketersiksaanmu dengan hanya melihat goyahnya pena ketika huruf-huruf yang kau tulis jauh dari teratur. Kubaca surat itu…
No Comments »
Posted by: quicchote in prose
Bis yang kami tumpangi akhirnya berhenti di kawasan paling utara negeri ini. Semenjak kepergian ibu dari anakku satu-satunya, aku hanya memiliki satu alasan untuk hidup, Maria. Bis meninggalkan kami di pinggiran jalan, dan kami harus menempuh perjalanan kaki melintasi padang yang menguning ditambah efek petang yang mulai mereda. Angin menderu kencang. Sekonyong-konyong, putri semata wayangku ini bergumam…
“Ayah tidak takut dengan hantu?”
“…hantu hanya ada di pikiranmu!”
“…berarti ayah tidak punya perasaan takut?”, kami terus berjalan.
“ha..ha..ha.., tentu ada, Sayang! Mana ada manusia yang tak punya perasaan takut!”
“…tapi kalaupun kamu bertemu dengan hantu, ia hanya jadi halusinasi dan menggambarkan apa yang mendorong rasa takutmu saja”
Aku melanjutkan sambil mulai mengambil langkah-langkah panjang karena kami sudah mulai memasuki hutan, “…sudah seratus lima puluh ribu tahun manusia hidup, hantu-hantu selalu menyertainya dalam cerita, gambar, bahkan lagu. Tetapi hingga hari ini kita tak pernah menemukan teori tentang hantu…”
Kami berjalan tanpa bicara, hingga Maria yang mungkin asyik dengan pikirannya dengan ucapanku sebelumnya, bertanya lagi,
“Lantas mengapa kita harus sembahyang?”
“Memangnya kenapa?”
“Kalau hantu hanya ada dalam pikiran, maka Tuhan juga hanya ada dalam pikiran ‘kan?”
“Maria, tidak ada hal yang kau lihat, pegang, sentuh, cium, dan rasakan yang bukan merupakan bagian dari pikiran…”
“…senyata-nyata kau pegang tanganku saat ini, sedemikian pula nyata-nyatanya adanya Kekuatan Pencipta tanganku ini…”
“…berarti hantu juga nyata, dong?!!”, mukanya cemberut entah karena bingung atau protes.
“…Ya, ia nyata bagi mereka yang dirundung rasa takut dan dipenuhi rasa berdosa.”
“Apa yang nyata adalah apa yang kita petakan dari pikiran dan apa yang kita anggap sebagai kenyataan…”
Matahari mulai tenggelam. Maria duduk beristirahat, sementara aku mulai memasang tenda, mengumpulkan kayu untuk membuat api, dan mengeluarkan beberapa daging kaleng dari ransel yang kubawa. 
“…Ayah, apa yang terjadi jika kita mati?”
Aku tersenyum melihat wajah Maria.
“…kita menjadi bebas! Kematian itu menarik hidup kita ke sebuah titik, mungkin sama seperti gravitasi yang menarik batu untuk kembali ke tanah sekuat apapun kita lempar…” Aku lempar sebuah batu ke atas, dan batu itu jatuh lagi ke tanah. Maria tersenyum… tapi hanya sebentar, ia bergumam lagi…
“…tapi kenapa kita takut sekali mati?”
“…ah, siapa yang takut mati, Maria?”
“…memang ayah tak takut mati? …eee…kita selalu berbelasungkawa jika ada orang yang mati…”
Lagi-lagi aku tersenyum.
“…manusia takut mati karena ia tak tahu apapun tentang kematian itu… padahal secara logis kematian itu adalah puncak dari kenikmatan ketika jiwa terbebas dari kungkungan tubuh…”
Maria protes, ia berdiri dan berkacak pinggang…
“…Bu Lusi mengatakan mati itu menyakitkan… kematian itu lebih sakit daripada apapun rasa sakit yang bisa kita rasakan!”
“…aha, Maria! Kita selalu merasa sakit, karena tubuh kita sakit. Kita merasa dingin, karena tubuh kita merasa suhu yang lebih rendah. Kita merasa lapar, karena kadar gula dalam darah di tubuh kita rendah… Kita merasa sakit atau nikmat itu karena tubuh. Sekarang bayangkan… ketika mati, jiwa kita terlepas dari semua perasaan-perasaan badani itu. Bukankah kita menjadi merasa bebas?”
Aku menyalakan api unggun, dan mulai membuka kaleng berisi daging bekal, bersiap untuk makan malam. Kulihat kening Maria mengernyit.
“…ayah, kita takut mati karena kita tak tahu apa-apa tentang kematian itu?”
“….yup! Ketidaktahuan adalah hal yang paling menyakitkan dan sumber dari segala ketakutan dalam hidup. Pengetahuan adalah api dari kehidupan dan yang memberikan kedamaian dan rasa kenyang yang abadi…”
“…itu makanya kamu tidak boleh berhenti untuk mencari tahu, belajar, bertanya…. Itu membuat hidupmu menjadi benar-benar hidup. Kebodohan adalah sumber penyakit dan rasa takut!”, aku tertawa kucolek hidungnya yang kembang-kempis kedinginan.
Makanan hampir matang, roti bagel mulai kubuka dari bungkus plastiknya. Aku melihat kernyitan di dahi Maria belum hilang…
“…itu sebabnya, Tuhan itu kita nyatakan sebagai sumber pengetahuan utama, Maria! Ia adalah puncak pengetahuan, karena dengan kematian, jiwa menjadi mungkin bertemu dengan khaliknya, dan dengan kematian kita menjadi tahu sebuah hal yang tak mungkin kita ketahui selama hidup…. yaitu kematian itu sendiri. Hanya dengan mengalami sendiri kematian itu, maka keingintahuan kita tentang kematian pun terjawab… ”
Mata Maria membelalak… “…wow!”
***
Pagi-pagi keesokannya kami mulai masuk ke salah satu gua yang paling besar yang tercatat sebagai salah satu gua tempat satu peradaban kuno pernah tinggal di sini. Maria bermain-main dengan batu-batu stalaktit tak jauh dariku. Gua ini sangat gelap, dan kami hanya dibimbing oleh sinar lampu petromaksku. Gua yang sangat berdebu ini membuat nafasku sesak juga.
“…ayah bilang dulu pernah ada orang tinggal di gua ini?”
“Ya, Maria…setidaknya itu catatan sejarah yang ada di jurnal ilmiah ini…”
“…dan ayah mencari tahu tentang kehidupan masyarakat nenek moyang ini, agar ayah menemukan ketenangan dalam hidup. Mengetahui asal-usul adalah sesuatu yang penting untuk memberi kedamaian dalam hidup!” Aku terhenyak. Aku lihat kalimat itu keluar dari mulutnya yang polos. Ia masih terpikir oleh diskusi kemarin malam, pikirku. Aku tersenyum pada malaikat yang terjebak dalam tubuh putriku yang belum lagi akil balik ini…
“…iya, Sayang! Mencari pengetahuan dan membongkar ketidaktahuan adalah tugas hakiki spesies kita, homo sapiens, oleh karena kita dibekali dengan akal budi!”
Kuasku tiba-tiba terhenti, ketika Maria yang dari tadi melompat-lompat gembira tiba-tiba dengan polosnya berujar…
“…aha… mereka berburu bison, Ayah…”
“…apa?”
“…ya… mereka memelihara bison, ini tentu mereka yang menggambar ‘kan?”, tangannya yang mungil menunjuk ke langit-langit gua.
Aku sangat kaget. Aku melompat, kupeluk Maria. Ya ampun, ia telah menemukan apa yang kucari-cari selama ini. Sebuah lukisan mahakarya yang berusia 19.000 tahun terkuak oleh kepolosan seorang gadis kecil putri kesayanganku, dan malaikatku!
Maria kaget, seolah heran mengapa aku begitu terkejut. “…memangnya ayah dari tadi tak melihat lukisan itu?”
Keesokannya pagi-pagi benar kami terburu-buru naik bus pertama ke ibukota. Di sana kutemui, Rodenita, pengajar di jurusan arkeologi yang juga sahabatku. Tak henti-hentinya aku menyebut bahwa Maria adalah orang pertama yang melihat lukisan yang luar biasa indah dan detail itu.
Beberapa kali kami akhirnya kami ke gua itu, dan luar biasa memang. Lukisan 19.000 tahun, dan gambarnya telah sangat naturalistik. Rapi besar, dan ini merupakan lukisan raksasa. Ini sebuah mahakarya. Ah, tanpa Maria aku tak akan menemukan bukti sejarah luar biasa ini!
****
Sekarang aku dan Maria berada dalam bus lagi, tapi sekarang bukan ke hutan. Aku ingin menunjukkannya bagaimana para ahli dan ilmuwan berkumpul dalam sebuah konferensi ilmiah. Gambar-gambar replika lukisan tua temuan Maria itu kupresentasikan, dan Maria duduk di sana. Terlihat matanya berbinar-binar, ketika dengan bumbu humor kusebut namanya di podium. Aku bangga sekali padanya, dan aku tahu, bahwa sekarang ia menyadari pentingnya arti pengetahuan.
Namun presentasiku di konferensi internasional itu tak berjalan mulus. Belum lagi aku selesai, beberapa profesor mulai memberikan serangan yang sangat memilukan hati.
Uraian profesor Gabriel, seorang arkeolog terkemuka dari Perancis, yang bahkan kukagumi karya-karyanya, memberikan banyak poin-poin kuat yang mematahkan argumenku bahwa ini adalah peninggalan berusia 190 abad. Uraiannya sungguh rapi karena ia sendiri memang telah lama melakukan penelitian serupa. Semua bertepuk tangan padanya. Aku sendiri hampir saja ikut berdiri dan menunjukkan rasa kagumku pada banyak argumentasinya. Sungguh, aku orang yang percaya pada sains dan kemampuan logika dalam memahami alam, dan memang dalam sains argumentasi yang satu dapat dengan mudah mematahkan argumentasi atau dugaan lain. Aku pernah menceritakan hal ini juga pada Maria.
Hingga Profesor Gabriel menutup dengan mengatakan, “…jadi… temuan ini tak mungkin adalah temuan dan lukisan purba!”, aku tak mempermasalahkannya. Yang membuatku gemetar adalah kalimat-kalimatnya berikut…
“…sungguh disayangkan kita mesti tertipu dengan mendengarkan penipuan di konferensi sekelas pertemuan kita ini. Melihat latar belakang ke-amatir-an rekan kita ini, saya justru ingin menunjukkan bahwa sangat mungkin lukisan ini adalah lukisan yang bersangkutan sendiri, untuk merebut perhatian ilmuwan seperti kita”
Tak berhenti sampai di situ, ia masih melanjutkan…
“…ini adalah pemalsuan fakta dan sungguh memalukan bukan buat yang melaporkan, tapi bagi kita ilmuwan yang merepresentasikan arkeolog dari seluruh dunia!”, dan Profesor yang tadinya kukagumi itu menutup dengan, “….dan sekarang saya mengusulkan pada forum ini, bahwa tugas untuk menyelidiki siapa pelukis sebenarnya lukisan gua ini bukanlah kita, para arkeolog, tapi menjadi tugas pihak kepolisian…. Ini adalah tindakan kriminal seorang amatir yang merusak tatanan ilmu pengetahuan!”
Aku lemas. Aku masih melihat wajah kaget Maria. Aku dipaksa turun dari panggung presentasi. Kudekati Maria, kupegang tangannya, dan kami keluar dari ruangan itu dengan gerutu caci maki yang aku tak tahu, bagaimana Maria melihat semua ini…
****
Aku masih terkenang. Itu kejadian empat belas tahun yang lalu. Semenjak itu, oleh prakarsa paman aku dimasukkan ke asrama putri. Ayah tak diizinkan mendidikku belajar di rumah dan melarang aku ikut setiap kali ayah mau meneliti ke luar kota lagi. Aku harus bersekolah seperti anak-anak normal lainnya. Ayah menjadi sangat pendiam hingga saat itu, hingga akhirnya ia menemukan kebebasan jiwanya dari tubuhnya. Ayah telah tiada dan kini aku duduk dengan menggenggam Jurnal Antropologi terbaru yang dalamnya terdapat artikel berjudul “Mea culpa d’une sceptique“.
Ayahku adalah seorang pencinta sains. Ia adalah pendekar pengetahuan meski bukan orang yang hebat dengan retorika, sebuah kemampuan yang dimiliki oleh mereka yang mengaku dirinya akademisi. Akademisi yang pintar mengolah kata namun kebanyakan tak memiliki cita rasa pengetahuan dan kecintaan pada usaha mencari pengetahuan. Akademisi yang masih takut mati, takut hantu, takut dan takut… yang lupa bahwa sumber dari segala ketakutan adalah ketidaktahuan. Ayahku adalah penemu pertama lukisan prasejarah yang pernah dikenal di peradaban dunia. Ayahku yang kutahu sangat mencintaiku, yang mungkin berusaha membuatku mencintai pengetahuan karena cinta pada ilmu pengetahuan adalah bentuk kecintaan pada Sang Khalik.
Ayahku yang mengajari esensi dasar dari hidup. Ilmu pengetahuan mungkin bukan tempat kita menemukan kebenaran yang hakiki, namun adalah jelas bahwa sains adalah satu-satunya tempat kita bisa menemukan kejujuran yang sebenar-benarnya.
Diamnya ayah semenjak konferensi itu mungkin melunturkan keyakinannya sendiri akan masyarakat akademia dan sains. Mungkin ayah merasa gagal menunjukkan padaku yang waktu itu masih sangat muda tentang hal ini. Tapi, aku tahu jiwanya saat ini telah bebas, dan ia telah lama tahu akan kebenaran apa yang baru kubaca di jurnal ilmiah ini.
Ayahku akan selalu membuatku bangga dan paham akan hidup dan pentingnya pengetahuan. Ayahku Marcelino Sanz de Sautuola. Ilmu pengetahuan dan kejujuran itu senantiasa berbicara pada umat manusia, bukan hanya pada satu generasi saja, tapi pada umat manusia dari semua generasi. Beristirahatlah dengan tenang, Ayah…
Madrid, Juni 1902.
Bandung, Oct 18th 2008
No Comments »
Posted by: quicchote in prose
Mestinya kota ini adalah kota yang cukup panas, tapi entah mengapa, ketika aku berdiri di sini semilir angin terasa begitu dingin dan sejuk. Di depanku tegak berdiri nisanmu, setegak namamu yang membebaskan, Liberty. Kau adalah kekokohan dan kekukuhan sikap. Kau mungkin merasa bahwa waktu yang tak memperbolehkan kita berdua menjalani hidup bersama, adalah semata-mata kesalahanmu sebagaimana kau tulis dalam surat yang baru bisa kubaca setelah kita menjadi renta dan tua. Bahkan setelah ajal menjemputmu, aku baru sadar bahwa justru kerinduan akan kebebasan dan kekukuhan sikap yang terbungkus dan terlihat oleh orang lain sebagai bentuk yang terlalu pemalu, merupakan tanda bagiku, bahwa kau adalah orang yang benar-benar layak untuk dicintai, disayangi, dan terlalu mulia untuk dimiliki… Read the rest of this entry »
No Comments »
Posted by: quicchote in prose
Entah mengapa, semenjak Fauzan mengumumkan bahwa ia telah jadian dengan Melani di pesta ulang tahun Reni kemarin dulu, aku sering berjalan-jalan tak keruan kesana-kemari di kota yang semestinya telah membuatku bosan karena telah kutinggali semenjak lahir. Sekolah menjadi sebuah rutinitas yang sangat membosankan bagiku. Mungkin tak ada teman yang menyangka hal ini, karena aku sebenarnya dikenal sebagai favorit berprestasi di kalangan guru dan teman. Tapi sungguh, aku tak sanggup. Cinta ini terpendam begitu lama pada Fauzan. Ia terpendam, tak pernah diketahui siapapun kecuali oleh tatapan mataku dengan Fauzan beberapa kali setiap kali kami berpapasan. Jantungku selalu berdegup kencang setiap kali aku berada dalam radius dua meter dari dirinya. Tapi aku tak bisa mengungkapkan perasaan ini padanya. Pandangan mata yang beradu dan diakhiri dengan saling mempersembahkan senyum telah sangat membuatku mengerti dan aku juga berharap ia… Read the rest of this entry »
No Comments »
Posted by: quicchote in prose

Aku berdiri di dekat mata air itu. Ya, aku berada di sebuah tempat yang mestinya terkenal tapi sungguh, tempat ini sangat sepi padahal petang belum juga turun. Aku berada di tempat ketika Ical dan aku sering bercengkerama di sini. Ical yang membawaku ke tempat ini. Ia menuntunku agar aku tidak memandang dunia sedangkal yang semestinya. Bahwa eksotisme kuno dan tradisional bisa jadi adalah jawaban kebuntuan akan inovasi dari ekonomi pasar yang mengglobal seperti yang terasa hari ini. Ical telah mengubah bagaimana aku mestinya memandang dunia. Aku lahir, dibesarkan, dan bersekolah di desa kecil tak jauh dari tempat aku berdiri saat ini. Desa di mana tempat paling kota adalah Sukabumi, sebuah tempat ramai di mana ibu biasa mendandani aku agar wajahku tak terlalu kampung saat menemani ayah menjualkan hasil panen teh kami. Duniaku adalah dunia yang jauh dari hiruk pikuk kota, yang bosan dengan senyapnya desa. Cara pandangku adalah dunia yang jauh dari keramaian bioksop 21 apalagi dunia maya Google, yang terkadang muak dengan suara penyiar radio yang tak bosan-bosan memutar dendang Sunda atau dangdut. Horizonku adalah dunia yang rindu dengan manisnya boneka Barbie dan lezatnya Pizza Hut, yang muak dengan kuliah ibu tentang rajutan sambil mengunyah ikan peda atau peyeum yang itu pun terkadang sudah dianggap makanan mewah. Aku tersenyum mengingat wajah lucu Ical ketika aku menceritakan semua itu. Read the rest of this entry »
1 Comment »
|